Komnas HAM “di ujung tanduk”

11/02/2013

Komnas HAM “di ujung tanduk” thumbnail

 

Koalisi sejumlah LSM yang antara lain terdiri atas Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menyatakan bahwa Komnas HAM sedang “di ujung tanduk”.

Siaran pers Koalisi yang diterima di Jakarta, Sabtu (9/2), menyebutkan, putusan rapat pleno Komnas HAM yang memuluskan tata tertib masa keketuaan menjadi satu tahun merupakan keputusan yang buruk karena akan memperlemah pelaksanaan rencana dan prioritas kerja penanganan kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia.

Selain itu, menurut Koalisi, upaya mendesak agar rotasi pimpinan digilir setiap satu tahun tanpa adanya pemikirian yang berdasarkan akal sehat menunjukkan adanya situasi krisis mendalam di Komnas HAM.

Seperti dilansir liputan6.com, berbagai LSM tersebut menyatakan bahwa hal itu memperlihatkan preseden buruk bagi penegakan HAM di Indonesia.

Komnas HAM dinilai gagal menjelaskan argumentasi pilihan kebijakan merubah Tata Tertib Pimpinan menjadi satu tahun.

Sementara sejumlah kritik dan masukan dari beragam kelompok masyarakat sipil yang telah disampaikan kepada lembaga tersebut menyatakan mendukung pimpinan tetap untuk menjabat selama 2 tahun 6 bulan.

Koalisi LSM menyayangkan anggota Komnas HAM yang setuju perubahan menjadi satu tahun dan mengindikasikan adanya kepentingan politik untuk melemahkan lembaga HAM tersebut.

Karenanya, Koalisi mengecam keputusan Komnas HAM yang tetap memberlakukan Tata Tertib keketuaan 1 tahun, termasuk keputusan untuk memberlakukan Tata Tertib baru ini secara surut.

Koalisi juga menyatakan akan melaksanakan uji publik terhadap ketentuan Tata Tertib Komnas HAM yang baru, dan mendesak DPR untuk mengambil tindakan terhadap Komnas HAM dengan memanggil seluruh anggota Komnas HAM.

Pemanggilan tersebut dinilai penting untuk menjelaskan di muka publik tentang perubahan Tata Tertib masa kepemimpinan satu tahun dan pemberlakukan Tata Tertib baru secara surut.

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  2. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  3. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  4. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  5. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  6. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  7. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  8. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  9. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
  10. ya itu namanya minoritas.....
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:06:47
UCAN India Books Online