UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Kekurangan panggilan imamat paksa Gereja mencari alternatif

29/01/2013

Kekurangan panggilan imamat paksa Gereja mencari alternatif thumbnail

 

Sepertiga dari 12 seminari regional yang diakui pemerintah Cina telah menghentikan operasi mereka dalam beberapa tahun terakhir karena berbagai alasan.

Seminari Tinggi Montecorvino di Provinsi Shanxi bagian utara adalah kasus yang paling terakhir. Seminari ini gagal merekrut seminaris baru, mempertahankan guru dan mengalami perselisihan antara sejumlah pengelolanya.

Dua minggu lalu, para uskup lokal dan perwakilan keuskupan sepakat menutup sementara seminari itu selama dua tahun.

Salah satu administrator yang membuat keputusan yang menyakitkan ini mengatakan ia merasa khawatir bahwa hal itu akan lebih sulit merekrut siswa baru ke depan karena kekurangan panggilan imamat.

Masalah yang sama ini dialami dua seminari,  satu di Daerah Otonomi Mongolia bagian utara dan yang lainnya di Provinsi Shandong bagian timur berhenti menerima siswa baru masing-masing tahun 2006 dan 2009.

Selain itu juga Seminari Sheshan di Shanghai. Di seminari ini keuskupan menunda perkuliahan “sampai pemberitahuan lebih lanjut”, menyusul penahbisan kontroversial Uskup Auksilier Thaddeus Ma Daqin pada Juli. Dia telah dijadikan tahanan rumah di seminari itu sejak saat itu.

Kekurangan panggilan imamat adalah masalah umum di seluruh dunia. Uskup Joseph Zhang Xianwang dari Jinan mengatakan akibat Cina menerapkan “kebijakan satu anak” telah menambah tantangan Gereja untuk menarik anak-anak menjadi imam.

Segera setelah Seminari Roh Kudus di Shandong ditutup, Uskup Zhang memutuskan membuka pintu bagi kaum awam. Tahun lalu, keuskupannya menyelenggarakan sembilan kursus di sana, masing-masing berlangsung 1-2 minggu dan menarik 60-100 orang.

Sebuah tim yang terdiri dari sejumlah imam, suster dan para pemimpin awam bertanggungjawab atas karya pembinaan itu. Mereka juga mengundang imam berpengalaman dari Provinsi Hebei tetangga untuk memberikan kuliah, kata uskup berusia 48 tahun itu.

Namun, setelah menerima kursus sejumlah awam beralih ke gaya Gereja Evangelis Protestan, katanya.

“Mereka lebih menekankan komunitas kecil dan peran kaum awam. Beberapa bahkan lebih memilih mengadakan pertemuan doa pribadi dan bukannya pergi ke gereja dan menerima sakramen-sakramen.

“Jadi saya telah meminta para imam dan guru untuk berbicara lebih banyak tentang hirarki Gereja,” kata uskup itu.

Pastor Joseph Liu Baocun dari Xingtai, seorang guru seminari, setuju bahwa keuskupan lokal harus beralih perhatian mereka pada pembinaan awam akibat panggilan imamat yang menurun. Namun, ia mengingatkan bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas.

Dia menyalahkan situasi kacau di Gereja Cina sehingga seminari tinggi mengalami kegagalan memenuhi standar yang layak.

Jika para imam menerima pelatihan di bawah standar, kualitas orang awam secara keseluruhan akan menurun juga, katanya.

“Untuk mencapai pembinaan awam yang efektif, kita harus menargetkan umat yang tidak hanya berpengetahuan luas, tapi juga moral. Rekrutmen harus ketat, atau kita akan mengulangi kegagalan dalam formasi imamat,” tegas pastor Liu.

Seorang imam lain dari Hebei yang hanya ingin menyebut dirinya sebagai Pastor John juga merasa prihatin dengan kualitas para guru.

Dia melihat keuskupan-keuskupan lokal dan paroki melaksanakan pembentukan awam dengan cara mereka sendiri.

“Jika kita mengadakan kerja sama lebih banyak, kita bisa memecahkan masalah kualitas guru dan membuat pelatihan lebih profesional,” kata imam muda itu.

