UCAN Indonesia Catholic Church News

Aceng, Daming dan respek terhadap perempuan

25/01/2013

Aceng, Daming dan respek terhadap perempuan thumbnail

 

Beberapa pekan belakangan, dua ‘orang penting’ di negara kita terus tampil sebagai “newsmaker”, Aceng Fikri, Bupati Garut, Jawa Barat dan Hakim Daming Sunusi. Pemberitaan tentang mereka selain menjadi konsumsi masyarakat Indonesia, juga di luar negeri lewat pemberitaan media-media internasioanl, termasuk ucanews.com.

Aceng tiba-tiba terkenal gara-gara keputusannya menceraikan Fani Oktora, gadis 17 tahun, yang ia nikahi selama 4 hari pada Juli 2012, lalu diceraikan via SMS, dengan alasan Fani tidak perawan lagi.

Lalu, Daming, salah satu kandidat Hakim Agung yang kemudian gagal lolos seleksi, sontak jadi bahan pembicaan menyusul komentarnya saat menjalani fit-and-propert-test di hadapan Komisi III DPR pada 14 Januari lalu. Kala itu, ia menyebut “pelaku dan korban pemerkosaan sama-sama nikmat, karena itu pelaku pemerkosaan tidak perlu dihukum mati”. Terlepas dari pro kontra hukuman mati, komentar tersebut sudah sepantasnya mendapat reaksi pedas.

Antara persoalan yang dibuat dan kemudian menimpa Aceng dan Daming, menurut saya, substansinya sama, yakni soal bagaimana respek mereka pada kaum perempuan. Dalam kasus Aceng, terlepas dari boleh tidaknya nikah siri dalam agama yang ia anut, persoalannya, sejauhmana ia menghargai seorang perempuan yang dengan enteng diceraikan via SMS. Lalu Daming, bagaimana persepsinya pada korban pemerkosaan yang mayoritas menimpa kaum perempuan.

Aceng dan Daming memantik api kemarahan publik, di tengah munculnya keprihatinan akibat sejumlah kasus pemerkosaan dan kekerasan terhadap perempuan. Terakhir, yang memiluhkan, kasus yang menimpa RI, siswi kelas V SD di Jakarta yang meninggal karena radang otak, tapi belakangan diketahui, radang otak itu dipicu oleh infeksi alat klaminnya. Dan, menurut polisi, RI merupakan korban perkosaan ayah kandungnya.

Mayoritas orang sepakat, tindakan yang dilakukan oleh Aceng dan Daming adalah hal yang mesti dilawan. Apalagi, dalam konteks kasus pemerkosaan, itu merupakan kejahatan keji dan karena itu pelakunya harus dihukum dengan seberat-beranya. Jadi, sangat tidak pantas, bila itu dijadikan sebagai bahan tertawaan untuk memecahkan kebekuan suasana, seperti yang dikatakan Daming.

Membayangkan saja, misalnya salah seorang anggota keluarga saya menjadi korban atau bila si Fani itu adalah orang dekat saya, tentu saja saya marah dan mengehendaki agar pelaku dihukum sebarat-beratnya.

Karena itulah, protes publik pada Aceng dan kecaman terhadap Daming sudah pada tempatnya dan hal ini mesti diapresiasi sebagai cerminan dari keadaban publik yang masih tinggi. Reaksi keras sejumlah pihak yang menuntut pemakzulan Aceng dan pemecatan Daming tidaklah berlebihan.

Aceng memang mengklaim bahwa tindakannya tidak boleh dipersoalkan secara politik dan Daming pun sudah meminta maaf atas komentarnya itu. Namun, jelaslah, akan menjadi tamparan keras di wajah bangsa dan rakyat Indonesia jika saja tindakan Aceng dianggap sebagai hal biasa dan Daming dikukuhkan sebagai salah satu Hakim Agung.

Tindakan Aceng dan komentar Daming menggambarkan bagaimana secara apriori dalam diri mereka sudah tertanam persepsi yang mengsubordinasi kaum perempuan. Bahkan, untuk sebuah kejahatan, korban masih disalahkan: Aceng mempersalahkan Fani, sementara Daming mempersalahkan korban pemerkosaan.

Tindakan Aceng memberikan gambaran bagaimana ia melihat ‘diri’ seorang perempuan dan kata-kata Daming memberikan wawasan tentang bagaimana ia berpikir dan bagaimana ia akan bertindak jika pelaku pemerkosaan dibawa ke hadapannya.

