UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Pemerintah didesak penuhi hak kaum Ahmadiyah

05/02/2013

Pemerintah didesak penuhi hak kaum Ahmadiyah thumbnail

Bonar Tigor Naipospos

 

Aktivis dari Setara Institute untuk Demokrasi dan Perdamaian mendesak pemerintah segera mengambil jalan keluar terhadap persoalan yang menimpa ratusan warga Ahmadiyah yang sudah 7 tahun mendekap di kamp pengungsian di Transito, Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Sampai sekarang mereka tidak mendapat  hak untuk hidup layak, untuk pendidikan, kesehatan dan memperoleh pelayanan publik,” kata Bonar Tigor Naipospos, Wakil Ketua Setara Institute, Senin (4/2).

Menurutnya, kaum Ahmadiyah di Transito berjumlah sekitar 140 orang dari 35 kepala keluarga. Mereka diungsikan ke sana oleh pemerintah setempat mulai tahun 2006 karena terus mengalami serangan dari kelompok anti-Ahmadiyah sejak 2004.

“Selama di sana, mereka belum merasa nyaman. Perhatian pemerintah sangat minim. Karena kurangnya pelayanan dari pemerintah selama di pengungsian, di sana mereka mendirikan Trauma Center, tempat untuk konsultasi dan saling menguatkan antarsesama Ahmadiyah”, kata Naipospos.

Jemaah Ahmadiyah di NTB mengalami serangan sebanyak 7 kali, penyerangan terakhir mereka alami pada 26 November 2010.

Firdaus Mubarik, salah satu anggota Ahmadiyah mengatakan, mereka tinggal di bangunan aula di Transito. Setiap keluarga hanya menempati bilik-bilik berukuran 2×2 meter persegi.

“Kami menggunakan kain bekas dan kardus sebagai dinding. Untuk tidur, kami menggunakan tumpukan kardus dan kain bekas, sebagai ganti kasur”.

Kesulitan lain yang mereka alami adalah kurangnya pasokan listrik dan air bersih.

“Listrik sering mati, sehingga anak-anak kami sulit belajar. Selain itu air bersih sulit didapat”, katanya.

Karena kesulitan hidup, sebagian anak muda di sana memilih merantau. “Ada sekitar 40 anak yang mengungsi di daerah Jawa Barat agar bisa mendapat pendidikan yang layak”, katanya.

Ismail Hasani, peneliti Setara Institute mengatakan, pemerintah pusat seharusnya membuat terobosan kebijakan, terlebih lewat UU No. 26 Tahun 2000 tentang Hak Asasi Manusia yang dengan jelas menjamin adanya ganti rugi, kompensasi maupun rehabilitasi korban kekerasan.

“Kaum Ahmadiyah itu korban, tapi mengapa pemerintah tidak berpihak pada mereka, hanya karena mereka Ahmadiyah”, katanya.

Ia menambahkan, “Jika kasus ini tidak selesai, kekerasan serupa bakal terus mengancam kaum minoritas yang lain di Indonesia”.

Kasus yang menimpah Ahmadiyah belum mencapai titik terang. Tahun lalu, mereka bahkan pernah ditawarakan dua pilihan oleh pemerintah setempat. Pertama, mereka mencari suaka ke negara lain. Kedua, mereka dipindahkan ke sebuah pulau yang terisolasi dan belum ditempati di Gili Tingkong, sekitar 40 km dari Lombok.

Ryan Dagur, Jakarta

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Parlemen provinsi Pakistan sahkan RUU yang melarang pekerja anak
  2. Qanun baru Kabupaten Aceh Utara pisahkan ruang kelas siswa, siswi
  3. Keluarga Filipina bersukacita menyambut penundaan hukuman mati Mary Jane
  4. Remaja diselamatkan setelah terperangkap 5 hari dalam reruntuhan akibat gempa di Nepal
  5. Paus Fransiskus menyumbangkan dana untuk korban gempa di Nepal
  6. Laporan mengecam budaya impunitas di India terkait kekerasan agama
  7. Pengagum Kardinal Sin dan tokoh Petisi 50 wafat
  8. Krisis migran dan perubahan iklim menjadi fokus perhatian Paus dan Sekjen PBB
  9. Terpidana mati kasus narkoba asal Brasil 'tidak sadar' akan dieksekusi
  10. Uskup Nepal mengisahkan kehancuran luar biasa akibat gempa
  1. Qanun baru Kabupaten Aceh Utara pisahkan ruang kelas siswa, siswi
  2. Soal dialog antaragama, Romo Magnis berikan 3 catatan
  3. Parlemen provinsi Pakistan sahkan RUU yang melarang pekerja anak
  4. Kasus Mary Jane jadi momentum perbaiki hukum Indonesia
  5. Remaja diselamatkan setelah terperangkap 5 hari dalam reruntuhan akibat gempa di Nepal
  6. Pemenang Oscar: Silence menginspirasi iman Katolik sejak masa kecil saya
  7. Pengagum Kardinal Sin dan tokoh Petisi 50 wafat
  8. Pelayanan Romo Carolus membuat FPI jatuh hati
  9. Seorang kardinal menegaskan Gereja Katolik tidak pernah bekerja untuk konversi
  10. Pengiriman bantuan kemanusian untuk korban gempa di Nepal mengalami hambatan
  1. Selalu ada Kartini di setiap zaman......
    Said Viktor Sagala on 2015-04-28 14:58:00
  2. Ya pak Kalla, tolong Anda bantu Pak Jokowi yang masih muda dalam segala hal deng...
    Said on 2015-04-28 09:58:00
  3. Istilah "kedaulatan hukum" seperti arti Kudus saja.. bukan! Sekarang dengan kep...
    Said on 2015-04-28 09:52:00
  4. Benar, setiap detik adalah baik untuk pengampunan. Terima kasih untuk petisi An...
    Said on 2015-04-28 09:35:00
  5. Beberapa tahun lagi kita akan meninggalkan bumi termasuk Indonesia. Pada waktu ...
    Said on 2015-04-24 08:03:00
  6. Diharap Bapak Menteri menyertakan pemuka agama lain disamping pemuka agama Islam...
    Said on 2015-04-24 07:52:00
  7. Orang berniat kurang baik takut pada simbol Salib Kristen... entah takut kejatuh...
    Said on 2015-04-23 07:55:00
  8. Senyum manis Kartini Susi penuh kasih pada bundanya... Siapa duga pada suatu har...
    Said on 2015-04-23 07:45:00
  9. Saya rasa saat yang tepat memohon grasi untuk Mary Jane dan yang lain adalah wak...
    Said on 2015-04-21 08:23:00
  10. Inilah orang kudus dewasa ini,, mereka mengorbankan diri tanpa takut dan dengan ...
    Said Boni Farneubun on 2015-04-19 06:56:00
UCAN India Books Online