Menurut Pusat Studi Roh Kudus Keukupan Hong Kong, jumlah panggilan imamat dan awam di Cina menunjukkan sebuah “fenomena dataran tinggi” setelah tiga dekade reformasi. Pertumbuhan imam yang pesat mencapai puncaknya tahun 1990-an, namun panggilan khusus itu tidak bisa dipertahankan di era milenium baru.

Dalam Gereja “terbuka”, yang diakui pemerintah misalnya, setiap tahun dari tahun 1999-2004 sebanyak 70-80 imam baru yang ditahbiskan, tapi kemudian jumlah itu menurun tajam dan terus berkurang hingga 10 imam tahun 2007.

Beberapa seminari regional yang pernah memiliki lebih dari 100 siswa saat ini hanya memiliki 30 siswa atau kurang yang mendapat pendidikan filsafat dan teologi sekitar tujuh tahun sebelum menjadi imam.

Seminari Gereja bawah tanah menghadapi kondisi yang lebih buruk seperti kekurangan fasilitas, guru dan siswa. Kontinuitas kurikulum mereka sering dipengaruhi oleh situasi politik.

Sumber: Acute shortage of priestly vocations forces Church to seek alternatives

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Mahasiswa Papua demo di Jakarta tuntut merdeka
  2. Forum dialog Jakarta-Papua demi selesaikan polemik Papua
  3. Keuskupan Manado terus melakukan persiapan untuk IYD 2016
  4. 15 tahun sahur bareng kaum pinggiran
  5. Mgr Harjosusanto termasuk lima uskup agung Asia yang menerima pallium di Vatikan
  6. Dubes Vatikan ajak umat berdoa bagi Paus Fransiskus
  7. Pendidikan alternatif membawa harapan warga miskin di Filipina
  8. Terlepas dari keputusan AS, Filipina tidak setuju pernikahan gay
  9. Bagi penduduk daerah perbatasan, era tanpa kewarganegaraan berakhir
  10. Agama ramah dimulai dari diri sendiri
  1. Paus desak uskup agung baru menjadi saksi yang berani
  2. Menghadapi diskriminasi dalam Gereja, Kristen Dalit mengadu ke PBB
  3. Mgr Harjosusanto termasuk lima uskup agung Asia yang menerima pallium di Vatikan
  4. Forum dialog Jakarta-Papua demi selesaikan polemik Papua
  5. Di Tacloban, korban topan kembalikan keceriaan dengan festival
  6. Radikalisme akan tetap ada selama adanya ketidakadilan
  7. Agama ramah dimulai dari diri sendiri
  8. Integrasi politik di Papua stagnan akibat pelanggaran HAM
  9. Di Bangladesh, pernikahan anak menghadapi kenyataan suram
  10. Jesuit akan fokus pada pendidikan di Asia
  1. 1) "Sekolah cinta kasih" untuk orang tua sebelum menikah, agar tahu mengasihi an...
    Said on 2015-06-24 06:48:00
  2. Suster2 di biara butuh penjaga keamanan wanita (satpam wanita) yang terlatih men...
    Said on 2015-06-23 04:35:00
  3. Memprihatinkan... masalah bisa dipecahkan hanya kalau banyak minat menjadi imam ...
    Said on 2015-06-19 06:15:00
  4. Ribut selalu soal puasa dan warung. Mungkin karena jengkel bahwa puasa itu diwa...
    Said on 2015-06-19 05:59:00
  5. Kita dukung Paus Fransiscus - titik. Sebagian penentang besar ada di Amerika.. ...
    Said on 2015-06-18 08:01:00
  6. Katanya, Australia memang mengakui menyuap. Paling tidak, jujur....
    Said on 2015-06-12 08:11:00
  7. Sudahlah, jangan terlalu vokal. Kekhawatiran sebaiknya tidak diucapkan.. Memang...
    Said on 2015-06-12 08:08:00
  8. Bpk Menteri Lukman pikiriannya lurus, tulus dan peduli. Masih ada saja orang bi...
    Said on 2015-06-12 07:45:00
  9. Bangga ada siswi dari Makassar terpilih dan diundang sebagai wakil Indonesia.. k...
    Said on 2015-06-12 07:35:00
  10. Takut para migran membawa penyakit? Memang harus di karantina dulu.. Australia ...
    Said on 2015-06-11 17:18:00
UCAN India Books Online