UCAN Indonesia Catholic Church News
In Season and Out, Homilies for Year A

Dampak globalisasi pada perkembangan Gereja

06/12/2012

Dampak globalisasi pada perkembangan Gereja thumbnail

Pastor Mick Kelly SJ

 

Gereja Katolik Roma adalah denominasi Kristen terbesar, dengan lebih dari satu miliar anggota di seluruh dunia. Ritus Latin yang ia miliki (ada beberapa yang lain) menjadi satu-satunya ritus Kristen yang terorganisir dan meluas di luar Eropa.

Akan tetapi globalisasi ini tergolong masih baru. Ya, ada misionaris Fransiskan bersama Marco Polo dalam perjalanannya ke Cina pada abad ke-13. Dan pada fase awal penjajahan Spanyol dan Portugis di Afrika, Asia dan Amerika Latin, para pedagang, pemburu harta karun dan tentara juga membawa serta para pastor.

Para Fransiskan dan Yesuit yang bekerja di benua-benua tersebut berada di bawah naungan raja-raja Spanyol, Portugal dan Perancis ketimbang Paus. Terlihat oleh sebagian besar penduduk setempat sebagai agen dari kekuatan kolonial, pengaruh mereka terbatas meskipun, seperti di Amerika Latin, mereka membaptis banyak orang.

Faktanya, upaya-upaya yang berani dan sering beragam seperti yang dilakukan Matteo Ricci di Cina, Peter Claver di Brazil dan Roberto di Nobili di India pengaruh dan jangkauannya kecil.

Baru pada abad ke-19 dan ke-20 puluhan ribu misionaris Eropa dan Amerika bisa pergi ke mana saja selagi kekuasaan kolonial memungkinkan mereka masuk. Ekspansi misionaris ini dipuji dan didorong dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh Paus Pius IX yang memimpin selama 41 tahun (1846-1878), masa kepausan terpanjang dalam sejarah.

Ironisnya, sementara ia fokus pada misi luar Eropa, Paus Pius sangat tertutup untuk hal-hal yang terjadi di Eropa, hal-hal yang kita dan otoritas Gereja anggap remeh saat ini sebagai dampak dari revolusi ilmu pengatahuan dan revolusi industri, serta munculnya demokrasi dan liberalisme politik.

Hampir sama dengan gangguan yang menjadi tantangan Eropa, fokus di luar Eropa, yang ditandai oleh kongregasi misionaris baru, menjadi sangat produktif bagi pertumbuhan Gereja.

Namun, Vatikan yang tiba di abad ke-20 jelas sekali tidak siap untuk perubahan intelektual, politik dan budaya yang membentuk Eropa dan dunia luar. Ketidakmampuan itu menentukan banyak hal yang dibahas dan diputuskan pada konsili Vatikan II.

Satu hal yang tidak berubah adalah ketahanan hidup (keberlangsungan) Vatikan sebagai monarki absolut Eropa yang terkahir.

Kini di abad ke-21, Vatikan memiliki lebih banyak masalah daripada jawaban seiring dengan perjuangannya untuk mempertahankan kontrol dari pusat atas Gereja yang tersebar di seluruh dunia, yang semakin demokratis dan pluralis. Kepausan tidak memiliki saluran komunikasi dua arah dan sarana informasi yang membuatnya bisa melihat dengan lebih baik dalam waktu dekat. Dan dari apa yang telah kita pelajari dari dokumen Vatileaks, struktur administrasinya sudah atau akan segera meledak.

Tidak ada dalam kitab suci atau tradisi yang mewajibkan untuk mempertahankan sebuah struktur administrasi Katolik yang dalam bentuknya saat ini tidak lebih dari dua abad.

Apa yang harus dilakukan? Mungkin konsekuensi yang tidak diinginkan dari ekspansi misionaris besar-besaran dari Gereja Katolik Roma di seluruh dunia di bawah pengaruh Vatikan menjadi petunjuk untuk masa depan Gereja.

Pluralisme, beragam budaya, status minoritas (terutama di Asia), penggunaan bahasa lain selain Italia dan peningkatan pengakuan hak asasi manusia yang demokratis berpotensi besar bagi Gereja untuk kandas dalam Kekristenan Eropa yang mati.

Mengekspresikan iman dalam Yesus Kristus dalam tradisi Katolik sangat berbeda bila dilakukan di Cina atau Indonesia.

Bisakah tempat yang dulunya obyek misi Eropa mengajarkan kepada Gereja Universal tentang cara menghadapi tantangannya? Akankah suara mereka didengar?

Belum ada tanda-tanda bahwa mereka akan didengarkan, dan jika segala sesuatu tetap seperti saat ini, kita bisa yakin akan satu hal: ledakan itu akan terus berlanjut.

Pastor  Mick Kelly SJ adalah Direktur Eksekutif  ucanews.com

Sumber: Globalization’s consequences

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Keluarga Muslim cenderung memasukkan anak di sekolah Katolik
  2. Umat ​​Katolik di Tiongkok melakukan diskriminasi terhadap ODHA
  3. Pemimpin Gereja bersuara terkait bahaya meningkatnya kasus HIV
  4. Cagub DKI Jakarta sampaikan visi-misi kepada masyarakat Katolik
  5. “Kita Indonesia” serukan kebhinnekaan bangsa
  6. Renungan Hari Minggu Adven II/A bersama Pastor Bill Grimm
  7. Doa Perdamaian untuk Indonesia di Fatima
  8. Para uskup Jepang ingin tenaga nuklir dihapuskan di seluruh dunia
  9. Situs Santo Fransiskus Xaverius di Tiongkok akan masuk dalam warisan dunia
  10. Kasih sayang dorong seorang biarawati tidak takut melayani ODHA
  1. ternyata banyak pengikutnya tidak menemukan ketenangan batin.. tidak ada jaminan...
    Said Jenny Marisa on 2016-11-30 10:02:53
  2. i Like,..it,.....
    Said Damianus Ahen on 2016-11-28 11:09:07
  3. Dimana toleransi beragama yg selalu di dengung dengungkan,,,...
    Said kamboti marassan salatiga on 2016-11-27 21:01:42
  4. Ada upaya uskup dan menteri yang Katolik.. ini cukup menjelaskan... Semoga napi ...
    Said Jenny Marisa on 2016-11-23 10:02:16
  5. Terima kasih Pak Benyamin....
    Said cnindonewsletter on 2016-11-22 16:34:32
  6. Terima kasih. Saya senang dengan UCAN INDONESIA. syallom benyamin...
    Said Benyamin Mali on 2016-11-21 16:53:07
  7. PERSEKUTUAN REMAJA JEMAAT ELIM PETRA PAMONA GEREJA KRISTEN SULAWESI TENGAH (GKS...
    Said aswankodina on 2016-11-21 10:53:01
  8. semoga tidak hujan besok......
    Said Jenny Marisa on 2016-11-18 23:25:12
  9. Benar2 capek deh membaca tentang Islam yang berniat menghabisi kaum Kristen.. Mu...
    Said Jenny Marisa on 2016-11-18 09:53:01
  10. Nyalakan lilin untuk unjuk simpati.. dan mengobati rasa duka dan sedih.. Jauh le...
    Said Jenny Marisa on 2016-11-17 10:02:56
UCAN India Books Online