UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Belajar dari Hugo Chavez dan Paus Fransiskus

18/03/2013

Belajar dari Hugo Chavez dan Paus Fransiskus thumbnail

 

Dua tokoh dari Amerika Latin menjadi perhatian dunia beberapa pekan terakhir: Presiden Venezuela Hugo Chavez yang meninggal pada Selasa (5/3) dan Uskup Agung Buenos Aires, Argentina, Jorge Mario Kardinal Bergoglio yang terpilih menjadi paus ke-266 pada Rabu (13/3), dengan nama baru Paus Fransiskus.

Meski Chavez adalah pemimpin negara dan Paus Fransiskus adalah pemimpin Gereja, namun esensi kepemimpinan mereka sama. Keduanya berjuang untuk merealisasikan kesejahteraan bersama (common good) dalam negara dan komunitas gerejawi di Amerika Latin.

Kondisi sosio-politis Amerika Latin tidaklah sulit dibayangkan dari perspektif masyarakat Indonesia. Kemiskinan menjadi isu utama, padahal kekayaan alam berlimpah. Pemimpin selalu dianggap biang kerok masalahnya. Selain karena birokrasi yang korup, juga perselingkuhan dengan kaum korporat asing menyebabkan nasib rakyat terabaikan.

Maka, menarik untuk digali, model kepemimpinan seperti apa yang mereka perlihatkan dalam kondisi sosio-politik demikian?

Kesan bahwa Hugo Chavez adalah figur pemimpin yang dibanggakan terlihat semenjak ia jatuh sakit. Banyak orang menyalakan lilin, berdoa bersama memohon kesembuhannya. Fotonya dipajang dimana-mana, lebih-lebih ketika pemimpin sosialis revolusioner itu meninggal. Negara berkabung, Venezuela dibayang-bayangi oleh krisis kepemimpinan.

Sepak terjangnya sebagai pemimpin patut dikenang. Pasalnya ia adalah seorang super hero yang menyelamatkan Venezuela dari bayang-bayang negara gagal pada era 1990-an. Tahun 1992, ia coba menggulingkan pemerintahan Carlos Andrez Perez. Ternyata gagal, lantas ia dijebloskan ke dalam penjara. Setelah dibebaskan ia bergabung dengan Partai Sosialis. Ia menjanjikan reformasi ekonomi dan melawan korupsi. Akhirnya tahun 1998, ia terpilih menjadi presiden.

Tidak sekadar janji, itulah kesan yang tepat buat Chavez. Semenjak menjadi presiden, ia membuat reformasi besar-besaran. Baginya, perubahan institusi pemerintahan adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan. Ia lantas membuat kebijakan pro-rakyat. Penghasilan minyak dalam negeri diatur untuk kepentingan rakyat. Sebanyak 146.022 rumah dibangun untuk rakyat. Di pusat-pusat perbelanjaan negara, disediakan beras untuk dibeli rakyat.

Berangkat dari kondisi sosio-politik yang hampir serupa, Jorge Mario Kardinal Bergoglio SJ tampil dengan kepribadian seorang pemimpin yang layak diancungi jempol. Penampilannya sederhana. Ia tinggal sendirian dalam satu flat sebuah apartemen. Sering memasak sendiri dan bepergian dengan menggunakan bus umum.

Bahkan, setelah terpilih menjadi paus, ia tetap pulang mengambil sendiri tasnya di tempat penginapan selama mengikuti konklaf. Ia pun tidak lupa menyewa kamar penginapannya.

Selama menjadi kardinal ia dikenal sebagai tokoh konservatif terutama terkait sikap Gereja yang mempertahankan hidup selibat kaum religius, hak hidup, HAM, menolak perkawinan sesama jenis, aborsi dan hukuman mati. Sikap itu terlihat juga dalam homilinya pada hari pertama terpilih menjadi paus di Kapel Sistina. “If we do not confess to Christ, what would we be?”, katanya.

Di lain pihak, ia juga dikenal amat liberal dalam soal keadilan sosial. Menurutnya, Gereja seharusnya berperan sebagai misionaris. Kita keluar untuk menjumpai orang-orang kecil, tidak menyibukkan diri dengan kepentingan pribadi. Membela kepentingan orang miskin adalah pilihan utama.

Hal itu pun kembali terlihat dalam pemilihan namanya sebagai paus. Nama Fransiskus merujuk pada Santo Fransiskus dari Asisi, seorang tokoh pembaharu Gereja pada abad ke-13. Santo ini dikenal karena menghayati hidup miskin dan melihat manusia secara sama sebagai saudara dalam cinta dan keadilan. Tentu pilihan ini tidak terlepas dari latar belakang kondisi ketidakadilan yang rentan terjadi di Amerika Latin.

Apa yang kita pelajari dari kedua pemimpin tersebut? Hemat saya, kedua tokoh ini menampilkan model kepemimpinan yang menempatkan common good sebagai tujuan.

