
Kenaikan prevalensi penderita HIV tertinggi adalah pada pria yang potensial untuk berisiko tinggi (risti) yaitu dari 0,1 persen tahun 2007 menjadi 0,7 persen, demikian menurut Survei Terpadu Biologi Perilaku (STBP) tahun 2011.
“Jangan dilihat dari jumlahnya yang ‘hanya’ 0,7 persen, tapi harus dilihat dari kenaikannya yang tujuh kali lipat. Ini merisaukan,” kata Menkes Nafsiah Mboi dalam temu media mengenai situasi HIV/AIDS terbaru di Kementerian Kesehatan Jakarta, Selasa, seperti dilansir tribunnews.
Pria risti itu merupakan pria yang dengan sengaja membeli seks di tempat-tempat pelacuran dan dari identifikasi yang dilakukan Kementerian Kesehatan sebagian besar merupakan pria yang bekerja jauh dari rumah di atau “mobile men with money“.
“Penggunaan kondom di lokalisasi juga tidak terlalu menggembirakan dan malah terjadi penurunan,” ujar Nafsiah.
“Kita ketahui ada sekitar 8 juta pria yang pindah dari tempat tinggalnya untuk mencari pekerjaan. Kita cari pendekatan yang paling cocok dengan kelompok ini,” paparnya.
Pencapaian indikator persentase penggunaan kondom pada hubungan seks beresiko tinggi saat ini masih jauh dari harapan dimana data Survei Terpadu Biologi Perilaku (STBP) tahun 2011, penggunaan kondom baru mencapai 35 persen dari target tahun 2012 sebesar 45 persen dan masih jauh dari target tahun 2014 sebesar 65 persen.
Data STBP menunjukkan penggunaan kondom pada hubungan seks komersial terakhir menunjukkan adanya penurunan dari 68 persen tahun 2007 menjadi hanya 61 persen tahun 2011.
Freeport digugat menyusul terjadinya kecelakaan kerja
Konferensi internasional hasilkan Deklarasi Makassar tentang perdamaian
Orang miskin dipersulit masuk PTN di Jawa