
Pemerintah Laos tampaknya mengabaikan imbauan dari kelompok-kelompok hak untuk memberikan informasi tentang sebuah keluarga Kristen yang “hilang” selama lebih dari delapan tahun.
Christian Solidarity Worldwide (CSW) menulis sebuah surat terbuka pekan lalu untuk “mendapatkan” informasi tentang keberadaan seorang pria, yang hanya bernama Boontheong, dan istri serta putranya yang belum pernah terlihat sejak 3 Juli 2004. Anak itu berusia 7 tahun pada saat itu.
Surat itu muncul di tengah kekhawatiran atas nasib seorang aktivis dan pemenang Ramon Magsaysay Award, Sombath Somphone, yang menghilang di Laos bulan lalu.
Sebelum hilang, Boontheong telah diancam dan dipenjarakan oleh polisi lokal di provinsi Luang Namtha karena iman Kristennya.
CSW dan kelompok-kelompok hak lain telah berusaha mencari bertahun-tahun untuk mengetahui keberadaan keluarga itu, tetapi tidak berhasil.
Belum ada tanggapan dari pemerintah Laos terhadap surat itu yang ditujukan kepada Presiden Choummaly Sayasone.
“Kami belum mendengar dari pemerintah Laos … mereka tidak menanggapi surat itu,” kata seorang juru bicara CSW kepada ucanews.com. “Sejauh ini mereka diam. Kami masih menunggu! ”
Kebebasan beragama di Laos telah diperbaiki dalam beberapa tahun terakhir, CSW mengatakan dalam sebuah pernyataan. Lebih sedikit orang yang dipenjarakan karena iman mereka dan hukuman yang lebih pendek.
“Namun, masih ada pembatasan yang signifikan bagi orang Kristen karena agama Kristen sering dianggap sebagai agama ‘asing’.”
Orang Kristen masih mengalami pelecehan, penggusuran dan dipenjara oleh pejabat setempat, kata kelompok itu.
Romo Magnis protes terkait penghargaan kepada Presiden SBY
Aktivis lingkungan dipenjara di tengah upaya membela hak petani
Amnesty: Hukuman mati di Indonesia langkah mundur