UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Meski banyak tantangan, Pastor Neles terus berjuang untuk ’Dialog Jakarta-Papua’

28/03/2013

Meski banyak tantangan, Pastor Neles terus berjuang untuk ’Dialog Jakarta-Papua’ thumbnail

 

Lahir sebagai orang Papua, membuat Pastor Neles Kebadabi Tebay merasakan langsung perjalanan sejarah orang Papua yang penuh dengan apa yang ia sebut ‘memoria passionis’.

Pelanggaran HAM dalam wujud penembakan, pemukulan, intimidasi yang dilakukan oleh militer Indonesia, maupun oleh kelompok pro-kemerdekaan menjadi realitas sehari-hari, yang sudah hampir dianggap biasa.

Pastor Neles mengaku, ia melihat ini sebagai tantangan.

“Iman saya mengajarkan bahwa semua manusia adalah citra Allah, memiliki martabat yang sama, karena itu semua harus dihormati. Masalah yang bertahun-tahun menimpa warga Papua harus segera diakhiri”, katanya kepada ucanews.com di Jakarta beberapa waktu lalu.

Karena itulah, sejak 2010, bersama tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),  imam yang lahir di Godide, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, 13 Februari 1964 ini menggagas Jaringan Damai Papua (JDP), yang bertujuan mengajak semua pihak menyelesaikan konflik di Papua dengan jalan damai.

Kelompok ini terdiri dari orang-orang muda dari berbagai suku, agama dan ras yang secara sukarela bekerja mendorong realisasi dialog.

Pastor Neles mengakui, dialog bukanlah gagasannya sendiri. “Ini merupakan kehendak warga Papua yang pernah muncul dalam Kongres Rakyat Papua pada tahun 200o, namun setelah kongres itu, gagasan ini tenggelam. Saya berupaya membangkitnya lagi agar bisa terlaksana”, katanya.

Anggota Komisi Teologi dan Komisi Karya Misioner pada Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) ini  yakin, dialog adalah cara terbaik untuk mengakhiri kekerasan. Ia menyebutnya sebagai cara yang demokratis, beradab dan bermartabat.

Kekerasan, kata dia, dengan motivasi dan tujuan apa pun tidak akan pernah menyelesaikan masalah di Papua.

“Cara-cara itu justru semakin merendahkan martabat manusia dan menginjak-injak nilai perdamaian yang diperjuangkan. Karena itu, semua pihak perlu duduk bersama, mencari solusi atas apa yang terjadi”, kata Rektor Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Abepura ini.

Dorongan untuk dialog terus-menerus disampaikan Pastor Neles lewat tulisannya sejak 10 tahun lalu yang diterbitkan di sejumlah media massa lokal, nasional, maupun internasional, juga lewat seminar dan diskusi.

Ia menjelaskan, yang mau dicapai dalam dialog ini adalah mempertemukan dua paradigma yang berbeda dan bertentangan antara pemerintah dan masyarakat Papua yang sudah terjadi selama lebih dari 50 tahun.

“Selama ini  ada warga Papua memandang militer atau TNI yang ada di sana sebagai representasi penjajah. Pemerintah Indonesia dianggap sebaga penjajah”.

Persepsi seperti ini muncul dari persoalan integrasi Papua Barat ke Indonesia yang oleh sebagian orang Papua dianggap penuh dengan manipulasi.

Karena itu, kata dia, orang Papua yang selama ini bergerylia dengan perlawanan senjata, tidak merasa bersalah ketika menembak tentara Indonesia.

“Penembakan dianggap sebagai justifikasi, bagian dari upaya melawan penjajah. Paradigma seperti ini masih hidup dikalangan orang Papua. Kehadiran pemerintah Indonesia dianggap ilegal. Karena ilegal, maka dilawan”, katanya.

Sementara itu, kata dia, dari pihak pemerintah, setiap bentuk aksi protes warga Papua terhadap pemerintah, dianggap sebagai bagian dari gerakan separatis.

“Karena itu, ketika tentara membunuh warga Papua, maka ini dianggap tidak salah, sebagai bagian dari upaya membasmi musuh negara”.

