UCAN Indonesia Catholic Church News
In Season and Out, Homilies for Year A

Kedai kopi paroki dorong umat jadi betah di gereja

22/01/2013

Kedai kopi paroki dorong umat jadi betah di gereja thumbnail

 

Pada abad ke-16, Gereja Katolik melabelkan kopi sebagai minuman iblis.

Pada saat kini, paroki-paroki Korea Selatan telah beralih ke cappuccino dan latte membantu umat menghadiri Misa-misa harian.

Segera setelah Pastor Lee Kyung-hun diangkat menjadi pastor paroki di Heukseok, Sungai Han, ia membuka kafe di pelataran gereja tahun 2009 untuk membudayakan kedai kopi di ibukota Korea Selatan itu.

“Umat, khususnya kaum muda, memberikan respon sangat positif,” katanya. “Kedai kopi menjadi media yang menyatukan umat beriman dan kafe kami memiliki hot spot.”

Saat ini, sekitar 60 persen dari mereka yang dibaptis di parokinya berada di usia 30-an dan 40-an, berbeda dengan paroki lain di mana orang lansia menjadi mayoritas, kata Pastor Lee.

“Selain itu, kehadiran dalam Misa harian meningkat,” katanya.

Sebelum ada kedai kopi umat segera pulang rumah setelah Misa, namun kini godaan kedai kopi tersebut membuat banyak umat berlama-lama di gereja.

“Saya terkejut dilayani kopi oleh pastor paroki sendiri,” kata Rosa Yoo Seung-a, seorang umat berusia 37 tahun. “Dibandingkan semua kedai kopi, kedai ini harganya termasuk murah.”

Sedangkan merek-merek terkenal seperti Starbuck harganya antara 4.000 dan 5.000 won (US $ 4-5) untuk americano dengan harga pasaran tertinggi di Korea Selatan dibandingkan dengan negara lain di seluruh dunia.  Namun, kafe Pastor Lee menjualnya dengan harga 2.000 won per cangkir.

Namun, hukum ekonomi kopi di Korea Selatan bukan kasus sederhana dari penawaran dan permintaan. Riset pasar menunjukkan bahwa ketika permintaan tinggi di ibukota Korea Selatan, kedai kopi paroki menurunkan harga mereka  bagi para pelanggan.

Kedai kopi Seoul biasanya tempat bagi kaum muda untuk saling inter-aksi.

Apakah secara logika hal ini diterapkan di Gereja meskipun masih belum jelas.

“Kami tidak perlu membayar sewa, loyalitas atau upah bagi para pekerja seperti kafe lain. Kami hanya menawarkan kualitas kopi yang tinggi dengan harga murah,” kata Pastor Lee.

Dari laba yang diperoleh, pihaknya menyalurkan kepada  para siswa miskin, misionaris luar negeri dan memperbaiki rumah-rumah orang miskin yang hidup di daerah tersebut.

Sementara itu, model kedai kopi paroki sudah mulai menjamur ke paroki lain. Sekitar 200 baristas (pembuat kopi) telah dilatih di bawah bimbingan Pastor Lee yang telah mendirikan Asosiasi Baristas Katolik yang memulai cabang ke paroki lain.

Dari 226 paroki di Seoul, 10 paroki kini memiliki kedai kopi sendiri dan tren itu mulai berkembang di luar ibukota itu.

Di Suwon, sebuah kota sekitar 32 kilometer selatan Seoul, paroki-paroki yang membangun gereja-gereja baru telah diberitahu untuk membuat kafe sebagai standar, yang masuk akal di negara yang merupakan rumah bagi 20.000 kedai kopi kebanyakan berkembang dan peringkat importir terbesar ke-11 dari biji kopi di dunia.

“Aroma kopi dapat menggoda orang untuk merasakan,” kata Pastor Lee. “Saya berharap bahwa lebih banyak paroki dapat menarik orang dengan aroma kopi.”

Sumber: Catholic Cafe pioneer boosts Seoul congregation with cappuccinos

 

One Comment on "Kedai kopi paroki dorong umat jadi betah di gereja"

  1. herbert on Wed, 23rd Jan 2013 8:53 am 

    saya pikir bisa diadopsi ke model Angkringan Paroki gereja-gereja di jawa khususnya…krn berbagai paroki telah menyediakan WI Fi (hot spot)




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Polusi udara membunuh lebih dari satu juta setiap tahun di India
  2. Harapan muncul di tengah ketegangan dan konflik di Sri Lanka
  3. Kardinal Tagle baptis 400 anak dari daerah kumuh
  4. Birokrat Hong Kong jawab ‘panggilan Tuhan’ untuk jabatan tertinggi
  5. Umat Katolik didorong untuk berpartisipasi dalam pilkada
  6. Peraturan baru tentang adopsi disambut baik
  7. Rencana pemerintah menerapkan UU KB ditolak para uskup
  8. Yesuit Filipina menemukan sukacita dalam misi di Kamboja
  9. Renungan Hari Minggu Biasa II/A bersama Pastor Bill Grimm
  10. Seruan perlunya hakim asing guna mendengar kejahatan perang di Sri Lanka
  1. Tragedi yang tidak tidak terbayarkan dengan kebaikan apapun.. 6000 nyawa tidak d...
    Said Jenny Marisa on 2017-01-05 11:16:42
  2. Luar biasa atas kesaksian iman dari kisah 2 orang yang berbeda dengan masalah ya...
    Said Anselmus Seng Openg on 2017-01-04 13:25:40
  3. Mengapa pemerintah India tidak berupaya?...
    Said Jenny Marisa on 2017-01-04 11:27:27
  4. Segala dapat diperdagangkan di China.. semuanya adalah kejam.. Hewan langka, gad...
    Said Jenny Marisa on 2017-01-03 20:38:17
  5. Shalom, Bapa, sy orang kosan yg tinggal di kos rumah tua dimana sebelumnya ada ...
    Said desi on 2016-12-28 23:01:07
  6. Bentuk toleransi dengan mengikuti kegiatan agama lain. Mari kita dukung penegak...
    Said Abdul Aziz on 2016-12-24 11:19:05
  7. Semoga kota medan dapat menjadi role model propinsi dan kota yg Toleransi tinggi...
    Said frans on 2016-12-23 16:36:59
  8. maksudnya baik......
    Said Jenny Marisa on 2016-12-22 11:55:06
  9. Sudah nyata.... perlu pemerintah lebih tegas. Itu saja....
    Said Jenny Marisa on 2016-12-20 08:53:12
  10. cara-cara premanisme dengan bentuk menakiti masyarakat, kapan negara akan tentra...
    Said Budiono on 2016-12-20 05:34:42
UCAN India Books Online