UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Seorang biarawati melayani para penderita kusta selama 25 tahun

07/02/2013

Seorang biarawati melayani para penderita kusta selama 25 tahun thumbnail

 

Pada usia 53 tahun, Suster Lina Na Po telah menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk merawat para penderita kusta di negara bagian Shan, Myanmar bagian utara.

Meskipun seluruh dunia semakin menurun, kusta masih menjadi masalah di Myanmar. Selain ditinggalkan oleh keluarga mereka, banyak pasien kusta itu tidak diperhatikan.

Suster Na Po mengakui pelayanan terhadap orang kusta adalah mulia. Tapi, tidak berarti dia selalu melihat sisi terang dalam pelayanannya selama 25 tahun.

“Saya mengadu kepada Tuhan, mengapa saya ditugaskan untuk para penderita kusta dan saya bertanya kepada-Nya, apakah saya tidak akan memiliki kesempatan untuk melayani di tempat lain,” tanyanya.

Menjadi seorang biarawati pada berusia 26 tahun sejak 1987, Suster Na Po ditugaskan ke Loilem di keuskupan Agung Taunggyi, di negara bagian Shan bagian selatan, di mana ia pertama kali datang berkontak dengan para penderita kusta.

Setahun sebelum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan program terapi multi-obat, Myanmar pada waktu itu menderita epidemi kusta dengan lebih dari 53 kasus per 100.000 orang.

“Saya takut penyakit itu sehingga saya menangis lalu merasa kecewa. Tapi, saya berdoa kepada Tuhan untuk menghibur saya dan membantu saya merawat para pasien kusta,” katanya hari pertamanya di Loilem.

Dia tidak tahu tentang penyakit ini, tambahnya, dan bau dari pasien sangat menyengatkan.

Setelah empat tahun, Suster Na Po diminta agar dia tidak merawat para penderita kusta di tempat itu lagi. Tapi, dia kemudian ditugaskan untuk kelompok penderita kusta di Nong Kan, keuskupan Kengtung di timur laut Myanmar dekat perbatasan dengan Cina dan Thailand, yang dikenal sebagai Segitiga Emas. Dia menghabiskan 18 tahun di sana.

Saat tugasnya berakhir di Nong Kan tahun 2010, tingkat penderita kusta di Myanmar telah menurun akibat program perawatan berkelanjutan dari negara itu yang dipimpin oleh WHO.

Tahun 2005, negara ini memiliki hanya 4,4 kasus per 100.000 orang, sebuah angka yang meningkat sedikit menjadi 4,5 kasus per 100.000 pada akhir 2011.

Di antara 3.000 dan 3.500 penderita baru dilaporkan setiap tahun, kata Dr Tin Maung Aye, wakil direktur dari Program Pengendalian Kusta Nasional, seperti dikutip oleh mingguan berbahasa Inggris Myanmar Times.

Meskipun jumlahnya menurun, keterlibatan Suster Na Po dengan penderita kusta hingga tahun 2010 sebelum dia ditugaskan kembali ke Loilem, posnya yang pertama.

Para penderita kusta membuat pesta pada Mei untuk merayakan 25 tahun sebagai seorang biarawati, sebuah peristiwa yang paling bahagia dalam kehidupan religiusnya, katanya. Namun, sisi yang terburuk ketika ia melihat pasien kusta kurang cukup makanan, akibat kurangnya dana.

Dengan mengatakan dia lebih memilih “hidup sederhana,” Suster Na Po masih merawat 70 penderita kusta setiap hari sejak bangun pagi hingga malam sebelum tidur.

“Tapi, saya menerima tugas ini sebagai panggilan Tuhan, dengan merawat para penderita kusta seperti ibu kandung,” tambahnya.

Sumber: A Myanmar nun looks back on 25 years of dedication

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Menteri Anies kunjungi gereja di Ambon, pertama kali berdiri di mimbar gereja
  2. Mantan staf Karitas dan PBB di Jepang memilih jadi biarawati
  3. Tunawisma ditarik dari jalan-jalan, disembunyikan di penginapan mewah selama kunjungan Paus
  4. Uskup Agung Kuala Lumpur mengatakan kata 'Allah' masih digunakan dalam Misa
  5. Kemensos siapkan 700 pekerja sosial rehabilitasi korban narkoba
  6. Tiongkok akan melanjutkan pentahbisan uskup ilegal
  7. Romo Benny: Presiden bertindak tak sesuai Konstitusi
  8. Utusan Vatikan bertemu para pejabat Vietnam di Hanoi
  9. Jaringan Islam Liberal: Charlie Hebdo tidak anti-Islam
  10. Para frater belajar menulis berita
  1. Renungan Hari Minggu bersama Pastor Bill Grimm
  2. Ratusan organisasi desak Myanmar mendrop RUU tentang agama, pernikahan yang kontroversial
  3. Kelompok HAM internasional soroti pelanggaran HAM di Indonesia
  4. Kelompok HAM: Tiongkok lakukan pelanggaran HAM luar biasa
  5. Kemiskinan kronis memicu pekerja anak
  6. Gereja kecam persembunyian orang miskin selama kunjungan Paus
  7. Semarang terbitkan Perda Perlindungan Perempuan dan PSK
  8. Kardinal Baldisseri turut berdebat tentang keluarga menjelang sinode
  9. Pengadilan Tiongkok menolak klaim pendeta terkait pelanggaran hak asasi
  10. Presiden Obama ingatkan India terkait kekerasan agama
  1. Boleh saja melarang jika di tempat publik, tetapi jaminlah kalau perayaan diadak...
    Said on 2015-01-14 07:48:00
  2. Saya selalu beranggapan bahwa kecelakaan tidak perlu terjadi... Bahwasanya terja...
    Said on 2015-01-14 07:44:00
  3. Alangkah indahnya nanti kalau ada pemimpin baik.. semoga terus demikian....
    Said on 2015-01-14 07:30:00
  4. Aceh lain sifatnya dari Indonesia pada umumnya.. Kita prihatin nasib perempuan t...
    Said on 2015-01-14 07:17:00
  5. Mudah2an semacam ensiklik juga ditujukan untuk Indonesia, walaupun kaum Kristen-...
    Said on 2015-01-14 07:06:00
  6. Perjalanannya masih panjang di Aceh.....
    Said on 2015-01-09 05:46:00
  7. Baik sekali kalau dalam TNI tidak membedakan perayaan Nasrani - yang hadir semua...
    Said on 2015-01-09 05:44:00
  8. Like...
    Said Yohanes Seandy Sunjoko on 2014-12-21 10:11:00
  9. Mestinya yang mengajar, ya mengajar yang baik. Janganlah di khotbah pada waktu ...
    Said on 2014-12-18 07:06:00
  10. iya, iya, baiklah... tenaga dalam saja, jangan senjata. ..Banser kan artinya ba...
    Said on 2014-12-18 07:03:00
UCAN India Books Online