Menurut Pastor Neles, hal ini tidak bisa dibiarkan. “Kalau masing-masing pihak tidak merasa bersalah, di masa depan kekerasan akan terjadi lagi. Akarnya harus diselesaikan”, katanya.

Pastor  Neles meyakini, kekerasan adalah akibat dari masalah lain yang lebih mendasar di Papua.

“Kekerasan hanya asap. Ada api yang memunculkan asap itu. Selama faktor penyebabnya belum ditemukan, selama itu pula kekerasan-kekerasan akan terus terjadi dan mengganggu pembangunan dan kedamaian di Papua,” katanya.

Karena itu, kata dia, JDP bertujuan mempertemukan dua paradigma ini.

“Kedua belah pihak harus duduk bersama, harus keluar dari paradigma masing-masing dan mencari titik temu untuk mengambil paradigma baru. Inilah yang perlu dicari dalam dialog”, katanya.

Ia menjelaskan, dialog dilakukan secara bertingkat dan bertahap. Suku-suku di Papua berdialog terlebih dulu. Lalu, dialog mereka digelar lagi di tingkat kabupaten. Tak hanya itu, orang Papua di hutan yang menjadi gerilyawan dan orang Papua di luar negeri juga harus dipertemukan untuk berdialog.

“Pada waktu yang sama, pemerintah pusat di Jakarta perlu melakukan konsultasi publik, berdialog dengan semua pemangku kepentingan di Papua. Pandangan politik para pendatang di Papua turut diakomodasi”, katanya.

Dialog ini, juga mesti melibatkan aparat keamanan dan perusahaan-perusahaan yang berada di Papua untuk menyamakan persepsi.

“Yang terakhir, perlu ada konferensi tingkat nasional untuk mengidentifikasi masalah dan mencari solusi yang realistis”.

Mengenai mekanisme dialog, menurut dia, Presiden bisa membentuk tim dialog. “

“Tim ini yang akan mengatur mekanisme dialog sehingga prosesnya bisa lebih inklusif dan partisipatoris. Tim ini pula yang akan mewakili pemerintah untuk bekerja sama dengan masyarakat Papua dalam mengatur proses dialog”, katanya.

Ia menambahkan, tim dialog harus terdiri atas orang-orang yang memiliki reputasi dan integritas serta diakui secara nasional dan internasional, termasuk tentu saja oleh masyarakat Papua sendiri.

“Merekalah yang akan berpikir bagaimana menyusun mekanisme dialog. Jika tim ini tidak ada, dialog tetap akan menjadi wacana. Aksi konkret untuk menyelesaikan permasalahan Papua tidak akan muncul”, katanya.

Meski realisasi dialog belum terjadi, namun ia mengakui, sudah ada cahaya menuju ke sana.

Kalau dahulu, kata dia, dialog selalu dicurigai pemerintah dan aparat keamanan sebagai bagian dari gerakan separatis, lalu dianggap tabu dan dipandang sebagai ekspresi separatisme Papua.

“Namun, sekarang, orang Papua tak lagi tabu bicara tentang dialog. Begitu pecah kekerasan, dialog selalu didahulukan untuk menyelesaikan persoalan”, katanya.

Kegigihan Pastor Neles memperjungkan dialog ini membuat ia terpilih sebagai penerima penghargaan Tji Hak-Soon Justice and Peace Award pada Rabu (13/3) lalu, yang diberikan oleh Yayasan Keadilan dan Perdamaian Tji Hak-Soon yang berbasis di Seoul, Korea Selatan.

Pendeta Socrates Sofyan Yoman, Ketua Sinode Persekutuan Gereja-Gereja Babtis Papua (PGGBP) menilai, apa yang diperjuangan Pastor Neles merupakan upaya mengkonkretkan impian semua orang Papua.

“Berdialog adalah kehendak semua warga Papua. Yang disampaikan Pastor Neles mewakili apa yang dikehendaki warga Papua, demi menjadikan Papua sebagai Tanah Damai”, katanya.

Ia menambahkan, sekarang yang dinanti adalah keterbukaan pemerintah untuk segera melaksanakan ini.