Bahwasannya, pemimpin sejatinya berjuang untuk kepentingan bersama. Maka prinsip utama seorang pemimpin adalah berpihak pada kepentingan publik, baik dalam kebijakan maupun gaya kepemimpinan.

Meski hampir serupa dengan kondisi di Amerika Latin, keadaan Indonesia masih memprihatinkan. Kita masih dalam genggaman para pemimpin yang melihat kekuasaan dalam kaca mata kepentingan, ketimbang melihatnya sebagai kesempatan untuk menghadirkan commond good.

Pemimpin kita pun masih sering tampil dengan budaya glamor yang begitu melekat. Padahal rakyat masih berada dalam garis kemiskinan.

Menjadi pemimpin seharusnya seperti Chavez yang berpihak kepada kepentingan rakyat, bukan kepada kepentingan partai, golongan, pribadi apalagi kepentingan para pengusaha asing. Dari Paus Fransiskus, kita pun menemukan gaya seorang pemimpin yang sederhana dalam penampilan, namun tegas dalam prinsip.

Mencontohi Chaves dan Paus Fransiskus, bagi saya adalah pilihan tepat dalam menyikapi krisis kepemimpinan dewasa ini.

Bila para pemimpin kita meneladani dua tokoh ini, maka kita boleh berharap dunia yang lebih baik dari sekarang akan tercipta di waktu mendatang. Dan, tentu saja mereka akan terus dikenang dalam sejarah.

Namun, bila tidak, maka seruan revolusi yang sedikit lembut akhir-akhir ini, jika tidak ditanggapi, akan benar-benar terjadi.

Gregorius Afioma, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

  • NesOfm_Blank_

    monon dikoreksi: Paus Fransiskus adalah Paus ke-266 (bukan 166). Tks.

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup Suwatan undang Paus Fransiskus ke Manado
  2. Renungan Hari Minggu bersama Pastor Bill Grimm
  3. Pastor dikenal sebagai pejuang lingkungan tantang Bupati Rotok
  4. Kardinal Kriengsak: 'Sekularisme' merupakan wajah setan
  5. Imam Yesuit India yang diculik di Afghanistan telah dibebaskan
  6. Menteri Agama: Pemimpin bisa berasal dari kalangan mana pun
  7. Presiden FABC memberi penghormatan kepada 21 orang Kristen yang dipenggal sebagai martir
  8. Mengenal hukuman mati di Asia Tenggara
  9. Konferensi Waligereja Filipina serukan doa dalam menanggapi tuduhan kudeta
  10. Syafii Maarif: tingkatkan toleransi terhadap pemimpin beda keyakinan
  1. Taiwan dikunjungi uskup tak diakui Vatikan, muncul spekulasi hubungan Sino-Vatikan
  2. Renungan Hari Minggu bersama Pastor Bill Grimm
  3. RUU Perlindungan Umat Beragama akan atur syarat agama
  4. Indonesia darurat kekerasan seksual terhadap perempuan
  5. Di Mindanao, anak-anak pengungsi menanggung beban konflik
  6. Kitab Suci dijadikan jantung kehidupan Gereja Cina
  7. Serangan anti-Kristen terus terjadi di India meskipun jaminan perdana menteri
  8. Menteri Agama: Pemimpin bisa berasal dari kalangan mana pun
  9. Syafii Maarif: tingkatkan toleransi terhadap pemimpin beda keyakinan
  10. Denominasi Gereja termasuk Katolik dukung Kongres X GAMKI
  1. Seorang Misioner sejati yang sangat langka pada zaman sekarang. Hidup Romo Caro...
    Said Sary on 2015-02-25 07:35:00
  2. Kalau boleh usul, sebaiknya praktek yang dilakukan di Aceh tetap di Aceh, jangan...
    Said on 2015-02-24 10:46:00
  3. Saya beranggapan ada side effect dari adanya hukuman mati (bukan efek jera). Di...
    Said on 2015-02-24 10:43:00
  4. Hari Valentine sesungguhnya adalah perayaan atau lebih tepatnya kenangan akan ke...
    Said jane on 2015-02-18 06:25:00
  5. Yang haram bukan hari nya valetine nya tapi manusia nya. Kalau cuma mikir nya ng...
    Said Guess on 2015-02-16 11:21:00
  6. Tentu semua negara harus berupaya yang semestinya; sebetulnya tiap pemerintah ya...
    Said on 2015-02-11 07:05:00
  7. Saya percaya ensiklik akan diterbitkan oleh Paus Fransiskus karena situasi yang...
    Said sr.yustina on 2015-02-08 08:42:00
  8. Boleh saja melarang jika di tempat publik, tetapi jaminlah kalau perayaan diadak...
    Said on 2015-01-14 07:48:00
  9. Saya selalu beranggapan bahwa kecelakaan tidak perlu terjadi... Bahwasanya terja...
    Said on 2015-01-14 07:44:00
  10. Alangkah indahnya nanti kalau ada pemimpin baik.. semoga terus demikian....
    Said on 2015-01-14 07:30:00
UCAN India Books Online