UCAN Indonesia Catholic Church News

Tuntutan lahan tetap dilakukan meski pertumpahan darah

23/01/2013

Tuntutan lahan tetap dilakukan meski pertumpahan darah thumbnail

 

Penembakan, semprotan gas air mata, peluru, darah, dan teriakan minta tolong masih segar dalam ingatan pemimpin petani Danilo Ramos.

“Sepertinya tragedi itu terjadi pada Senin,” kenangnya, seraya menambahkan bahwa anak bungsunya lahir beberapa bulan sebelum pembantaian itu terjadi. “Sekarang dia telah berusia 26 tahun,” kata Ramos dengan senyum sedih.

Pada 22 Januari 1987, ribuan petani berbaris di istana kepresidenan di Manila untuk menuntut reformasi tanah warisan di bawah pemerintahan yang baru dilantik Presiden Corazon Aquino.

Setelah mencapai Jembatan Mendiola yang menghubungkan jantung kota ke istana presiden, polisi anti huru-hara dan marinir melepaskan tembakan kepada lebih dari 20.000 petani dan para pendukung mereka.

Akibat tembakan itu, 13 tewas sementara lebih dari 80 lainnya luka-luka.

Salah satu dari para demonstran saat itu adalah Ray Panaligan yang merupakan aktivis berusia 18 tahun.

“Kami hampir tidak bisa bernapas ketika kami berlari akibat gas air mata …. Itu adalah pilihan yang logis, ditangkap, atau ditembak,” kata Panaligan, kini sebagai seorang fotografer media.

Pembantaian itu mendorong pembicaraan di antara pemerintah dan komunis. Setahun kemudian, Kongres mensahkan Program Reformasi Agraria Komprehensif.

Kemarin, 26 tahun berlalu, dan bersama putra mantan presiden itu duduk di istana presiden, sekitar 2.000 petani berbaris menuju Jembatan Mendiola luar istana.

Antonio Flores, juru bicara Gerakan Petani Filipina, mengatakan 26 tahun setelah pembantaian  itu “keadilan masih sulit dipenuhi bagi para korban.”

“Pembagian tanah gratis adalah tuntutan kami pada 26 tahun lalu dan tanggapan pemerintah Aquino pertama adalah hujan peluru dan reformasi tanah adalah palsu,” katanya.

“Sekarang di bawah pemerintahan Aquino lain kami terus menuntut tanah,” kata Flores.

Para petani mengatakan ketika tuntutan itu muncul terkait distribusi tanah, pihak berwenang memprioritaskan perusahaan besar dengan mengorbankan petani.

Danilo Ramos berdiri di tiang Jembatan Mendiola sementara sejumlah demonstran bergiliran membawa orasi dan mengecam pemerintah karena mengabaikan para petani.

“Tidak ada yang berubah,” katanya, sambil menyeka keringatnya, atau apakah mereka harus meneteskan air mata mereka.

Nardy Sabino, ketua Promotion of Church People’s Response, yang berdiri di samping Ramos, mengatakan: “Itu adalah salah satu alasan mengapa Gereja harus berpihak kepada orang miskin, para petani.”

Panaligan, yang membantu dua petani setelah pembantaian lebih dari dua dekade lalu itu, masih ingat salah seorang petani mengatakan: “Seolah-olah para gerilyawan berada di sini.”

“Pada saat itu saya mengerti apa perjuangan bersenjata dimaksudkan untuk orang-orang yang terus hidup kekurangan kebutuhan dasar dalam masyarakat,” kata Panaligan.

Sumber: The demand for land remains despite the bloodshed

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Romo Magnis: Pemeluk agama tak sama dengan pendukung bola
  2. OMK Kamboja dan Laos rayakan Hari Kaum Muda pertama
  3. Pembangunan katedral bersejarah di Singapura masih butuh dana
  4. Umat Katolik Paroki Santa Clara merindukan gereja
  5. Kehadiran minoritas harus memberi arti bagi mayoritas
  6. Tanggapan Gereja Katolik Asia terhadap Laudato si' dalam mengatasi perubahan iklim
  7. Umat Katolik di Tiongkok desak bebaskan uskup lansia yang sakit dan lama dipenjara
  8. TV María akan menampilkan acara untuk anak-anak, orang muda
  9. Kardinal Hong Kong: Ia tidak diundang ke Sinode tentang Keluarga
  10. Para uskup AS belajar isu migran di Malaysia
  1. Umat Katolik menyerukan kanonisasi mantan uskup agung Dhaka
  2. OMK Kamboja dan Laos rayakan Hari Kaum Muda pertama
  3. Pembangunan katedral bersejarah di Singapura masih butuh dana
  4. Umat Katolik Paroki Santa Clara merindukan gereja
  5. Sekolah di Timor Leste masih berjuang dengan kebutuhan dasar
  6. Gereja Katolik dukung aksi mogok nasional pekerja di India
  7. Gereja: UU Ras dan Agama Myanmar bisa menimbulkan perpecahan
  8. Cendikiawan Muslim: Pemerintah harus mengambil langkah pemblokiran situs radikal
  9. Tanggapan Gereja Katolik Asia terhadap Laudato si’ dalam mengatasi perubahan iklim
  10. Umat Katolik di Tiongkok desak bebaskan uskup lansia yang sakit dan lama dipenjara
  1. Kapan Tiongkok itu jadi negera yang normal - sehat lahir batin?...
    Said on 2015-09-03 08:54:00
  2. Tentu saja kesibukan sebatas Liturgi - Altar, perlu diimbangi dengan ketegasan p...
    Said sani@ on 2015-08-21 11:51:00
  3. Silahkan baca di teks ini selengkapnya...terima kasih.. http://www.mirifica.net...
    Said on 2015-08-19 14:30:00
  4. “Dalam perjalanan ke depan, Gereja Katolik memandang bahwa pemerintah dan para p...
    Said kristiadjirahardjo on 2015-08-17 10:55:00
  5. Undangan kepada Bapa Suci dr Menag unt berkunjung ke Indonesia,tentu sangat meng...
    Said tarcisius fenfat on 2015-08-15 10:51:00
  6. Menuju keteraturan......
    Said on 2015-08-14 16:46:00
  7. Baik sekali kalau Bpk Menteri kunjung ke Vatikan.....
    Said on 2015-08-14 16:45:00
  8. Salut kepada menteri agama t ksi atas upayanya utk mengundang bp paus franciskus...
    Said Eduardus on 2015-08-13 13:29:00
  9. Roma 10:9: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan...
    Said mietiaw69 on 2015-07-29 14:34:00
  10. Pemerintah terus mengundang investor - dan tentu akan memberi izin untuk itu. S...
    Said on 2015-07-29 07:50:00
UCAN India Books Online