UCAN Indonesia Catholic Church News

Para tapol harus berjuang akibat kesulitan mendapatkan pekerjaan

28/01/2013

Para tapol harus berjuang akibat kesulitan mendapatkan pekerjaan thumbnail

 

Ko Talky menghabiskan lima tahun di balik jeruji besi di bawah mantan junta militer negara itu. Tapi, ketika dia dibebaskan tahun 2010, ia masih menghadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan.

“Tidak seorang pun yang ingin memberikan saya pekerjaan … Saya adalah mantan pembangkang politik,” kata Ko Talky.

Dia adalah salah satu dari 1.000 tahanan politik (tapol) yang dibebaskan oleh pemerintah Myanmar sejak tahun 2010, demikian Asosiasi Bantuan Tahanan Politik (AAPP) yang berbasis di Thailand.

Pemerintah sipil yang baru telah memulai serangkaian reformasi politik dan ekonomi, namun bagi para mantan tapol, membangun kembali kehidupan mereka mengalami kesulitan.

Ko Talky akhirnya menemukan pekerjaan sebagai sopir taksi setelah membayar deposit sebesar US $ 500 kepada pemilik taksi.

“Saya mendapatkan 5.000 kyats [US$ 5] per hari, dan saya harus mendukung orang tua saya dan saudara saya,” kata Ko Talky. “Ini tidak cukup, tapi saya tetap menjalankan pekerjaan ini.”

Bersama dengan dua mantan tapol lainnya, Ko Talky membentuk kelompok taksi Kecapi Emas pada Februari 2012. Dikenal beberapa wisatawan yang datang melalui Yangon, kelompok ini juga bekerja membantu para pembangkang lain menemukan pekerjaan sebagai sopir taksi.

Bo Kyi, sekretaris gabungan AAPP, mengatakan para mantan tapol merasa sangat sulit menyesuaikan diri dengan kehidupan di masyarakat.

“Keluarga Anda tidak kaya, mereka sangat miskin dan mereka tidak dapat mendukung Anda secara teratur. Ini benar-benar sulit,” kata Bo Kyi kepada Kare News baru-baru ini.

Mereka tidak dapat menemukan pekerjaan atau melanjutkan studi mereka. Banyak dari mereka ditolak membuat paspor dan dilarang bepergian ke luar negeri.

Bantuan untuk Asosiasi Tahanan Politik yang berbasis di Yangon menyediakan komputer dan pelatihan mengemudi bagi tapol yang dibebaskan karena mereka tidak bisa bekerja di kantor-kantor pemerintah. Tapi, juga menemukan pekerjaan di perusahaan-perusahaan komersial tidak mudah.

“Ketika saya melamar pekerjaan, saya ditolak, karena keberadaan saya mungkin mencemarkan reputasi perusahaan,” kata seorang tahanan politik, Nyo Tun.

Ia mengatakan ia dipenjara dari tahun 1989-1997. Pemerintah setempat terus mengawasi dirinya bahkan setelah ia dibebaskan, sesekali menahan dan melakukan interogasi terhadap dirinya.

Beberapa organisasi membantu para tapol menargetkan pada masalah kesehatan. Ratusan mantan tapol terus menderita secara fisik bahkan setelah dibebaskan, demikian News AlertNet.

Win Tin, anggota senior partai oposisi utama, Liga Nasional untuk Demokrasi, mengatakan ia mulai yayasannya sendiri Win Tin dengan sumbangan pribadi US$ 19.000 untuk biaya medis bagi para mantan tahanan yang paling membutuhkan.

“Pemerintah harus bertanggungjawab terhadap para tapol yang telah dibebaskan karena mereka bekerja untuk negara dan ditempatkan di balik jeruji besi,” kata Win Tin.

Min Set mengkontribusi laporan ini dari Yangon.

Sumber: Jobs prove elusive, even as country struggles to leave its past behind

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Proses pembangunan Gereja Santa Clara dihentikan sementara
  2. Gua Maria Kerep Ambarawa jadi mercusuar iman bagi umat Katolik, Muslim
  3. Paus desak pengunjung di Vatikan mengenal Yesus dengan membaca Injil
  4. Uskup Timika kecam penembakan aparat TNI terhadap umatnya
  5. Komnas HAM: Polisi India gagal menangani penyelidikan pemerkosaan biarawati
  6. Tokoh agama: Pancasila Rumah Kita, perbedaan adalah rahmat
  7. Polisi didesak bertindak adil dalam penyelidikan terbakarnya gereja
  8. Presiden Filipina minta dukungan Gerakan Karismatik Katolik
  9. Komnas HAM investigasi kasus penembakan warga Timika
  10. Komsos KWI: Cyber Mission, panggilan terkini orang Katolik
  1. Warga masih trauma dan derita fisik akibat perang saudara selama 26 tahun
  2. Kaus perkosaan di India jauh lebih tinggi dari data yang dilaporkan
  3. Para uskup AS belajar isu migran di Malaysia
  4. TV María akan menampilkan acara untuk anak-anak, orang muda
  5. Uskup Timika kecam penembakan aparat TNI terhadap umatnya
  6. Kehadiran minoritas harus memberi arti bagi mayoritas
  7. Komnas HAM investigasi kasus penembakan warga Timika
  8. Renungan Minggu Biasa XXII bersama Pastor Bill Grimm
  9. Jika Gairah Hidup Anda Redup, Nyalakan dengan Ini
  10. Prioritas, pewartaan, sentuhan kasih mencerminkan latar belakang Paus Fransiskus
  1. Tentu saja kesibukan sebatas Liturgi - Altar, perlu diimbangi dengan ketegasan p...
    Said sani@ on 2015-08-21 11:51:00
  2. Silahkan baca di teks ini selengkapnya...terima kasih.. http://www.mirifica.net...
    Said on 2015-08-19 14:30:00
  3. “Dalam perjalanan ke depan, Gereja Katolik memandang bahwa pemerintah dan para p...
    Said kristiadjirahardjo on 2015-08-17 10:55:00
  4. Undangan kepada Bapa Suci dr Menag unt berkunjung ke Indonesia,tentu sangat meng...
    Said tarcisius fenfat on 2015-08-15 10:51:00
  5. Menuju keteraturan......
    Said on 2015-08-14 16:46:00
  6. Baik sekali kalau Bpk Menteri kunjung ke Vatikan.....
    Said on 2015-08-14 16:45:00
  7. Salut kepada menteri agama t ksi atas upayanya utk mengundang bp paus franciskus...
    Said Eduardus on 2015-08-13 13:29:00
  8. Roma 10:9: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan...
    Said mietiaw69 on 2015-07-29 14:34:00
  9. Pemerintah terus mengundang investor - dan tentu akan memberi izin untuk itu. S...
    Said on 2015-07-29 07:50:00
  10. Negara Cina tidak mau menjadi warga bumi yang mudah bergaul..sepanjang masa. Ama...
    Said on 2015-07-25 08:12:00
UCAN India Books Online