UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Mengungkap Makna Natal Yang Sesungguhnya

Desember 18, 2012

Mengungkap Makna Natal Yang Sesungguhnya

Natal adalah momen Tuhan memberi makna bagi hidup kita (foto/flickr)

Setiap menjelang akhir tahun ratusan juta manusia di dunia hiruk pikuk untuk mempersiapkan dan merayakan Natal.

Pusat-pusat perbelanjaan tampak sangat sibuk dan bertingkah laku seolah-olah mereka menjadi pusat perayaan Natal.

Tidak ketinggalan Jakarta. Bahkan jauh sebelum bulan Desember sudah ada toko yang menjual berbagai jenis pernak-pernik Natal, dengan suasana toko dilengkapi dengan lagu-lagu Natal.

Mendengar lagu Malam Kudus di bulan Oktober memang agak lucu, tapi bisa diterima sebagai makanan pembuka sebelum menu inti, yakni Natal pada 25 Desember.

Jika melihat hiruk-pikuk dan gemerlap pernak-pernik seperti yang dipajang di toko-toko, pohon dan lampu Natal yang dipajang, aksi lucu sinterklas, tawaran diskon Natal, dsb, seolah-olah Natal itu perayaan “serba enak.”

Tidak demikian. Bagi sebagian orang Natal adalah Desember kelabu, karena tidak bisa berkumpul bersama keluarga, menderita kelaparan, mengalami diskriminasi, menanti hukuman mati, dan sebagainya.

Belum lagi di negara kita ini, ada umat yang tidak bisa merayakan Natal di gereja mereka karena disegel, misalnya GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia, Gereja Katolik St Baptista di Parung dan berbagai gereja di Indonesia seperti di Aceh yang ditutup atas instruksi pemerintah daerah.

Dalam kondisi seperti ini, kita mesti menunjukkan solidaritas dengan sesama yang menghadapi berbagai kendala dalam hidupnya.

Namun disamping itu, Natal adalah pesta kebahagiaan dan momentum untuk perubahan serta peneguhan atas perjuangan kita di dunia.

Kelahiran Yesus lebih dari 2000 tahun lalu membawa sukacita bagi para malaikat, para gembala, dan tiga raja dari timur, yang kemudian bergegas menyambutNya dengan cara mereka sendiri.

Pesta kelahiran Yesus kita rayakan sebagai kabar gembira di tengah-tengah dunia yang keras dan kejam. Di dalamnya kita merayakan persekutuan dengan Tuhan yang datang menyapa kita dan memberi arti bagi hidup kita.

Kelahiran Yesus, sebagaimana kelahiran manusia pada umumnya, merupakan momen awal baginya untuk kemudian tumbuh menjadi seorang pria dewasa. Ia pada akhirnya menyadari panggilan hidup-Nya sebagai utusan Allah untuk menebus dosa manusia dengan mati di salib.

Hal yang sama berlaku juga bagi umat Kristiani. Natal adalah momen pertumbuhan iman, yang tidak boleh berhenti pas setelah tanggal 25 Desember. Makna Natal seharusnya menggema sepanjang tahun dan menjiwai setiap aksi pribadi maupun kelompok.

Tema sentral Natal adalah cinta. Kehadiran Kristus sebagai manusia merupakan bentuk nyata kasih Allah kepada kita.

Dalam cara yang sama, cinta kita kepada Tuhan harus diwujudkan secara nyata dalam perbuatan kasih kepada sesama dan ciptaan Tuhan lainnya.

Bentuk-bentuk lahiriah dari cinta harus nyata dalam kehidupan sehari-hari, tanpa membuat perbedaan, dalam keluarga, lingkungan kerja, dan bentuk interaksi sosial lain, bahkan di dunia maya sekalipun.

Pesan Natal Bersama yang dikeluarkan bersama oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia (PGI) tahun ini memberikan penekanan tentang sikap mengasihi itu.

Cinta akan Allah tidak mengambang seperti sesuatu yang diterbang angin, tapi sesuatu yang nyata, yang kasat mata berupa mencintai sesama manusia dan alam tempat kita berpijak.

Jika orang mengatakan bahwa ia mengasihi Allah tetapi membenci saudaranya, ia berdusta karena tidak mungkin mencintai Allah yang tidak kelihatan tanpa mencintai sesama yang kelihatan. Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya (1 Yoh 4:20-21).

Bukti mengasihi sesama bisa tampak dalam wujud keterlibatan aktif dalam usaha memerangi kemiskinan, melawan korupsi, serta dalam mengatasi berbagai persoalan sosial, seperti konflik kemanusiaan, menguatnya sikap intoleran, serta perilaku atau tindakan yang membuat persaudaraan antar sesama warga menjadi retak.

Demikian pula, sebagai kaki dan tangan Allah di dunia ini, manusia diserahkan kepercayaan untuk memelihara dan memanfaatkan alam semesta yang “diciptakan baik adanya” secara bertanggungjawab.

Manusia dipanggil untuk melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaan-Nya dari perilaku sewenang-wenang dalam mengelola alam.

Para uskup se-Indonesia (KWI) dalam pesan sidang pastoral November lalu, juga menekankan panggilan umat sebagai “pengelola dan pemelihara” keutuhan ciptaan Tuhan.

Keprihatinan para uskup atas ekspolitasi dan perusakan alam yang dilakukan semena-mena dan secara ilegal oleh perusahaan-peruhaan tambang menjadi dasar dari ajakan untuk memperhatikan kelestarian alam (bumi) sebagai sumber kehidupan manusia.

Dengan demikian, makna Natal bukan hanya sekedar persiapan dekorasi rumah atau gereja.

Natal adalah momen untuk perubahan dan peneguhan atas komitmen kita sebagai pengikut Kristus untuk mencintai sesama dalam suka dan senang serta peneguhan panggilan kita sebagai orang-orang yang dipercayakan Tuhan mengelola dan merawat ciptaan-Nya.

Selamat Natal.

Siktus Harson, editor ucanews.com

 

4 responses to “Mengungkap Makna Natal Yang Sesungguhnya”

  1. Berilah rezeki kepada orang-orang miskin, dan biarlah saya mejadi lapar.

  2. Syalom Pak Frans. Semoga rezekinya dilipatgandakan oleh Yang Kuasa

  3. Amin sdr. Sixtus. Doa ini inspirasi dari Bapak Uskup Mgr. M. Angkur OFM dalam acara temu OFS (Ordo Fransiskan Sekular).

  4. melpin erijon sijabat says:

    syalom,.. Tuhan beserta kita semua.Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi