UCAN Indonesia Catholic Church News
Happy Easter to all

Pasien kusta: Kami dirawat dengan penuh kasih sayang

27/01/2013

Pasien kusta: Kami dirawat dengan penuh kasih sayang thumbnail

Menkes Nafsiah Mboi bersama pengelola Rumah Sakit Kusta Alverno dan para pasien kusta

 

Setiap 25 Januari diperingati sebagai Hari Kusta Sedunia. Pasien kusta berharap, ini jadi momentum bagi mereka untuk tidak lagi menerima perlakukan diskriminatif di tengah-tengah masyarakat.

Dinas Kesehatan Kalbar mencatat tahun 2012, kusta tersebar Kabupaten Kubu Raya (KKR) dengan 44 kasus, Kayong Utara (KKU) dengan 24 kasus, dan Kota Pontianak dengan  12 kasus.

Selama ini, para penderita kusta di tangani di Rumah Sakit (RS) Kusta Alverno, yang dikelola Katolik, di Singkawang, Kalbar.

Dua di antaranya, Ernani dan Abdul Gani. Ernani, gadis kelahiran tahun 1992 ini, sudah sejak 2005 berada di RS Alverno. Sementara Gani sejak 1981. Tepatnya saat ia masih menginjak umur 7 tahun.

Keduanya mengakui, pelayanan RS cukup istimewa. “Selama di sini, kita diperhatikan. Mereka merawat kita dengan penuh kasih sayang,” kata Ernani, seperti dilansir tribunnews.

Ia mengatakan belasan tahun di RS membuat ia merasa pasien lainnya adalah saudara. Terlebih, mereka memiliki nasib serupa. “Saya sudah menganggap keluarga sendiri. Mereka yang lebih tua, saya anggap orangtua,” ujarnya.

Selama di RS, ia mengaku sangat rindu bertemu keluarganya. Untuk mengobat kerinduannya itu, sebulan sekali, keluarganya menghubungi melalui telepon. “Kadang juga langsung datang. Lewat telepon, cukup sering,” imbuhnya.

Setelah sembuh dari sakit kustanya, Erna, sapaannya, berharap pulang dan berkumpul bersama keluarganya. Namun, harapan tersebut belum tercapai hingga sekarang. “Sakitnya, sudah sembuh. Tapi, cacatnya masih. Orangtua juga lagi banyak urusan. Jadi saya bertahan dulu di sini. Sabar-sabar dulu,” katanya.

Wanita yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 5 SD ini, menyatakan niatnya terus melanjutkan pendidikan. Program studi Bahasa Inggris, jadi pilihannya. “Saya kenanya kelas 5 SD. Waktu Kelas 2 diperiksa, belum positif. Dulu juga tidak cacat seperti ini. Kalau sudah keluar, saya mau ngambil paket. Setelah itu, kuliah di ABA jurusan Bahasa Inggris,” ujarnya.

Mendalami Bahasa Inggris adalah cita-citanya sejak kecil. Namun, nasib berkata lain. “Itu sudah niat dari dulu. Pokoknya, saya harus kuliah di ABA. Tapi, karena sakit ini, saya harus belajar dari awal lagi,” imbunya.

Erna menyatakan, mengisi hari-harinya di RS, dengan banyak menulis catatan harian. Catatan tentang diri dan perasaannya menjadi penderita kusta, ditulis dalam bentuk cerita fakta.

“Saya ceritakan diri saya sendiri. Bentuknya novel. Tapi, sekarang saya belum mau memperlihatkannya ke orang. Cukup untuk saya sendiri,” paparnya.

Sementara Gani, mengaku hanya ingin berbuat kebajikan sesuai kemampuannya jika sudah keluar dari RS. “Maghrib dan Isya saya berjamaah di masjid terdekat. Kalau waktu lainnya, saya salat di sini. Menggunakan waktu sebaik-baiknya,” kata Gani.

Ia mengatakan terkena kusta sejak Kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah (Sederajat SD). “Namanya juga orang kampung. Kita belum tahu kalau ada RS ini. Jadi waktu awal-awal kena, hanya berobat kampung. Pakai mantra segala macam, tak juga sembuh. Sementara saat periksa di Puskesmas dan RSU, dibilang kudis,” tutur pria itu.

Gani memaparkan, sejak 1981 hingga sekarang, dirinya sudah beberapa kali pulang ke kampung halaman di wilayah Sungai Ambawang. Kabag TU RS Alverno, Chiemilianus, mengatakan saat ini RS merawat 36 pasien kusta.

RS Khusus Alverno berdiri tahun 1917, yang terletak di Jl. Gunung Sahari Nomor 70, RS baru diresmikan 17 November 1925. Kehadiran RS ini, tak terlepas dari peran Pastor dan Bruder yang mengabdi di Paroki Singkawang dan Keuskupan Agung Pontianak.

Pada rentang sekitar 1909 hingga 1928, Paroki Singkawang, juga membangun RS Umum dan sekolah, selain RS Kusta. Khusus RS Alverno, kata Chiemilianus bermula dari gubuk, RS tersebut sudah direnovasi tiga kali.

