UCAN Philippines Catholic Church News
UCAN Spirituality

Kecaman bermunculan terkait eksekusi mati seorang warga Muslim

12/02/2013

Kecaman bermunculan terkait eksekusi mati seorang warga Muslim thumbnail

 

Belum lama ini kelompok hak asasi manusia (HAM) memimpin aksi penolakan terkait eksekusi mati Mohammad Afzal Guru, seorang Muslim, terkait serangan terhadap parlemen tahun 2001.

Kecaman itu dilakukan akhir pekan lalu setelah keluarga Guru mengatakan mereka tidak diberitahu bahwa ia akan dieksekusi di New Delhi. Eksekusi itu berlangsung hanya enam hari setelah Presiden Pranab Mukherjee menolak grasi.

Para pejabat pemerintah mengatakan kemarin bahwa keluarga Guru diberitahu tentang eksekusi tersebut melalui “pos kilat” yang oleh Uni Rakyat Kebebasan Sipil (PUCL) menilai sebagai “sebuah cara yang memalukan”. Dia dimakamkan di dalam penjara Tihar di New Delhi.

“Eksekusi terburu-buru … dimana Afzal Guru digantung, sebagai bentuk pelecehan terhadap norma-norma dengan tidak memberikan kesempatan bagi keluarganya untuk bertemu dengannya sebelum membawanya ke tiang gantung. Tindakan ini secara jelas menunjukkan bahwa ada pertimbangan politis di balik ini,” kata pernyataan PUCL.

Shashikumar Velath, direktur program Amnesty International India, mengatakan pemerintah sudah waktunya menghapuskan hukuman mati.

“Kami mengutuk eksekusi tersebut. Hal ini patut disayangkan karena menempatkan India bertentangan dengan tren global yang menghapus hukuman mati,” katanya, seraya menambahkan bahwa Guru tidak memperoleh pengadilan yang adil.

India telah menerapkan moratorium informal tentang hukuman mati dalam beberapa tahun terakhir, meskipun moratorium itu telah diakui, namun sebagian besar tidak pernah dilakukan.

Pada akhir November, Ajmal Kasab, satu-satunya yang selamat dari kelompok yang bertanggung jawab terkait serangan teror tahun 2008 di Mumbai, dihukum gantung, yang merupakan eksekusi pertama di negara itu sejak tahun 2004.

Guru, yang berasal dari Negara Bagian Jammu dan Kashmir di India barat laut, dihukum karena membantu lima teroris Islam dari kelompok Lashkar-e-Tioba dan Jaish-e-Mohammad untuk menyerang parlemen pada 1 Desember 2001.

Pasukan keamanan menembak mati semua lima orang bersenjata tersebut setelah mereka menewaskan 12 orang, termasuk warga sipil, yang mendorong kelompok Hindu menyerukan hukuman mati.

Meenakshi Ganguly, direktur Human Rights Watch Asia Selatan, mendesak India “mengakhiri penggunaan eksekusi sebagai cara untuk memenuhi beberapa opini publik.”

Meskipun berbagai pihak berbeda pandangan politik sebagian besar mendukung eksekusi Guru. Menteri kepala Jammu dan Kashmir, Omar Abdullah, memutuskan hubungan dengan sekutu koalisinya yang berkuasa di New Delhi dengan mengecam keputusan itu.

“Generasi Kashmir akan menyaksikan Guru Afzal,” katanya, dalam sebuah wawancara televisi. “Anda [pemerintah] harus membuktikan kepada dunia bahwa hukuman mati tidak akan selektif.”

Sumber: Outrage grows over Muslim’s execution

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Pengacara Muslim kesal dengan doa Kristen gunakan kata Allah
  2. Romo Magnis protes terkait penghargaan kepada Presiden SBY
  3. Seorang anak yatim-piatu berusia tiga tahun 'merayakan' Misa
  4. Inilah muatan umum dalam Kurikulum baru untuk SD, SMP, dan SMA
  5. Keuskupan agung Jakarta beri penghargaan kepada website paroki terbaik
  6. Paus Fransiskus kanonisasikan 800 martir
  7. Pertumbuhan umat Katolik meningkat di Asia
  8. Romo Heuken SJ, ahli sejati Kota Jakarta
  9. Warga Filipina di Taiwan dilarang mengadakan prosesi Salib
  10. Deplu AS rilis laporan HAM di Indonesia
  1. 105 tahun Kebangkitan Nasional, Krisis Budi Pekerti
  2. Presiden sebaiknya pertimbangkan penghargaan ACF
  3. Komnas Perempuan: 85 kasus perkosaan terjadi pada tragedi Mei 1998
  4. Paus serukan reformasi sistem keuangan global
  5. Romo Magnis protes terkait penghargaan kepada Presiden SBY
  6. Aktivis lingkungan dipenjara di tengah upaya membela hak petani
  7. Amnesty: Hukuman mati di Indonesia langkah mundur
  8. Akibat badai, warga Rohingya takut dievakuasi ke lokasi rawan kerusuhan
  9. Pendekatan kebudayaan disarankan untuk selesaikan masalah Papua
  10. Romo Heuken SJ, ahli sejati Kota Jakarta
  1. masih relevan,tergantung siapa pembicaranya...
    Said andy purnama on 2013-05-20 08:06:00
  2. Tetapi kekejaman juga banyak yang keterlaluan, misalnya anak mengubur ibu kandun...
    Said Jenny Marisa on 2013-05-17 20:32:00
  3. Dokter juga turun ke jalan... Kalau semua golongan demo, sudah jelas ada kekuran...
    Said Jenny Marisa on 2013-05-17 20:21:00
  4. Saya setuju kalau Papua mau memisahkan dir dari NKRI. Itu adalah hak asasi yang ...
    Said Anianus Bai on 2013-05-15 08:56:00
  5. saya berpikir.... knpa semua ini bisa terjadi?...
    Said anto on 2013-05-15 08:38:00
  6. YA... NEGARA INI BANYAK ORANG KURANG AT BAHKAN TIDAK BIJAK......
    Said ANTO on 2013-05-15 08:10:00
  7. Imron, sebagai sorang Kristen, saya bangga dengan anda yang mempertanyakan argum...
    Said fernando doren on 2013-05-15 02:41:00
  8. Apa yang bisa diharapkan dari menteri seperti ini, bukannya membangun dialog, ma...
    Said fernando doren on 2013-05-15 02:38:00
  9. Seingat saya SBY tidak "blusukan" ke Papua, kecuali ke Meraoke dan pulangnya ngo...
    Said hadrianus wardjito on 2013-05-14 21:32:00
  10. lucu skali kamu,,tiap agama punya tata ibadahnya masing2 lah,,jadiiiii hargai um...
    Said Sintia Parsaulina Ucye Siahaan on 2013-05-14 05:59:00