UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Ratusan pendeta demo ke MPR desak penuntasan masalah intoleransi

09/04/2013

Ratusan pendeta demo ke MPR desak penuntasan masalah intoleransi thumbnail

 

Lebih dari 100 pendeta dari Jakarta dan sekitarnya berdemonstrasi ke gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada Senin (8/1), memprotes penutupan dan pembongkaran beberapa bangunan gereja yang terjadi beberapa waktu terakhir, khususnya di Provinsi Jawa Barat.

Para pendeta ini, yang juga didukung oleh tokoh lintas agama dari Islam, Katolik, Buddha, Hindu dan dari aliran kepercayaan berjalan dengan memakai jubah sambil meneriakkan tuntutan, agar MPR sebagai lembaga tertinggi negara mendesak pemerintah mengakhiri diskriminasi dan meminta agar kelompok intoleran yang menurut mereka berada di balik berbagai upaya tekanan terhadap gereja ditindak tegas.

“Saat ini merebak penutupan dan penggusuran tempat ibadah yang mengundang keprihatinan masyarakat. Itu semua terjadi karena kehendak pemerintah, dengan dorongan kelompok-kelompok intoleran. Kalau masalah ini berlangsung terus, bisa-bisa sesama anak bangsa akan saling membunuh,” ujar Pendeta Erwin Marbun, Koordinator Forum Solidaritas untuk Kemerdekaan Beragama dan Beribadah (FS-KBB).

“Kami meminta MPR memberi pernyataan sikap ke pemerintah untuk melindungi kebebasan beribadah. Suruh pemerintah melindungi dan menjaga kami”, katanya.

Pendeta Turan Simanjuntak dari HKBP Setu yang gerejanya dibongkar oleh Pemerintah Kota Bekasi Jawa Barat pada 21 Maret lalu mengatakan, tindakan pemerintah tersebut membuat hatinya dan 200-an jemaat hancur.

“Ini melambangkan bahwa di negara ini, Pancasila – dasar negara yang salah satu silanya menjamin prinsip persatuan -  sudah ternoda. Undang-Undang Dasar pun ikut ternoda”, katanya.

Ia menjelaskan, gereja yang dipimpinnya sudah mendaftar IMB sejak 13 tahun lalu, dan sudah melampaui batas minimal jumlah dukungan warga sekitar, mencapai 202, lebih dari 60 yang dituntut dalam peraturan. Namun, kata dia, hal itu tidak diakui pemerintah.

”Inilah fakta Indonesia yang lebih berpihak pada kehendak kelompok intoleran, yang tidak menginginkan agar kaum minoritas ada dan berkembang”, katanya.

Pendeta Palti Panjaitan, pimpinan HKBP Filadelfia yang hingga kini gerejanya masih disegel dan setiap hari Minggu mereka, secara bergantian, mengadakan ibadah secara sembunyi-sembunyi di rumah jemaat dan di depan istana presiden mengatakan, ia ingin mengingatkan pemerintah bahwa yang terjadi sekarang sudah dalam kondisi gawat.

”Negara tidak menghargai lagi konstitusi, sudah jauh dari cita-cita pendiri bangsa”, katanya.

Ia menjelaskan, mereka menolak kekerasan, menolak pengrusakan rumah ibadat kelompok minoritas, walaupun sebagai negara demokrasi, sebenarnya Indonesia tidak mengenal istilah minoritas dan mayoritas.

Menanggapi hal ini, Ketua MPR Taufiq Kiemas yang berdialog dengan para pendeta mengatakan, jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini adalah membicarakannya dengan pemerintah.

“Saya sebagai Ketua MPR mungkin dalam bulan depan atau di bulan-bulan ini kalau saya mengadakan pertemuan dengan pimpinan lembaga tinggi negara, dengan presiden atau dengan DPR, Mahkamah Agung dan KY saya akan utarakan apa yang sudah disampaikan,” ujarnya  di hadapan para pendeta.

Taufiq mengakui, keragaman memang harus dijaga.

“Memang yang paling susah menjalankan kehidupan adalah masalah Bhineka Tunggal Ika. Kalau tanpa Bhineka Tunggal Ika atau tanpa pluralisme maka tidak ada HAM di negeri republik ini. Dan inti dari HAM adalah pluralisme. Kalau kita tidak menghargai pluralisme maka sudah tidak ada HAM lagi di Indonesia ”, jelasnya.

Ryan Dagur, Jakarta

Berita terkait: Marchers demand end to intolerance

 

 

  • bernardus wato ole

    Ketua MPR harus punya sikap yng jelas dalam masalah ini. Jangan hanya mengatakan:” jalan terbaik untuk mengatasi masalah ini ialah membicarakannya dengan pemerintah”. Siapa yang harus bicara? Sebaiknya MPR sebagai lembaga tertinggi negara segera mengambil langkah kongkrit untuk mengakkhiri tindakan intoleran di negeri yang menjunjung Pancasila sebagai dasar negara ini.

  • Jenny Marisa

    Ungkapan: “saya AKAN… MUNGKIN dibulan ini ATAU di bulan bulan depan, bicarakan dengan Presiden ATAU … DPR ATAU MA…” tidak meyakinkan adanya kesungguhan! Tunggu saja buktinya. Dan ini soal yang begitu penting. Mengambang terus – ragu menindak pelaku pengrusakan? Dipelihara sampai segalanya runtuh? Pembangunan didengungkan tapi Penghancuran dinyatakan?? Tidak selaras itu.

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Mengapa Paus Fransiskus hindari pertemuan dengan Dalai Lama
  2. Menag: Jangan jelek-jelekkan agama lain
  3. Polisi siaga terkait ancaman demonstran anti penggunaan antribut Natal
  4. Gereja Katolik buka posko bantuan untuk para korban longsor Banjarnegara
  5. Uskup Papua Nugini kecam perburuan terhadap para penyihir untuk dibunuh
  6. Jaga gereja, anggota Banser Bondowoso dibekali tenaga dalam
  7. Halau radikalisme, Ulil harap umat Muslim tafsirkan Alquran lebih inklusif
  8. Gereja Katolik di Pakistan mengecam serangan di sekolah
  9. Kelompok HAM minta keringanan jelang eksekusi lima terpidana mati
  10. Paus Fransiskus berperan penting dalam pemulihan hubungan AS-Kuba
  1. Umat Katolik di Tiongkok adakan Malam Kasih Natal
  2. Renungan Hari Minggu Adven Keempat bersama Pastor Bill Grimm
  3. Paus Fransiskus berperan penting dalam pemulihan hubungan AS-Kuba
  4. Polisi siaga terkait ancaman demonstran anti penggunaan antribut Natal
  5. Menag: Jangan jelek-jelekkan agama lain
  6. Analis: Indonesia perlu strategi baru untuk membendung ekstremisme Islam
  7. Kelompok HAM minta keringanan jelang eksekusi lima terpidana mati
  8. Gereja Katolik di Pakistan mengecam serangan di sekolah
  9. Gereja Katolik Korea Selatan berupaya menjadi jembatan demi pemulihan hubungan dengan Utara
  10. Pemberontak komunis Filipina umumkan gencatan senjata selama kunjungan Paus
  1. Ada mafianya tuh makanya BA gak berani cabut segelnya......
    Said kepuh on 2014-12-15 07:49:00
  2. sayangnya... Pak Hasyim tidak bisa menaham segelintir Umatnya yang nakal dan mas...
    Said Maman Sutarman on 2014-12-02 08:23:00
  3. Lagi lagi membenarkan diri? Tidak mewakili Malaysia secara keseluruhan? Pemerint...
    Said on 2014-12-02 08:10:00
  4. "Tidak dibenarkan" bukan DILARANG. Karena tidak dilarang, terjadi penutupan ger...
    Said on 2014-12-02 08:05:00
  5. Kalau boleh saran, berilah pakaian kepada yang telanjang, pakaian pantas untuk m...
    Said on 2014-12-01 07:02:00
  6. Terima kasih banyak Pater..atas kritikan dan sarannya.. Tuhan memberkati....
    Said on 2014-11-10 19:35:00
  7. Artikel berjudul "Paus membuat peraturan terkait pemberhentian dan pengunduran d...
    Said J. Mangkey msc on 2014-11-10 11:59:00
  8. Jangan terlalu berharap kebaikan dari DPR yang baru.. Teringat "kucing yang seda...
    Said on 2014-10-10 05:27:00
  9. Korupsi dana pendidikan jangan mengabaikan modus pelaku pada tingkat sekolah: ke...
    Said Lakestra on 2014-10-09 09:15:00
  10. Umat tak butuh statement, tapi kebijakan. Apa yang dapat Gereja bantu terhadap m...
    Said Brian Susanto on 2014-10-09 04:48:00
UCAN India Books Online