“Untuk waktunya, kapan saja kita juga tidak tahu. Hanya, saat saya masuk sampai sekarang, bangunannya seperti ini. Kalau sekedar memperbaiki yang rusak, itu kita lakukan,” katanya.

Awalnya, operasional tanpa bantuan pemerintah. Tahun 1954 pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memberikan subsidi.

“Saat itu, Kemenkes kita yang diwakili Lie Kiat Teng mengadakan perjanjian dengan Mgr Van Valenberg. Setelah itu, mulai 27 November 1954, dengan akta notaris, kami mulai disubsidi pemerintah,” ujarnya.

Akong, sapaannya menyatakan, daerah yang menjadi kantong kusta pada masa lalu adalah daerah pesisir pantai akibat kurang air bersih.

“Khususnya daerah Jawai, Kabupaten Sambas itu dulu daerah kantong kusta. Kalau sekarang tidak tahu ya,” jelas Akong yang sejak 1975 sudah jadi perawat di Sambas.

Dia memaparkan, pertama kali merawat pasien Kusta, ada rasa tak mengenakkan. Selain itu, juga ada rasa takut. “Begitu saya selesai menyentuh, cepar-cepat saya cuci tangan. Tapi itu dulu. Pengetahuan saya tentang Kusta juga masih minim,” terangnya.

Dia mengungkapkan, sebenarnya tak ada masalah saat kita berinteraksi dengan penderita Kusta. Berhubung, tidak serta merta menular.

“Kusta itu ada yang menular dan tidak. Kalaupun menular, itu di antaranya karena hubungan suami istri. Tidak seperti flu. Kalau anda bersin, saya berada di dekat begini bisa tertular,” tambahnya.

 

Comments are closed.

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Presiden SBY dinilai kurang mampu menjaga keberagaman
  2. Pesan 'Urbi et Orbi' Paus Fransiskus pada Hari Raya Paskah 2014
  3. “Keselamatan akan segera datang kepada saya," tulis Asia Bibi dari balik jeruji besi
  4. Pria Kristen dibunuh karena tolak masuk Islam
  5. Tim delapan kardinal mulai membahas lagi reformasi
  6. Ribuan umat Islam hadiri deklarasi anti-Syiah di Bandung
  7. Presiden ucapkan selamat Paskah
  8. Komnas HAM: Aliansi tak berhak larang ajaran Syiah
  9. Umat Katolik Papua Nugini menghormati misionaris pertama
  10. Pesan Paskah Uskup: Hentikan kekerasan
  1. Kemajuan sosial di Indonesia kala perempuan menerima penghargaan
  2. Pria Kristen dibunuh karena tolak masuk Islam
  3. Penerapan Hukum Syariah di Brunei mengancam orang Kristen
  4. Uskup pimpin Misa Paskah bersama penderita kusta
  5. Pertanyaan muncul terkait kanonisasi yang cepat terhadap dua Paus
  6. Presiden SBY dinilai kurang mampu menjaga keberagaman
  7. NGO desak hukuman lebih berat untuk pelaku kejahatan seksual terhadap anak
  8. Umat Katolik Papua Nugini menghormati misionaris pertama
  9. Hari Bumi, pemuka agama jadi kunci pelestarian lingkungan
  10. Imam anti-nuklir berjuang jadi anggota parlemen
  1. hmmm..semoga saja isa di tata dengan baik oleh pengurus dengan di bantu pemerint...
    Said kornelius,.. on 2014-04-19 09:49:00
  2. Setuju Romo....rakyat butuh media untuk bisa benar-benar mengenal calon presiden...
    Said Fransisca Ninin Nilamsari on 2014-04-17 19:59:00
  3. Ternyata anak2 ke sekolah tetap harus dijaga orang tua atau utusannya. Sekolah,...
    Said on 2014-04-17 08:02:00
  4. Niat baik dan bersahabat patut disambut baik dan dihargai. Mengapa tidak disebu...
    Said on 2014-04-17 07:45:00
  5. Setuju Romo, kita membutuhkan Pemimpin yang sungguh-sungguh memiliki komitmen un...
    Said Wahyu Handoko Yulianto on 2014-04-17 06:50:00
  6. Terima kasih Mgr. Koo. Kisah hidup yang menjadi inspirasi bagi kami utk memperta...
    Said corry on 2014-04-10 12:42:00
  7. Ria: sy jg geram dengan tindakan mantan pastor ini, yg akhirnya membuat nama Ger...
    Said corry on 2014-04-10 12:27:00
  8. Dimana2 orang Kristen dianiaya, dikambinghitamkan dgn alasan ini itu yg tdk terb...
    Said Corry on 2014-04-10 11:48:00
  9. Aneh negeri ini jg presiden odong2. Ini bukan negara muslim, shg seenaknya mener...
    Said Corry on 2014-04-10 11:41:00
  10. Metode blusukan memang telah dilakukan oleh Yesus dan juga para nabi, sehingga p...
    Said Hadrianus Wardjito on 2014-04-07 20:47:00
UCAN India Books Online