
Seorang pejabat Komisi Kepausan untuk Amerika Latin telah mengingatkan terkait “iman yang abu-abu dan biasa-biasa saja” yang ia yakin telah menyusup di kalangan umat Katolik di Amerika.
Profesor Guzmán Carriquiry, sekretaris komisi itu, membuat pernyataannya pada 8 Desember, hari pertama International Congress Ecclesial in America bertempat di Aula Sinode Vatikan.
Selama pidatonya, Carriquiry mencatat kecenderungan yang berkembang di kalangan orang Amerika kurangnya antusiasme, ketidaktahuan dan suam-suam kuku terkait iman mereka.
“Sejumlah umat Katolik saat ini telah menguburkan baptisan mereka di bawah baju konsumerisme dan ketidakpedulian,” katanya.
“Berapa devosi dipraktekkan tanpa perjumpaan otentik dengan Kristus dalam sakramen,” katanya, seraya menyesalkan “pengabaian terhadap Sakramen Pengakuan” di kalangan umat Katolik lokal dan “kurangnya berpartisipasi dalam Misa.”
Meskipun demikian, dokumen Beato Yohanes Paulus II “Ecclesia in America” telah memberikan “contoh orang-orang kudus, pahlawan, juara amal dan para martir guna mengingatkan kita umat Kristiani Amerika saat ini harus menjalankannya di Milenium Ketiga.”
Carriqurry menggarisbawahi bahwa perlunya pembaharuan katekese secara radikal, karena ada ketidaktahuan serius akan iman Katolik, terutama di kalangan generasi baru.
“Kita sedang mengalami krisis formasi Katolik otentik yang dapat dilihat dalam semua orang Kristen terutama dalam diri mereka yang memiliki pengaruh besar dalam masyarakat kita.”
Menurutnya, “Kita harus benar-benar berpikir ulang formasi iman Katolik, baik untuk inisiasi atau re-inisiasi demi mencapai formasi iman yang bertumbuh dan kuat.”
Referensi mendasar untuk proses ini, profesor itu mencontohkan, “Kita memiliki Katekismus Gereja Katolik dan Paus Benediktus XVI telah menempatkannya menjadi bagian terdepan dan pusat dalam Tahun Iman.”
Sumber: Mediocre, lukewarm: Vatican official lays into Christians
Paus serukan reformasi sistem keuangan global
Romo Magnis protes terkait penghargaan kepada Presiden SBY
Aktivis lingkungan dipenjara di tengah upaya membela hak petani