UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

AHRC desak pemerintah serius atasi kasus pedofilia di Bali

21/02/2013

AHRC desak pemerintah serius atasi kasus pedofilia di Bali thumbnail

 

Komisi Hak Asasi Manusia Asia (AHRC, Asia Human Rights Commission) mengingatkan pemerintah untuk mengambil langkah serius dalam memerangi kasus pedofilia di Bali dan menyatakan keinginan untuk membawa isu ini ke hadapan sidang Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Seruan ini mencuat menyusul terjadinya kasus pelecehan terhadap 4 anak perempuan usia 9-13 tahun di Desa Kaliasem, Singaraja, Kabupaten Buleleng yang diduga dilakukan oleh warga Belanda berusia 57 tahun dan saat ini kasusnya sedang ditangani oleh Pengadilan Negeri Singaraja.

Kasus ini berhenti di tengah jalan karena korban yang sebelumnya mengaku diraba-raba dan dicium oleh pelaku, mencabut kembali pernyataan mereka pada sidang 8 Januari lalu dan mengatakan, tersangka tidak pernah melakukan kejahatan sebagaimana mereka akui  sebelumnya.

Karena alasan ini, jaksa pun tak mau melanjutkan kasus ini dan mengatakan, penyelidikan lebih lanjut soal kebenaran pengakuan korban sebelumnya merupakan tugas polisi.

“Jaksa enggan untuk bersikap proaktif dalam mencari tahu alasan penarikan kesaksian dan menolak saran aktivis lokal untuk menghadirkan psikiater yang mampu menilai apakah korban atau saksi berbohong,” kata AHRC dalam pernyataan mereka, Selasa (19/2).

AHRC juga menyesalkan sikap jaksa yang menolak untuk menyajikan video wawancara dengan dua korban yang pernah direkam oleh aktivis lokal.

“Dengan kurangnya kemauan aparat penegak hukum dalam menangani kasus ini, ada kemungkinan bahwa terdakwa akan dibebaskan oleh pengadilan.”

Menurut data AHRC, pedofilia bukan masalah baru di Bali. Kasus serupa pernah dialami oleh warga Italia pada 2001, lalu tahun 2004 seorang warga negara Australia dipenjara dan kemudian memilih bunuh diri. Di Banjar, Kaliasem, seorang warga Belanda juga diduga melecehkan anak-anak, tetapi, karena ia sering memberikan bantuan kepada warga setempat, ia dianggap lebih sebagai pahlawan daripada penjahat.

AHRC menyatakan, meski menurut Pasal 82 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pelaku dikenakan hukuman 3 sampai 15 tahun penjara serta denda  Rp 60 – 300 juta, namun hal ini tidak diterapkan di Bali yang sering disebut ‘surga bagi pedofilia’. Penegak hukum lebih sering menggunakan KUHP yang memberi hukuman lebih ringan.

“Keengganan penduduk setempat atau keluarga korban untuk melaporkan kasus penganiayaan anak dan melawan pelaku merupakan tantangan lain dalam memberantas kejahatan (pedofilia) di Bali”.

Selain itu, kata AHRC, keengganan untuk melapor juga sering disebabkan oleh ketergantungan keluarga korban atau penduduk setempat pada lembaga amal yang disediakan oleh para pelaku.

“Datang ke sebuah desa miskin dan memberikan ‘amal’ untuk penduduk setempat adalah modus operandi yang biasa digunakan oleh para pedofil di Bali”.

AHRC mencontohkan, dalam kasus penganiayaan anak di Serangan, Denpasar, keluarga korban memutuskan untuk tidak melaporkan pelecehan yang dialami oleh anak-anak mereka karena pelaku menyerahkan uang Rp 10 juta dan seekor sapi kepada masing-masing korban.

Menurut AHRC, persoalan lain adalah kurangnya pemahaman tentang pedofilia dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh kejahatan tersebut.

“Sebuah definisi yang sangat sempit pedofilia, yaitu, hubungan seksual antara orang dewasa dan anak kecil adalah apa yang umum dipahami oleh masyarakat. Belum ada pemahaman luas bahwa meraba-raba atau menelanjangi anak-anak oleh orang dewasa juga termasuk dalam kategori pedofilia dan sama-sama meninggalkan trauma pada anak-anak”

Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengakui, saat ini memang masih ada persepsi yang sempit soal pedofilia.