Senada dengan itu, Marthen Goo, Kordinator National Papuan Solidarity (Napas) menilai, Pastor Neles adalah sosok pejuang sejati.

“Ia tahu apa yang menjadi kehendak rakyat Papua. Kegigihannya untuk terus menyuarakan hal ini, semoga akan segera mewujud dalam pelaksanaan dialog”, katanya.

Ia menambahkan catatan, Pastor Neles perlu terus menggerakan konsolidasi internal di Papua, merangkul kelompok-kelompok yang saat ini masih belum menerima ide dialog ini.

Ryan Dagur, Jakarta

Berita terkait: President now holds key to conflict in troubled province

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Seorang calon imam dianiaya, seminari tinggi diserang
  2. PID: Wadah pemuda lintas agama menyatukan perbedaan
  3. Gereja minta Jokowi ungkap kelompok garis keras yang kacaukan Papua
  4. Empat orang Asia masuk Komisi Teologi Internasional
  5. Penyerang sebuah kelompok doa Rosario di Sleman dituntut empat bulan penjara
  6. Universitas Yesuit di Asia-Pasifik bahas peran mereka dalam bidang keadilan sosial
  7. Menag: Pemaksaan kehendak salahi etika Islam
  8. Ancaman ISIS membuat para uskup Filipina gugup
  9. Kebebasan beragama dinilai jadi persoalan serius buat Jokowi
  10. Pilkada lewat DPRD, Indonesia dinilai bisa lebih rusak dari ORBA
  1. Penyerang sebuah kelompok doa Rosario di Sleman dituntut empat bulan penjara
  2. Universitas Yesuit di Asia-Pasifik bahas peran mereka dalam bidang keadilan sosial
  3. PID: Wadah pemuda lintas agama menyatukan perbedaan
  4. Kebebasan beragama dinilai jadi persoalan serius buat Jokowi
  5. Vatikan: Hari Komunikasi Sedunia 2015 fokus pada keluarga
  6. Qanun Jinayat disahkan, warga non Muslim cemas
  7. Paus Emeritus Benediktus XVI disebut kakek dari semua kakek
  8. Sambil berdemontrasi demi pro demokrasi, para mahasiswa Kristiani menyalurkan makanan
  9. Minoritas agama menuntut pemerintah bertindak tegas terkait kampanye kebencian
  10. Menerapkan Revolusi Mental
  1. Hendaknya banyak paroki di wilayah keuskupan-keuskupan meniru hal yang baik yang...
    Said pandenaker simanjuntak on 2014-09-23 09:39:00
  2. Tujuan Paus mungkin yang terpenting adalah bahwa orang tidak dijauhkan dari Sakr...
    Said on 2014-09-21 06:16:00
  3. Puji Tuhan, kalau ada titik terang dari Pak Mengeri Agama yang baru.. Terkabull...
    Said on 2014-09-19 11:42:00
  4. Mantap... hidup santo paulus... Dari muka semua guru, yg kukenal banget itu pak...
    Said Ria on 2014-09-17 22:11:00
  5. KWI sudah mengeluarkan pernyataan resmi menolak PP tersebut. Berarti Ibu Menteri...
    Said chris on 2014-09-13 19:50:00
  6. Bravo... sudah didaftar untuk hak paten? Mau dengar lebih lanjut kalau sudah ad...
    Said on 2014-09-12 07:20:00
  7. Hukuman pilihan...atau nilai emasnya itu... baru tahu ini.. Kalau diberi kesemp...
    Said on 2014-09-12 07:03:00
  8. K-13: guru yang sudah mendapat pelatihan pun msh tetap bingung. Sekarang buku pe...
    Said Lakestra on 2014-09-08 13:49:00
  9. apapun argumennya, masalah patung itu suda beda sejak dulu, tidak heran.......
    Said tri siwi ibar santoso on 2014-09-08 13:13:00
  10. Ini urusan Malaysia, tetangga dekat tetapi sangat beda dengan kita. Kita pastik...
    Said on 2014-09-06 07:54:00
UCAN India Books Online