UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Pelaku perkosaan masih ‘di bawah umur’ bisa dibebaskan dari hukuman

30/01/2013

Pelaku perkosaan masih ‘di bawah umur’ bisa dibebaskan dari hukuman thumbnail

 

Tersangka keenam yang terlibat dalam pemerkosaan geng baru-baru ini terhadap seorang mahasiswi kedokteran di New Delhi, India telah dinyatakan sebagai anak ‘di bawah umur’ oleh Dewan Peradilan Anak di India, memicu perdebatan hukum saat ini.

Keputusan itu akan memungkinkan tersangka dibebaskan pada 4 Juni karena ia masih berusia 18 tahun.

Kuasa hukum mengatakan mereka akan mengajukan banding kepada pemerintah di pengadilan yang lebih tinggi.

Terdakwa tersebut, dijelaskan oleh polisi Delhi sebagai yang paling brutal dari enam terdakwa lain. Dewan peradilan menjelaskan ia berusia 17 tahun, enam bulan, dan 24 hari (pada Selasa).

Di India, orang yang kurang dari 18 tahun dianggap sebagai anak di bawah umur.

Sumber mengatakan polisi cenderung menentang keputusan dewan dan “mencari argumen hukum” terkait usia.

Ayah korban, yang meninggal awal bulan ini menyusul cedera serius akibat insiden tersebut, menuntut hukuman mati bagi terdakwa remaja itu.

“Hukuman tidak boleh dikurangi meskipun ia adalah seorang remaja,” katanya.

Subramanian Swamy, ketua Janata Party (Partai Rakyat), mengatakan, “Alasan usia adalah salah untuk membebaskannya. Ketika seseorang melakukan kejahatan terhadap orang lain dengan cara yang serius, harus ada pembalasan. Dia harus dikenakan hukuman yang setimpal.”

Politisi senior Ram Bilas mengatakan, “Undang-undang harus diubah karena seorang anak modern atau anak berusia 16-17 tahun secara mental lebih maju ketimbang anak-anak di era 40 tahun lalu.”

Pemerintah harus mempertimbangkan kembali bagaimana hukum diberlakukan kepada remaja, seperti yang telah dilakukan di negara-negara seperti Australia dan AS, tambahnya.

Namun, yang lain berbagi pandangan yang berbeda.

Amod Kanth K., seorang pejabat pensiunan polisi, mengatakan kepada ucanews.com keputusan dewan terhadap remaja itu sesuai hukum negara.

Kanth, ketua Komisi Perlindungan Anak Delhi, mengatakan bahwa remaja yang harus diperlakukan secara berbeda.

“Seseorang hingga berusia 18 tahun adalah seorang anak. Dia harus ditangani secara berbeda,” katanya. “Di bawah usia 18 tahun, seorang anak tidak memiliki hak untuk menikah atau memilih. Bagaimana kita menyerahkan orang tersebut ke dalam sistem peradilan?”

Dewan itu berpedoman pada akte kelahiran tersangka dan dokumen-dokumen sekolahnya. Dewan ini menolak permohonan polisi untuk melakukan osifikasi (tes bentuk tulang) terdakwa untuk menentukan usianya.

Insiden pemerkosaan tertanggal 16 Desember di ibukota negara itu mengguncang negara itu, dan mendorong orang-orang turun ke jalan-jalan menuntut keamanan bagi perempuan dan hukum yang lebih ketat bagi mereka yang terlibat dalam kejahatan terhadap perempuan.

Sebuah komite yang dibentuk untuk meninjau kembali undang-undang perkosaan setelah insiden tersebut juga menolak menurunkan usia dari 18 tahun ke 16 tahun.

Sumber: Gang rape suspect ruled a ‘minor’

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Gereja Keuskupan Ruteng dan perjuangan tolak tambang
  2. Para ahli bela keputusan Paus menikahkan pasangan bermasalah
  3. Tantangan orang bercerai dan Katolik
  4. Gereja pertama di Cina diberi nama Santo Yohanes Paulus II
  5. Dewan Kardinal mulai membuat draf dokumen pertama untuk reformasi Vatikan
  6. Menag: Negara tidak boleh dikalahkan oleh kelompok intoleran
  7. Soal GKI Yasmin, pemerintah akan jalankan putusan MA
  8. Paus Fransiskus undang Presiden Xi Jinping ke Vatikan
  9. PBNU: Jokowi tak boleh hapus Kementerian Agama
  10. Vietnam dan Vatikan menjajaki hubungan diplomatik penuh
  1. Paus kunjungi negara yang pernah hancurkan ribuan gereja dan masjid
  2. Perdebatan memanas terkait Komuni bagi umat Katolik bercerai dan menikah lagi
  3. Hari Perdamaian Dunia, Menag ajak komitmen menegakan toleransi
  4. Otoritas Cina robohkan dua gereja Katolik
  5. Karitas merayakan 25 tahun pelayanan sosialnya di Nepal
  6. Korban konflik Ambon rayakan Hari Perdamaian Dunia
  7. Orang Muda Katolik gelar Idol Paroki 2014
  8. Gereja Keuskupan Ruteng dan perjuangan tolak tambang
  9. Renungan Hari Minggu bersama Pastor Bill Grimm
  10. Etika Kebersamaan dalam Keberagaman
  1. Ini urusan Malaysia, tetangga dekat tetapi sangat beda dengan kita. Kita pastik...
    Said on 2014-09-06 07:54:00
  2. Apa yang terjadi dengan ditentukannya hanya ada 5 agama yang diakui? Dapatkah d...
    Said on 2014-09-06 07:46:00
  3. Pak Menteri mengatakan "sulit" dilakukan. Itu tidak sama dengan "tidak mungkin"...
    Said on 2014-09-06 07:15:00
  4. Ya memang perlu, khawatirnya yang 120 juta itu tidak mengerti untuk apa segala i...
    Said on 2014-09-03 15:53:00
  5. Puji Tuhan Bapak Menteri Agama yang baru tidak membiarkan yang tidak boleh dibia...
    Said on 2014-09-02 05:36:00
  6. DUC IN ALTUM...
    Said Stefanus on 2014-08-28 07:21:00
  7. Mantap. Tempatnya luas, berada di sementanjung Jafna. Disana ada benteng...penin...
    Said Alfons Liwun on 2014-08-27 11:39:00
  8. karena itu, pemerintah harus tegas terhadap kelompok2 intoleran dan suka main ha...
    Said Ama Kaka on 2014-08-23 15:03:00
  9. Romo Mangnis benar dan menang. Negara tdk boleh diurus oleh mereka yang serakah,...
    Said MAtheus on 2014-08-22 09:47:00
  10. CAHAYA CINTA KASIH~ Yakinilah bahwa Allah Swt Pencipta, Pemilik, Penguasa Alam ...
    Said Yang Setia Yang Benar on 2014-08-14 01:50:00
UCAN India Books Online