“Pedofilia masih dipahami sebagai hubungan seksual antara orang dewasa dengan anak-anak, sehingga bentuk pelecehan lain seperti meraba buah dada atau bokong anak dianggap sebagai hal biasa oleh masyarakat”, katanya kepada ucanews.com, Rabu (20/2), sambil menambahkan, hal ini membutuhkan penyadaran terus-menerus agar masyarakat bisa  mengambil langkah antisipatif.

Ia mengakui, Bali memang rentan terhadap tindakan pedofilia dan juga aksi kekerasan terhadap anak lainnya.

“Perannya sebagai tempat wisata terkenal, tentu menyisahkan banyak persoalan dengan kehadiran wisatawan asing tertentu yang memiliki kelaianan seksual”, kata Sirait.

Ia pun mengakui kebenaran modus operandi seperti yang dikatakan AHRC lewat memberi bantuan kepada keluarga-keluarga miskin.

“Karena itu, saya berharap penegak hukum berani menyelidiki persoalan-persoalan yang terjadi dengan jeli. Yang terbukti melakukan kejahatan, harus dihukum, tanpa mempertimbangkan status mereka sebagai pemberi bantuan bagi masyarakat setempat”, tegasnya.

Ryan Dagur, Jakarta

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Jesuit Asia Selatan menekankan pentingnya rasa kepedulian terhadap Rohingya
  2. Renungan Hari Raya Tritunggal Mahakudus bersama Pastor Bill Grimm
  3. Para pemimpin Katolik ditahan di Tiongkok
  4. Partai Komunis Tiongkok keluarkan peringatan kepada anggotanya yang menganut agama
  5. Paus Fransiskus desak masyarakat internasional bantu ribuan migran Asia
  6. Biarawati Katolik luncurkan kampanye untuk membantu pengungsi Rohingya
  7. Gereja menentang otoritas Zhejiang terkait kampanye pembongkaran salib
  8. Gereja Katolik terus membantu para korban gempa di Nepal
  9. Alkitab dengan kata 'Allah' akan dilarang di Semenanjung Malaysia
  10. Kardinal Myanmar menyerukan pemerintah untuk bersikap belarasa dan peduli dengan Rohingya
  1. Myanmar melemparkan tanggung jawab terkait krisis manusia perahu
  2. Polisi tahan peserta aksi damai di Papua
  3. Renungan Hari Raya Tritunggal Mahakudus bersama Pastor Bill Grimm
  4. PBB ingatkan Myanmar terkait empat RUU tentang ‘ras dan agama’
  5. Gubernur Ahok: Banyak politikus bersaing menjual agama
  6. Karitas kecam pembubaran ‘tidak manusiawi’ terhadap protes damai petani
  7. Jesuit Asia Selatan menekankan pentingnya rasa kepedulian terhadap Rohingya
  8. Sektarianisme telah mengerus kebhinnekaan Indonesia
  9. Para pemimpin Katolik ditahan di Tiongkok
  10. Ratusan biksu radikal Myanmar memprotes ‘tekanan’ internasioal terkait Rohingya
  1. Kalaupun bantuan itu merupakan "first aid", sudah menolong juga. Ada yang menye...
    Said on 2015-05-28 07:14:00
  2. Beberapa daerah gelombang panas. Apakah daerah lain dapat membantu dengan member...
    Said on 2015-05-28 06:51:00
  3. Apa sebabnya Cina soal agama bersikap sangat terbelakang? Tidak cocok dengan ke...
    Said on 2015-05-26 10:35:00
  4. Ya... mengapa tidak? Waktunya "rise and shine"......
    Said on 2015-05-19 08:35:00
  5. Malaysia, Indonesia berlomba membuang migran, ya? Saya bayangkan dipantai laut a...
    Said on 2015-05-19 08:31:00
  6. Sudahlah, jangan (dikirim) bekerja luar negeri, mereka biar di Indonesia, bekerj...
    Said on 2015-05-19 08:16:00
  7. Selamat bekerja. Bersyukur terpilih karena kesempatan untuk menempah diri menjad...
    Said Martin Teiseran on 2015-05-19 04:48:00
  8. Iya, bagaimana ini, televisi begitu "leko"nya memberitakan dan meng-interview ur...
    Said on 2015-05-13 20:53:00
  9. Merupakan masalah bagi migran maupun negara penampung. Bagaimana menerima orang...
    Said on 2015-05-13 07:04:00
  10. Jika membangun rumah, sisihkan tanah untuk taman dan resapan air, tanami satu, ...
    Said on 2015-05-12 19:15:00
UCAN India Books Online