UCAN Indonesia Catholic Church News
ENRICH YOUR SPIRITUAL LIFE

Kenakalan remaja tak semata ajaran agama kurang

10/12/2012

Kenakalan remaja tak semata ajaran agama kurang thumbnail

Ilustrasi

 

Aksi kekerasan yang dilakukan pelajar dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

Ada banyak wacana untuk mengatasi persoalan itu, salah satunya menambah jam pelajaran agama, pendidikan pancasila, dan budi pekerti. Tawuran selama ini masih diidentikkan dengan persoalan moral yang buruk.

Namun, hal itu dianggap psikolog sebagai jalan keluar yang kurang tepat. Psikolog dari Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono mengatakan, sejauh ini tidak pernah ada bukti empiris yang menyebutkan kemampuan baca-tulis Alquran menjamin moral seseorang.

“Faktanya, meski Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, untuk urusan korupsi, negara ini masih berada di urutan atas,” kata Sarlito saat ditemui dalam diskusi publik yang diadakan oleh Maarif Institute bertema “Remaja dan Fenomena Kekerasan: Pelaku ataukah Korban?” di Jakarta, belum lama ini.

Dia menilai, orang terlalu menggampangkan dan menyederhanakan sebuah masalah, meskipun sudut pandang kurang tepat. Salah satu contohnya adalah keputusan orang tua memasukkan anaknya ke pesantren. Keputusan seperti itu jamak dilakukan karena untuk mengubah perilaku sang anak yang nakal menjadi baik.

Padahal dengan memasukkan ke pesantren, anak itu justru akan merasa dibuang. Itu karena pada prinsipnya, kenakalan yang dilakukan anak-anak adalah sebuah usaha untuk mencari perhatian dari orang-orang yang lebih tua dari mereka.

Sarlito menambahkan, sistem pendidikan saat ini telah menciptakan sekolah model pabrik. Ujian Nasional (UN) telah menyamaratakan anak-anak dengan kemampuan yang berbeda-beda. Sistem ini telah membebani anak yang tak jarang berujung pada stres.

Para tenaga pengajar sebaiknya tidak hanya bisa bicara kepada para muridnya, tetapi juga bisa memberi contoh dan nilai-nilai yang konkret. Selain itu, para pelajar sebaiknya diberikan tugas untuk melakukan observasi lapangan.

Setelah itu, hasil observasi langsung didiskusikan dan dikaitkan dengan nilai-nilai agama dan kebangsaan. “Para murid jangan hanya disuruh menghapal, tapi juga ada kegiatan yang bertujuan mengimplementasikan apa yang sudah mereka pelajari. Contoh yang paling mudah adalah para guru tidak boleh merokok, bila murid-muridnya juga dilarang merokok,” ucapnya.

Di negara-negara maju, pelajaran wajib di sekolah hanya empat. Situasi itu setidaknya diterapkan di Amerika, di mana pelajaran wajib yang didapat hanyalah pelajaran Sejarah, Bahasa Inggris, Matematika, dan Science. Sisanya para siswa dibebaskan memilih sesuai bakat dan minatnya masing-masing.

“Tapi, di Indonesia kan tidak seperti itu. Selain mata pelajarannya banyak, sudah cukup lama ada labeling bahwa anak berprestasi adalah bila berhasil masuk jurusan IPA; selain itu adalah kelompok ‘kelas dua’. Apalagi untuk anak-anak yang tidak sekolah. Padahal faktanya, banyak orang yang tidak sekolah, tapi mereka bisa sukses,” kata Sarlito menjelaskan.

Sementara itu Danik Eka Rahmaningtiyas, mantan Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah menyatakan, tawuran pelajar umumnya dilatarbelakangi oleh kepenatan siswa terhadap pelajaran dan sistem pendidikan yang cenderung “mengurung” pelajar dengan berbagai kewajiban.

Dia pernah melakukan survei tentang waktu yang disukai pelajar saat di sekolah. Jawaban hampir sebagian besar siswa memang cukup mencengangkan. Para pelajar berpendapat, ada tiga waktu yang mereka sukai, yakni saat jam kosong karena tidak ada guru, jam istirahat, dan jam pulang sekolah.

“Yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang salah dengan sistem dan metode pengajaran di sekolah?” tanyanya.

Menurutnya, sekolah seharusnya dilihat sebagai sebuah tempat untuk mengembangkan potensi, dan bukan sebuah wadah untuk mewajibkan agar siswa menjadi sesuatu. Sekolah harus bisa jadi tempat yang menyenangkan, dan bukan sebuah tempat yang membosankan, terlebih lagi menakutkan bagi sebagian siswa yang dianggap tidak pintar. (Sinar Harapan)

 

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Renungan Minggu Biasa V/C bersama Pastor Bill Grimm
  2. Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia akan perteguh NKRI
  3. Suku India di desa terpencil berjuang untuk fasilitas dasar
  4. Kardinal Hong Kong bela pesan Imlek Paus Fransiskus untuk Beijing
  5. Sri Lanka harus berkomitmen dengan resolusi PBB, kata aktivis
  6. Tokoh lintas iman dukung penguatan KPK
  7. Jalan menuju keadilan dan kesetaraan
  8. Para uskup Filipina desak umat Katolik untuk tidak memilih ‘orang jahat’
  9. Paus Fransiskus kirim pesan Imlek, memberikan pujian kepada Beijing
  10. Orang Kristen ditunjuk sebagai ketua majelis tinggi Myanmar
  1. Semoga segala berjalan baik tanpa halangan apapun......
    Said donotchangemyname on 2016-02-02 09:22:00
  2. Salam. Saya menyebarkan tulisan saya tentang penghapusan hukuman mati. Kita bang...
    Said anton bele on 2016-01-27 19:45:00
  3. Susah kalau alam tidak bersahabat.. Andaikan bisa menemukan beberapa sumber air ...
    Said donotchangemyname on 2016-01-22 14:35:00
  4. Mungkin Taliban tidak suka ada orang2 yang pandai.. agar merekalah menang antara...
    Said donotchangemyname on 2016-01-21 09:37:00
  5. Pasang petisi online saja di change.org atau kalau keluarga ybs punya teman medi...
    Said Lukas Lumbantobing on 2016-01-20 06:14:00
  6. Tindakan seperti inilah yang menjadi alasan saya tetap mendukung hukuman mati...
    Said Lukas Lumbantobing on 2016-01-20 06:11:00
  7. Semoga Misa di mall tdk terjadi di Indonesia. Ini bentuk sinkretisme dan peleceh...
    Said Tarcisius on 2016-01-16 07:59:00
  8. Dalang dan akar2nya yang tidak kelihatan.....
    Said donotchangemyname on 2016-01-16 07:59:00
  9. Apa boleh buat, bapak Kardinal sudah mengizinkan... Zaman boleh berubah, saya te...
    Said donotchangemyname on 2016-01-15 10:57:00
  10. Setidaknya artikel ini sedikit lebih objektif. Gafatar tidak seperti apa yg dibe...
    Said Dae Buton on 2016-01-15 00:05:00
UCAN India Books Online