“Kotak Leher Angsa’, tempat aman bagi bayi yang tak dikehendaki

31/01/2013

“Kotak Leher Angsa’,  tempat aman bagi bayi yang tak dikehendaki thumbnail

 

Taiji Hasuda mulai bekerja di Rumah Sakit Jikei di Kota Kumamoto tahun 1969. Sekarang diusianya yang ke-76 tahun, Hasuda menjelaskan dampak perawatan Rumah Sakit (RS) Ibu dan Anak Katolik yang ditanganinya selama hari-hari awal, ketika para Misionaris Fransiskan Maria mengelola rumah sakit itu.

“Di sini saya melihat para suster setia merawat bayi-bayi prematur, kadang-kadang bergadang semalaman dengan mereka,” kata Hasuda.

“Selama karir saya sebagai bidan, saya kadang-kadang menemui kasus-kasus di mana ibu hampir meninggal akibat kehilangan darah yang berlebihan saat melahirkan. Saya tidak bisa berdoa,” katanya.

“Banyak kali saya tidak bisa memberikan penjelasan selain campur tangan Tuhan karena mengapa seorang wanita tidak meninggal. Itulah sebabnya saya akhirnya dibaptis bersama istri saya tahun 1998.”

Setiap kali Hasuda membaca berita tentang anak-anak yang dilecehkan dan sekarat, ia tidak bisa membantu. “Saya merasa menyesal karena tidak bisa menyelamatkan mereka,” katanya.

Tahun 2004 ia pergi ke Jerman bersama dengan direktur RS itu. Di sana mereka mengamati sebuah babyklappe (“kotak penitipan bayi”), di mana para orang tua tidak mau merawat bayi yang tidak dikehendaki.

Setelah ia kembali ke Prefektur Kumamoto, sekitar 890 kilometer barat daya Tokyo, sebuah wilayah yang diguncang oleh tiga kasus bayi yang ditinggalkan dan dibiarkan mati.

Akhirnya, pada Mei 2007, Hasuda dan RS Jikei membuat kotak penitipan bayi yang pertama di Jepang bagi bayi yang tidak diinginkan, yang disebut Konotori no Yurikago (“Kotak Bayi Leher Angsa”).

Kotak itu telah menjadi topik perdebatan sengit, namun dalam lima tahun beroperasi lebih dari 80 anak telah ditinggalkan di sana.

“Saya belum menikah, saya tidak memiliki banyak uang, lalu saya membuat sebuah kotak”, yang disediakan untuk para orang tua menitipkan bayi mereka sebagai pilihan terakhir.

Ketika seorang bayi dibawa ke kotak itu, RS Jikei menghubungi polisi, walikota, dan pusat konseling anak. Biasanya, seseorang dari pusat konseling itu akan mengambil anak dan menempatkannya di panti anak hingga usia tiga tahun.

“Di sana anak-anak itu berpikir staf pusat sebagai ibu mereka, tetapi di bawah peraturan saat ini anak-anak harus pindah ke panti asuhan mulai usia tiga tahun. Pada hari-hari berikutnya mereka pergi, anak-anak menangis dan menjerit. Ini tidak berbeda ketika mereka dipelihara ibu kadung mereka.”

Pada prinsipnya, mereka akan tinggal di panti asuhan hingga usia 18 tahun, tetapi dalam prakteknya mereka biasanya diambil oleh orang tua asuh atau orang tua kandung mereka. Ketika mereka berusia 18 tahun, mereka harus meninggalkan panti asuhan, dan juga sebuah asrama untuk mereka.

“Ini juga sangat penting bahwa seorang anak dibesarkan dalam sebuah keluarga, meski tidak bersama orang tua kandung mereka. Orang tua memiliki pengaruh yang besar pada masa depan mereka,” kata Hasusa.

Setiap kali orang tua pergi ke RS Jikei membantu secara pribadi. RS itu merekomendasikan adopsi sebagai pilihan terbaik bagi mereka yang tidak bisa membesarkan anak-anak mereka sendiri.

Hingga akhir Maret 2012, lebih dari 130 bayi telah ditemukan dengan orang tua angkat mereka untuk diadopsi.

Sumber: ‘Stork’s Cradle’ – a safe haven for unwanted newborns

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Mgr Harjosusanto termasuk lima uskup agung Asia yang menerima pallium di Vatikan
  2. Menghadapi diskriminasi dalam Gereja, Kristen Dalit mengadu ke PBB
  3. Paus desak uskup agung baru menjadi saksi yang berani
  4. Umat Katolik desak polisi segera menangkap pelaku pemerkosaan biarawati
  5. Pertemuan para uskup Asia bahas perubahan iklim
  6. 15 tahun sahur bareng kaum pinggiran
  7. Renungan Hari Minggu bersama Pastor Bill Grimm
  8. Lahan parkir gereja dibuka untuk warga Muslim mengunjungi bazaar Ramadan
  9. Agama ramah dimulai dari diri sendiri
  10. Terlepas dari keputusan AS, Filipina tidak setuju pernikahan gay
  1. Renungan Hari Minggu bersama Pastor Bill Grimm
  2. Pernikahan sesama jenis sulit dilakukan di Indonesia
  3. Keluarga Kristen Pakistan dipukul dan diarak setelah dituduh melakukan penghujatan
  4. Komite untuk HAM berat segera disahkan
  5. Pertemuan para uskup Asia bahas perubahan iklim
  6. 173 warga Uyghur tiba di Turki setelah dibebaskan dari tahanan Thailand
  7. Bagi jemaat Ahmadiyah, Ramadan berarti kasih meski ada tekanan
  8. Lahan parkir gereja dibuka untuk warga Muslim mengunjungi bazaar Ramadan
  9. Umat Katolik desak polisi segera menangkap pelaku pemerkosaan biarawati
  10. Gubernur Sulut dukung pembangunan pusat kaum muda Katolik
  1. 1) "Sekolah cinta kasih" untuk orang tua sebelum menikah, agar tahu mengasihi an...
    Said on 2015-06-24 06:48:00
  2. Suster2 di biara butuh penjaga keamanan wanita (satpam wanita) yang terlatih men...
    Said on 2015-06-23 04:35:00
  3. Memprihatinkan... masalah bisa dipecahkan hanya kalau banyak minat menjadi imam ...
    Said on 2015-06-19 06:15:00
  4. Ribut selalu soal puasa dan warung. Mungkin karena jengkel bahwa puasa itu diwa...
    Said on 2015-06-19 05:59:00
  5. Kita dukung Paus Fransiscus - titik. Sebagian penentang besar ada di Amerika.. ...
    Said on 2015-06-18 08:01:00
  6. Katanya, Australia memang mengakui menyuap. Paling tidak, jujur....
    Said on 2015-06-12 08:11:00
  7. Sudahlah, jangan terlalu vokal. Kekhawatiran sebaiknya tidak diucapkan.. Memang...
    Said on 2015-06-12 08:08:00
  8. Bpk Menteri Lukman pikiriannya lurus, tulus dan peduli. Masih ada saja orang bi...
    Said on 2015-06-12 07:45:00
  9. Bangga ada siswi dari Makassar terpilih dan diundang sebagai wakil Indonesia.. k...
    Said on 2015-06-12 07:35:00
  10. Takut para migran membawa penyakit? Memang harus di karantina dulu.. Australia ...
    Said on 2015-06-11 17:18:00
UCAN India Books Online