Komentar Daming bisa menjadi jawaban, mengapa banyak hakim memberlakukan hukuman yang ringan pada pemerkosa. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait beberapa waktu lalu mengatakan, dari hukuman minimal 3 tahun maksimal 10 tahun terhadap perilaku kekerasan seksual terhadap anak tidak pernah ada pelaku yang dihukum maksimal, paling tinggi 7 tahun.

Respek pada perempuan adalah pilihan yang mesti diambil. Kita harus mengambil sudut pandang ini jika kita ingin maju dan melindungi hak-hak mereka.

Seandainya kita menganggap yang dilakukan Aceng biasa-biasa saja dan komentar Daming merupakan lelucon yang lumrah, maka kita mendorong lebih banyak lagi aksi kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan.

Bayangkan penderitaan yang ditanggung Fani dan apa yang dialami korban pemerkosaan yang seringkali berujung pada kasus kematian seperti yang menimpa RI.

Kita perlu pejabat yang mau berada di garda terdepan melindungi kaum perempuan dan hakim yang melihat kekerasan terhadap perempuan sebagai kejahatan serius.

Lebih dari itu, kontrol publik masih sangat dibutuhkan. Dan, ke depan, kampanye masif terkait penghargaan dan perlindungan perempuan perlu terus digalakkan, baik lewat dunia pendidikan, agama, maupun lewat media serta jaminan lewat regulasi. Bukan tidak mungkin, bakal muncul “Aceng” dan “Daming” lain.

Ryan Dagur, jurnalis ucanews.com

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Proses pembangunan Gereja Santa Clara dihentikan sementara
  2. Gua Maria Kerep Ambarawa jadi mercusuar iman bagi umat Katolik, Muslim
  3. Ketua MPR RI: Pemuda Katolik diharapkan beri sumbangan pemikiran kebangsaan
  4. Paus desak pengunjung di Vatikan mengenal Yesus dengan membaca Injil
  5. Komnas HAM: Polisi India gagal menangani penyelidikan pemerkosaan biarawati
  6. Polisi didesak bertindak adil dalam penyelidikan terbakarnya gereja
  7. Tokoh agama: Pancasila Rumah Kita, perbedaan adalah rahmat
  8. Presiden Filipina minta dukungan Gerakan Karismatik Katolik
  9. Umat Katolik diajak mengenang dan berdoa untuk para migran dan pengungsi
  10. Ayah dari wanita Katolik yang dihukum mati terkait penghujatan kecam pengadilan
  1. Renungan Minggu Biasa XXII bersama Pastor Bill Grimm
  2. Jika Gairah Hidup Anda Redup, Nyalakan dengan Ini
  3. Prioritas, pewartaan, sentuhan kasih mencerminkan latar belakang Paus Fransiskus
  4. Umat Katolik diajak gunakan media digital sebagai sarana pewartaan
  5. Enam orang ditangkap terkait pembunuhan seorang wanita kerasukan ‘roh jahat’
  6. Kelompok Religius luncurkan website menentang perdagangan manusia
  7. Data baru menunjukkan tuduhan kristenisasi tidak terbukti
  8. Sekolah Yesuit bantu korban gempa di Nepal
  9. Legislator Filipina akui membantu tersangka pembunuh imam
  10. Tokoh agama: Pancasila Rumah Kita, perbedaan adalah rahmat
  1. Tentu saja kesibukan sebatas Liturgi - Altar, perlu diimbangi dengan ketegasan p...
    Said sani@ on 2015-08-21 11:51:00
  2. Silahkan baca di teks ini selengkapnya...terima kasih.. http://www.mirifica.net...
    Said on 2015-08-19 14:30:00
  3. “Dalam perjalanan ke depan, Gereja Katolik memandang bahwa pemerintah dan para p...
    Said kristiadjirahardjo on 2015-08-17 10:55:00
  4. Undangan kepada Bapa Suci dr Menag unt berkunjung ke Indonesia,tentu sangat meng...
    Said tarcisius fenfat on 2015-08-15 10:51:00
  5. Menuju keteraturan......
    Said on 2015-08-14 16:46:00
  6. Baik sekali kalau Bpk Menteri kunjung ke Vatikan.....
    Said on 2015-08-14 16:45:00
  7. Salut kepada menteri agama t ksi atas upayanya utk mengundang bp paus franciskus...
    Said Eduardus on 2015-08-13 13:29:00
  8. Roma 10:9: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan...
    Said mietiaw69 on 2015-07-29 14:34:00
  9. Pemerintah terus mengundang investor - dan tentu akan memberi izin untuk itu. S...
    Said on 2015-07-29 07:50:00
  10. Negara Cina tidak mau menjadi warga bumi yang mudah bergaul..sepanjang masa. Ama...
    Said on 2015-07-25 08:12:00
UCAN India Books Online