UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Implementasi demokrasi di Indonesia terancam gagal

25/02/2013

Implementasi demokrasi di Indonesia terancam gagal thumbnail

 

Demokrasi di Indonesia dianggap sedang terancam gagal akibat menguatnya tendensi oligarki dimana kepentingan semua warga negara tidak menjadi tujuan utama dalam kehidupan negara, tetapi kepentingan kelompok terbatas yang menguasai uang dan memiliki akses pada kekuasaan.

Hal itu dikatakan oleh Fransisco Budi Hardiman, Pengajar Filsafat Politik Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (STFD), salah satu narasumber dalam seminar bertajuk Demokrasi Indonesia: Quo vadis?” di Kampus STFD, Rawasari, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2). Pembicara lain seminar puncak Dies Natalis ke-44 STFD ini adalah Anggota Komisi III DPR RI Eva Kusuma Sundari dan Mantan Menteri Pendidikan Daoed Joesoef.

Menurut Budi Hardiman, demokrasi pada dasarnya mengisyaratkan negara untuk selalu melibatkan dan mempertimbangkan kepentingan masyarakat warga dalam diskursus untuk merumuskan kebijakan publik.

Namun, kata dia, hal itu makin jauh dari kenyataan karena tergambar jelas dalam praktek kehidupan bernegara saat ini, semua kebijakan publik diarahkan pada pemenuhan kepentingan kelompok-kelompok terbatas (oligarki), seperti partai politik, juga kelompok yang bermodal.

Akibat buruk dari oligarki itu, kata Budi, misalnya juga tampak dalam kejahatan korupsi yang meracuni tubuh partai-partai politik.

“(Ini) menyingkapkan bagaimana oligarki tanpa rasa salah sedikitpun merampok kekayaan Indonesia dan memiskinkan rakyatnya”.

Ia menambahkan, saat ini, faktanya bukan kekuatan argumen yang lebih baik yang diperhitungkan dalam perumusan kebijakan, melainkan jumlah uang yang lebih banyak.

“Maka di balik retorika demokrasi, bercokol politik uang yang dijalankan oleh para predator bisnis-politis,” tegas Budi yang juga pengajar di Universitas Pelita Harapan.

Menurutnya, hal ini membuat parlemen, media, dunia pendidikan, pelayanan publik menjadi arena komersialisasi.

Demokrasi pun, demikian Budi, lebih tampak sebagai pasar suara, tempat partai-partai dan para kandidat membeli suara dari para pemilih untuk formasi kerajaan oligarkis mereka yang pada gilirannnya akan menjarah negara dengan kekuasaan legitim yang berhasil mereka beli.

Senada dengan itu, menurut Eva Sundari, demokrasi yang sesungguhnya sulit diwujudkan karena kepentingan elit penguasa mengendalikan parlemen sehingga kepentingan kelompok marginal tidak terakomodasi.

“Sistem Pemilu dengan suara terbanyak menyebabkan partai politik terdorong untuk mencalonkan tokoh-tokoh yang populer atau berkantong tebal tanpa ada kriteria kapasitas, karakter maupun komitmen pada rakyat”, katanya.

Ia menambahkan, tidak heran jika Pemilu 2009 menghasilkan anggota DPR yang sekitar 40 persen berlatar belakang pengusaha, juga dari kalangan artis karena merekalah yang memiliki uang.

Untuk mengatasi persolan demikian, menurut Eva, perlu diperjuangkan sistem Pemilu yang murah dan mengakomodasi gotong royong serta isu subsidi negara yang cukup untuk membiayai partai politik.

“Hal ini merupakan necessary sekaligus sufficient conditions bagi terwujudnya demokrasi substantif di Indonesia yaitu terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, tegas Eva.

Sementara itu, bagi Daoed Joesoef, untuk bisa merealisasikan spirit demokrasi, perlu diupayakan penghargaan terhadap setiap pribadi dan dibutuhkan pemimpin yang berkualitas.

“Setiap orang perlu di-wongke, diajak berkomunikasi.” ungkapnya.

Terkait hal itu, ia mengusulkan perlunya pergeseran paradigma pembangunan dari spectator development ke participatory development.

“Pembangunan yang mengikutsertakan dan bukan pembangunan yang menonton. Jadi setiap orang dilibatkan dalam proses pembangunan.”

Ia memberi catatan, hal ini akan terwujud jika kita tidak hanya memiliki pemimpin yang  bisa tersenyum, sopan, tetapi dia harus tahu menjadi  designer.

“Dia adalah seorang spesialis dalam konstruksi keseluruhan, a specialist in the construction of the whole. Seorang pemimpin yang tahu kemana kapal harus bergerak dan berlabuh”, tegasnya.

Menurut Daoed, perpaduan antara kedua hal itu, akan menjamin tercapainya gagasan dasar demokrasi, menjadikan warga negara sebagai subjek, bukan sebagai alat untuk mencapai kepentingan sebagian kelompok.

Ryan Dagur, Jakarta

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup Agung Kuala Lumpur fokus pada kaum muda
  2. Jokowi-JK bersumpah pegang teguh UUD 1945
  3. Anggota Kongres AS: Ada 'jurang besar' di antara pemerintah Tiongkok dan Gereja Katolik
  4. Para pemimpin agama ASEAN bahas perdamaian
  5. Fransiskan India memerangi kekerasan terhadap perempuan
  6. Pemerintah berpihak pada FPI menentang pernikahan beda agama
  7. Para uskup isyaratkan untuk mengubah dokumen akhir Sinode
  8. Tokoh JIL Ulil Abshar Abdalla dilarang masuk Malaysia
  9. Pastor, suster gelar unjuk rasa di Komnas HAM desak pencabutan izin tambang
  10. Romo Benny: Basuki harus dialog dengan para penentangnya
  1. Jokowi-JK bersumpah pegang teguh UUD 1945
  2. Uskup Agung Kuala Lumpur fokus pada kaum muda
  3. Fransiskan India memerangi kekerasan terhadap perempuan
  4. Uskup Peraih Nobel Perdamaian doakan Jokowi-JK dalam Surat Terbuka
  5. Para pemimpin agama ASEAN bahas perdamaian
  6. SBY dinilai gagal membebaskan perempuan dari kemiskinan
  7. Anggota Kongres AS: Ada ‘jurang besar’ di antara pemerintah Tiongkok dan Gereja Katolik
  8. Renungan Hari Minggu bersama Pastor Bill Grimm
  9. Pengadilan Pakistan pertahankan hukuman mati terhadap seorang ibu Kristen
  10. Negara tidak boleh diam terkait aksi anarkis berbau agama
  1. Jangan terlalu berharap kebaikan dari DPR yang baru.. Teringat "kucing yang seda...
    Said on 2014-10-10 05:27:00
  2. Korupsi dana pendidikan jangan mengabaikan modus pelaku pada tingkat sekolah: ke...
    Said Lakestra on 2014-10-09 09:15:00
  3. Umat tak butuh statement, tapi kebijakan. Apa yang dapat Gereja bantu terhadap m...
    Said Brian Susanto on 2014-10-09 04:48:00
  4. Bukan saja tidak mendiskriminasi keberadaan agama (yang ada sekarang) tetapi jug...
    Said on 2014-10-07 08:28:00
  5. Yang berbelaskasih menghadapi ahli hukum gereja.. mengingatkan pada Yesus yang m...
    Said on 2014-10-07 08:08:00
  6. Masuk penjara seperti Santo Paulus, demi keadilan dan kerajaan Allah.. syukur bu...
    Said on 2014-10-07 07:52:00
  7. Sangat disayangkan, tidak dimuat apa masalah pokoknya, apa saja yang dituduhkan...
    Said Brian Susanto on 2014-10-07 07:13:00
  8. Konflik sepihak itu (kan tidak ada yang membalas kalau dari kalangan Kristen), s...
    Said on 2014-10-01 14:52:00
  9. Kita semua tertipu. Yang dikira dapat dipercayai pemerintahan yang baik ternyat...
    Said on 2014-09-30 10:19:00
  10. @donotchangemyname: baca dokumen2 Gereja yg terkait dgn hal tsb. Prinsip dan huk...
    Said Antonio on 2014-09-27 01:06:00
UCAN India Books Online