UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Jadikan Paskah sebagai momen berbagi

April 1, 2013

Jadikan Paskah sebagai momen berbagi

 

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo, yang menjadi konselebran utama Misa Pontifical, mengajak umat Katolik menjadikan Paskah sebagai momen untuk berbagi.

“Umat hendaknya memanfaatkan momen Paskah untuk saling berbagi dan menjalani hidup dengan baik,” kata Uskup Agung Suharyo, yang juga ketua presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam homilinya.

Ia juga merasa keprihatinan yang terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah masalah korupsi yang belum juga terselesaikan.

“Melihat situasi seperti ini, saya merasa sedih. Kebijakan politik tercederai. Lihat, beberapa menteri jadi tersangka, ketua partai politik ikut juga jadi tersangka. Ini aneh,” ujar Mgr Suharyo usai Misa Pontifical di Katedral, Jakarta, Minggu (31/3/2013).

Menurutnya, tujuan seseorang terjun ke dunia politik semestinya berlandaskan pada nilai-nilai ibadah. “Tapi justru berita-berita yang yang muncul saat ini adalah bentuk pencideraan terhadap cita-cita politik,” tegasnya.

Meskipun ia tidak membuat pesan khusus bagi para politisi untuk tidak lagi melakukan korupsi dan melanggar hukum, Mgr Suharyo mengaku ia hanya mengajak kepada para politisi untuk mengingat Pancasila sebagai pedoman bernegara.

“Tidak ada pesan khusus. Saya hanya bilang ikuti pesan sejarah yang ada dalam Pancasila. Ketuhanan yang Maha Esa untuk menciptakan keadilan sosial bagi masyarakat Indonesia harus jadi landasan keputusan,” tegasnya.

Dia merasa prihatin karena nilai-nilai Pancasila sudah dilupakan oleh para pemangku kepentingan di negeri ini, sehingga perilaku korupsi belum juga hilang. “Memang kita lupa atau sengaja dilupakan,” imbuhnya.

Pada Misa Malam Paskah di Gereja St. Albertus Harapan Indah Bekasi, Sabtu (30/3), ia mengajak seluruh umat Katolik dalam merayakan Paskah agar belajar dari orang-orang kudus Gereja, seperti Bunda Teresa dari Calcuta yang hidupnya sebagian besar diperuntukan bagi kaum papa dan menderita.

“Bunda Teresa sejak tahun 1948, sebagai biarawati mengajar di kota itu dengan penuh suka cita. Sampai pada suatu hari dia mengalami Paskah pribadi kendati saat itu bukan hari raya Paskah,” ujar Uskup Agung.

Usai dari gereja, lanjut Mgr Suharyo, Bunda Teresa bertemu seorang tua renta yang sedang merenggang nyawa akibat sakit, dan dia menemaninya hingga meninggal dunia. Sejak saat itu seluruh hidup Bunda Teresa dibaktikan untuk orang miskin dan sakit.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi