UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Petuah Terakhir Paus Benediktus XVI

28/02/2013

Petuah Terakhir Paus Benediktus XVI thumbnail

 

Cuaca di kota Roma, Rabu (27/2) waktu setempat, tak seperti biasanya. Meski dirundung musim dingin, matahari, hari ini, begitu indah. Ia bersinar cerah sejak pagi, membawa suasana hangat dan nyaman. Ada apakah gerangan. Rupanya, Sang Surya turut menyambut hari penting di dalam sejarah Gereja Katolik, di mana Sri Paus Benediktus XVI akan tampil dalam upacara audiensi umum untuk terakhir kalinya, setelah pengumuman pengunduran dirinya dua pekan silam.

Sejak pukul 07.00 pagi waktu Roma, ribuan peziarah sudah membanjiri Via della Conciliazione, tepatnya di ruas jalan panjang membujur dari Lapangan Santo Petrus hingga sungai Tiber. Di ruas jalan itu pula sudah dipasang beberapa layar lebar. Di situ, terdapat beberapa titik kontrol, selain dari arah Porta Santa Anna, tepi barat, dan Porta Sant’Angelo dari tepi arah timur Vatikan. Ribuan polisi dan aparat keamanan pun siaga sekeliling Vatikan.

Para peziarah berjuang masuk ke Lapangan Santo Petrus dan mengambil tempat paling depan, supaya bisa melihat Sri Paus dari dekat, dan mengucapkan kata-kata pisah yang bisa didengar oleh Bapa Suci sendiri.

Dari saat ke saat Lapangan Santo Petrus seperti digenangi lautan manusia. Mereka melambai-lambaikan berbagai bentuk dan ragam spanduk dengan tulisan bermacam-macam. Seperti ‘Grazie Santo Padre’ (Terima kasih Bapa Suci), atau ‘Arrivederci‘ (Sampai jumpa lagi), atau ‘Perga per noi‘ (doakan kami), dan berbagai tulisan dalam berbagai bahasa. Mereka pun tak berhenti meneriakkan yel-yel ‘Benedetto‘, nama Sri Paus dalam bahasa Italia. Kadang pula terdengar teriakan ‘Viva il Papa‘ dan diikuti oleh paduan suara campur yang menggetarkan suasana pagi ini.

Tepat pkl. 10.35 pagi waktu Roma, Papa Mobile meluncur pelan, masuk ke Lapangan Santo Petrus dari samping kanan Basilika. Di belakangnya duduk Sekretaris pribadi, Mons. Georg Gaenswein, yang sudah ditahbiskan Sri Paus menjadi Uskup Agung pada 6 Januari lalu, dan merangkap Kepala Rumah Tangga (Prefettura) Sri Paus.

Ketika melihat Papa Mobile, massa semakin kuat dan ramai meneriakkan yel-yel, seraya bertepuk tangan meriah. Setelah melewati beberapa blok untuk menyalami massa dan disaluti oleh Musik Militer dari wilayah kelahirannya, Bavaria, Jerman, beliau naik ke Singgahsana. Di tempat itu, sudah menyambut sebuah Kursi putih yang sudah akrab dengannya sejak 8 tahun ini. Seperti biasa, sebelum duduk, beliau merentangkan kedua tangan ke arah para hadirin, seolah-olah ingin merangkul mereka satu persatu. Di saat itu keharuan mulai terasa.

Setelah rangkaian salam dan pembacaan dari Kitab Suci, Sri Paus mulai membacakan wejangannya yang terakhir. Hadirin hening dan mendengar dengan penuh perhatian. Sering juga hadirin menyela Sri Paus dengan tepukan tangan panjang dan yel ‘Benedetto’, terutama ketika beliau mengungkapkan kata-kata peneguhan dan pujian yang masuk hingga ke lubuk hati pendengar.

Dalam sambutannya, pertama-tama, Sri Paus mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah memilih dan mempercayakan tugas ini kepadanya. “Delapan tahun lalu, ketika sudah jelas bahwa diri saya terpilih menjadi Paus, pertanyaan yang dominan di dalam hati saya adalah: Tuhan, apa yang Kau inginkan dariku? Mengapa Engkau memilih saya? Saya tahu bahwa sejak itu saya memikul beban berat di bahuku.”

“Delapan tahun yang lalu adalah tahun-tahun yang indah dan penuh arti. Tetapi juga masa-masa penuh tantangan, sehingga Gereja ibarat bahtera para rasul yang terombang-ambing di Danau Genesaret. Badai dan gelombang menerjang menimbulkan rasa takut dan panik, dan Tuhan tidur di buritan. Tetapi syukur, Tuhan tidak meninggalkan bahtera ini, karena bahtera ini bukan milik kita manusia atau milik saya pribadi, tetapi milik Tuhan sendiri,” kata Sri Paus, yang disambut gemuruh tepuk tangan para peziarah.

Sri Paus juga mengungkapkan terima kasih kepada para pekerjanya di Tahta Suci Vatikan dan seluruh umat yang tersebar di seluruh dunia. Selama masa jabatannya, beliau betul merasakan dukungan dan kedekatan umat Katolik se-jagad, sekalipun banyak dari mereka yang belum pernah berjumpa dengannya secara langsung.

Menjelang sambutannya yang berdurasi kurang lebih 20 menit itu, beliau meneguhkan hati dan iman umat Katolik se-dunia. Katanya dalam nada getar, “Saya pergi. Itu keputusan yang saya ambil dengan sukarela. Tetapi kamu harus tetap riang gembira di dalam iman. Saya pergi bukan untuk urusan pribadi. Saya pergi untuk membaktikan diri kepada doa untuk Gereja kita yang kita cintai ini. Tuhan yang memanggil kita ke dalam satu komunitas iman, akan tetap bersama kita, memenuhi hati kita dengan harapan dan menyinari kita dengan kasihNya tanpa batas.”

Usai sambutan terakhir itu, hadirin yang kian membludak hingga ujung Via della Conciliazione pun berdiri. Mereka kembali memberikan aplaus panjang. Lambaian bendera-bendera dan spanduk-spanduk kelihatan semakin tenang pertanda sedih. Sri Paus pun berdiri, melambaikan tangan kepada hadirin. Sebuah momentum kuat yang sempat menuai deraian air mata.

Upacara dilanjutkan dengan penyampaian ucapan Salam pisah dan terima kasih dari para hadirin yang diwakili melalui kelompok bahasa Inggris, Italia, Jerman, Spanyol, Portugis, Polandia dan Arab.

Di akhir audiensi, Sri Paus dan hadirin bersama-sama menyanyikan lagu Bapa Kami di dalam bahasa Latin. Lalu beliau menutup dengan berkat terakhirnya sebagai Paus.

Beliau turun tahta. Berjalan menuju Papa Mobil, mengambil tempat duduk. Papa Mobil turun perlahan dari pelataran Basilika menuju hadirin. Tahtanya, Kursi putih, tinggal kosong.

Sri Paus bergerak keluar, diiringi aplaus panjang, memanggil-manggil namanya dan seraya air mata tetap berderai. Di atas Papa Mobil beliau terus merentangkan kedua tangannya, seakan-akan ingin membawa pergi sekitar 200.000-an hadirin bersamanya.

Rangkulan lengannya tentu terlalu pendek untuk jumlah sebesar ini, apalagi untuk umat Katolik sedunia. Tetapi di dalam doa dari atas bukti Mons Vaticanus, beliau dan seluruh umat Katolik di lima benua akan tetap bersatu.

Terima kasih Bapa Suci Benediktus XVI.

Markus Solo SVD adalah seorang pastor,  Staf Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue) di Vatikan

 

After reading this article, people also read

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Ketika perkebunan teh diperluas, warga suku khawatir akan masa depan mereka
  2. Di hadapan aktivis lintas iman, mantan pentolan FPI paparkan kisahnya
  3. Pendidikan anak wilayah pesisir memprihatinkan
  4. Pastor membawa altar ke sawah dan kandang
  5. Dua tahun: Paus Emeritus terlupakan melihat dirinya bukan sebagai bayangan
  6. Yesuit bantu film Hollywood tentang martir Jepang abad ke-17
  7. Kardinal Quevedo jadi utusan Paus untuk perayaan 150 tahun penemuan orang Katolik di Jepang
  8. Hadapi defisit, Paus Fransiskus minta para pastor belajar manajemen
  9. Kardinal Tagle: Asia adalah tantangan unik untuk menyebarkan iman Katolik
  10. Tiongkok umumkan satu tahun moratorium tentang impor ukiran gading
  1. Masyarakat beda pendapat soal hukuman mati
  2. 450 tewas di Xinjiang tahun lalu, mayoritas warga Muslim Uighur
  3. Krisis kemanusiaan, ribuan orang mengungsi akibat konflik di Mindanao
  4. Ketua DPR dituntut minta maaf karena sebut Gereja hambat investor ke NTT
  5. Pertemuan tokoh Buddha-Islam hasilkan “Pernyataan Yogyakarta”
  6. Lima orang terima penghargaan perempuan Indonesia 2015
  7. Kardinal Tagle: Asia adalah tantangan unik untuk menyebarkan iman Katolik
  8. Para uskup Filipina serukan reformasi hukum pertanahan
  9. Pendeta Kanada hilang di Korea Utara
  10. Ketika perkebunan teh diperluas, warga suku khawatir akan masa depan mereka
  1. Tokoh tokoh yang netral, mendamaikan, mendinginkan suasana, kita butuhkan... sek...
    Said on 2015-02-27 11:43:00
  2. Ya memang tidak mudah mempunyai jabatan dimana harus memimpin banyak golongan di...
    Said on 2015-02-27 11:27:00
  3. semangat pelayanan yang luar biasa, Tuhan memberkati karya Romo...
    Said maria warwanto on 2015-02-26 05:34:00
  4. Seorang Misioner sejati yang sangat langka pada zaman sekarang. Hidup Romo Caro...
    Said Sary on 2015-02-25 07:35:00
  5. Kalau boleh usul, sebaiknya praktek yang dilakukan di Aceh tetap di Aceh, jangan...
    Said on 2015-02-24 10:46:00
  6. Saya beranggapan ada side effect dari adanya hukuman mati (bukan efek jera). Di...
    Said on 2015-02-24 10:43:00
  7. Hari Valentine sesungguhnya adalah perayaan atau lebih tepatnya kenangan akan ke...
    Said jane on 2015-02-18 06:25:00
  8. Yang haram bukan hari nya valetine nya tapi manusia nya. Kalau cuma mikir nya ng...
    Said Guess on 2015-02-16 11:21:00
  9. Tentu semua negara harus berupaya yang semestinya; sebetulnya tiap pemerintah ya...
    Said on 2015-02-11 07:05:00
  10. Saya percaya ensiklik akan diterbitkan oleh Paus Fransiskus karena situasi yang...
    Said sr.yustina on 2015-02-08 08:42:00
UCAN India Books Online