Para pemuka agama diminta pahami akar gangguan kerukunan

06/12/2012

Para pemuka agama diminta pahami akar gangguan kerukunan thumbnail

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Slamet Effendi Yusuf, Ketua Matakin Budi Tanuwibowo, Sekjen KWI Mgr Johannes Maria Pujasumarta bersama tokoh lintas agama lain hadiri kongres nasional tokoh agama tahun 2010 di Jakarta

 

Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar berharap para tokoh agama dapat memahami akar permasalahan yang mengakibatkan kerukunan umat terganggu.

Melalui kongres kongres tokoh agama ini diharapkan akar permasalahan yang mengakibatkan kerukunan umat terganggu bisa dicarikan metode pemecahannya, kata Wamenag dalam sambutannya saat membuka Kongres Nasional Tokoh Agama IV, di Jakarta, Rabu (5/12) malam.

Hadir dalam acara itu, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama Achmad Gunaryo, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Slamet Effendi Yusuf, Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia Romo Antonius Benny Susetyo dan para tokoh agama lainnya.

“Para pemimpin dan tokoh agama perlu mempertajam daya analisis, dan metode pemecah masalah kerukunan umat beragama yang semakin kompleks,” tutur Nasaruddin kepada para tokoh lintas agama dari seluruh tanah air.

Kemerosotan wibawa, kata Nasaruddin, kekerasan yang terjadi di lingkungan umat beragama yang mengakibatkan merosotnya wibawa agama adalah tantangan bagi masing-masing pimpinan dan tokoh agama.

“Wujud kekerasan menunjukkan, bahwa para pemimpin dan tokoh agama kurang dapat menyelami dan memimpin umatnya dengan baik. Karena itu kita harus sering-sering turun ke bawah menangkap dan memahami aspirasi umat pada level akar rumput,” kata Nasaruddin.

Ia mengatakan, dalam berbagai kasus yang terjadi, seringkali konflik dan gesekan bahkan anarkis bukanlah murni perbedaan keyakinan, aliran atau paham keagamaan melainkan dilatarbelakangi oleh persoalan lain yang merembet kepada isu agama.

“Kita semua menyadari, bahwa kerukunan umat beragama adalah wujud sistem nilai toleransi yang dianut masyarakat,” katanya.

“Karena itu, secara pribadi saya menengarai adanya pengaruh kultural asing pada kecenderungan radikalisme akhir-akhir ini di tanah air yang bertentangan dengan Pancasila, dan menodai ajaran agama itu sendiri,” tambah Nasaruddin.

Kepala PKUB Pusat Achmad Gunaryo dalam laporannya mengatakan, kongres ini akan berlangsung dari 5-7 Desember 2012. Penyelenggaraan kongres ini dilatarbelakangi keinginan agar tokoh agama dapat berperan aktif, tidak hanya pada pembangunan umat masing-masing. Namun juga berorientasi pada persoalan yang lebih luas, termasuk berbagai kerjasama dan pemberdayaan umat beragama dalam dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Ditambahkannya, kongres ini akan menghadirkan nara sumber sejumlah tokoh agama, Ketua MUI KH Ma’ruf Amin, Ketua PGI Pendeta Andreas A Yewangoe, Ketua Presidium KWI Mgr Ignatius Suharyo, dan lainnya. (kemenag.or.id)

 

One Comment on "Para pemuka agama diminta pahami akar gangguan kerukunan"

  1. Anonymous on Thu, 6th Dec 2012 11:58 pm 

    Pernyataan Wamenag lebih cocok jika di Indonesia tidak ada yang namanya Kementerian Agama. Pemerintah melalui Kemenag mestinya berperan lebih dalam upaya-upaya yang disebutkan itu. Bukan: begitu ada masalah- pemimpin/tokoh agama yang disalahkan atau harus menanggung kesalahannya. Kalau tidak ada masalah- pemerintah yang berhasil.




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Ulang tahun ke-60, Kardinal Tagle berbicara tentang kemunafikan
  2. Menciptakan peradaban cinta di Keuskupan Agung Semarang
  3. Muslim Indonesia mengecam serangan militan di Marawi
  4. Umat ​​Katolik Laos siap mengikuti AYD di Yogyakarta
  5. Tidak ada perdamaian di Kashmir, bahkan selama Ramadan
  6. Kardinal Quevedo mengaitkan konflik dengan kemiskinan
  7. HRW tuduh polisi Filipina memalsukan data ‘pembunuhan perang narkoba’
  8. Gereja dan LSM di NTT membantu orang dengan HIV
  9. Uskup Macau bertemu dengan uskup China yang tidak diakui Vatikan
  10. Biarawati China mogok makan menuntut kompensasi setelah tarekat dibubarkan
  1. Memang perang itu lebih membuat susah perempuan dan anak-anak. Tapi menghadapi p...
    Said Matheus Krivo on 2017-06-17 07:15:48
  2. kehidupan problema kehidupan, diera kini jauh berbeda dari era sebelumnya. sehin...
    Said Antera Jaya on 2017-06-14 23:40:08
  3. Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positi...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 13:41:55
  4. Terimakasih Bapak Paus Fransiskus, yang selalu menghidupkan kembali pesan Firman...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 07:58:40
  5. maksud saya sulit membedakan.. dst....
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:22:59
  6. Agak (kadang sangat)membedakan mana Muslim yang asli dan mana yang masuk teroris...
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:21:57
  7. Kata gubernur dan masyarakat muslim di Marawi mengungkapkan kebenaran hakiki bah...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-08 13:49:07
  8. Gereja sudah betul mengeluarkan surat gembala untuk umat, namun maaf penyakit ko...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-06 14:25:46
  9. Informasi tentang pulau Buru sangat membantu untuk memahami keadaan masyarakat d...
    Said DR. Bele Antonius, M.Si. on 2017-06-02 06:30:56
  10. Dalam sejarah dunia, bangsa penjajah yang pernah menjajah banyak negara adalah R...
    Said ROTE on 2017-06-02 01:05:49
UCAN India Books Online