UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Penghapusan agama di KTP solusi akhiri diskriminasi

24/04/2013

Penghapusan agama di KTP solusi akhiri diskriminasi thumbnail

 

Penghapusan item “agama” di Kartu Tanda Penduduk (KTP) merupakan salah satu solusi untuk mengakhiri tindakan diskrimanasi yang dialami kaum minoritas di negeri ini.
 
Demikian diungkapkan anggota MPR, Ian P Siagian saat sosialisasi empat Pilar Kebangsaaan di aula Sekolah Dharma Loka Pekanbaru, Senin (22/4).

Dia menyatakan, usulan penghapusan agama dalam KTP pernah diusulkan tetapi tidak diterima anggota DPR lainnya.

“Menghilangkan kolom agama di KTP adalah ide saya melalui Rancangan Undang-Undang, tapi tak masuk di Prolegnas (Program Legislasi Nasional). Artinya kalau tak masuk di Prolegnas tidak akan dibahas dalam sidang,” kata anggota DPR dari PDIP ini kepada sinarharapan.com usai sosialisasi.

Salah satu alasan penolakannya adalah, jika terjadi kecelakaan dan korbannya meninggal, orang tidak akan tahu proses pemakamannya memakai agama apa. “Alasan ini tak masuk akal. Database sang korban sudah ada di pihak polisi. Yang tak ada hanya di dalam KTP saja,” katanya.

Padahal, menurutnya, RUU yang diusulkan itu merupakan salah satu solusi menghapuskan diskriminasi di Indonesia. Penghapusan agama dari KTP juga menguntungkan bagi pencari kerja.

Jika seseorang membuat lamaran, status keagamaannya tidak perlu direpotkan oleh pemilik perusahaan. “Makanya penghapusan item agama dari KTP itu bagi saya merupakan salah satu solusi untuk menghentikan semua bentuk diskrimasi di negeri ini,” katanya.

Terkait penghapusan kolom agama ini, hingga kini masih terus disuarakan berbagai pihak. Salah satunya disuarakan komunitas adat dan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, warga Baduy, dan penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan.

Dalam aksinya di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) akhir tahun lalu, warga Baduy menginginkan kepercayaan yang dianutnya bisa masuk dalam kolom agama di KTP. Namun, keinginan itu ditolak Kemendagri.

Asal-usul pencantuman kolom agama dalam KTP didasarkan Penetapan Presiden (Penpres) Nomor 1/PNPS/1965 jo Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina jo Undang-Undang Nomor 65 Tahun 1969 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan Agama. Disebutkan agama resmi di Indonesia adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina, agama Konghucu diakui tapi hanya boleh dipraktikan internal dalam hubungan keluarga atau perorangan. Atas dasar ketentuan inilah, agama Konghucu tidak diperkenankan dimasukkan dalam kolom agama KTP.

Belakangan mulai menguat desakan perubahan terhadap dasar hukum yang menjadi landasan eksistensi agama resmi di Indonesia tersebut, karena dinilai diskriminatif terhadap agama lain seperti Konghucu.

Barulah pada masa pemerintahan Abrurrahman Wahid (Gus Dur) aturan hukum di atas dicabut dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina.

Belakangan pemerintah memang melakukan revisi UU Kependudukan. Pemerintah dan DPR akhirnya melahirkan UU Nomor 23 Tahun 2006. Aturan soal penghayat kepercayaan diatur dalam Pasal 61 Ayat 2 UU Nomor 23 Tahun 2006.

Dalam pasal itu disebutkan, keterangan mengenai kolom agama bagi penduduk yang agamanya belum diakui sebagai agama atau bagi penghayat kepercayaan tidak diisi, tetapi tetap dilayani dan dicatat dalam database Kependudukan.

 

  • bernardus wato ole

    Dirahapkan agama menjadi motivasi utama yang mendorong orang berbuat kasih, tapi sebaliknya di negeri ini, agama justeru mendorong orang bertindak diskriminatif. Contoh saja di kota Gorontalo, untuk catatan perkawinan bagi pasangan non muslim dikenakan biaya Rp 750ribu. Sementara semua orang tahu kalau pasangan muslim hanya Rp 30rbu.

  • bernardus wato ole

    Dirahapkan agama menjadi motivasi utama yang mendorong orang berbuat kasih, tapi sebaliknya di negeri ini, agama justeru mendorong orang bertindak diskriminatif. Contoh saja di kota Gorontalo, untuk catatan perkawinan bagi pasangan non muslim dikenakan biaya Rp 750ribu. Sementara semua orang tahu kalau pasangan muslim hanya Rp 30rbu.

  • franstantri dharma

    Ketika beragama menjadi relatif. Agama yang sesungguhnya adalah praktek iman sebagai anugerah dr. Tuhan. Tidak lagi menjadi agama keturunan. KTP adalah soal administrasi atau soal pelayanan masyarakat. Tak ada sangkut pautnya dengan iman.

  • spinner75

    aneh, sekedar pencantuman data dan keterangan saja kok jadi repot ya…benar-benar semakin aneh negara kita ini…mungkin karena terlalu banyak orang pintar…

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Magsaysay Award menghormati orang Asia yang menjadi pelopor dan inovator
  2. Pembongkaran gereja di Cina terus berlanjut
  3. Setelah SBY dinilai gagal pelihara kebebasan beragama, kini harapan ada pada Jokowi
  4. Dalam 6 bulan, 2.677 istri di Malang gugat cerai suami
  5. Seorang katekis khusus lansia menuai hasil berkat pelayanannya
  6. Tiga usulan SETARA untuk Jokowi-JK dalam penyelesaian HAM
  7. Pemuda dunia bahas persatuan dalam keberagaman di Bali
  8. Pendeta dihukum 10 tahun di balik jeruji besi
  9. Argumen “Pro Life” dan “Pro Choice”
  10. Menag: Gerakan radikalisme Islam ancam keutuhan NKRI
  1. Paus Fransiskus kumpulkan para bintang top dunia untuk pertandingan amal antaragama
  2. Sekilas Sejarah BULAN KITAB SUCI NASIONAL
  3. Korban topan dan gempa di Filipina akan makan siang bersama Paus Fransiskus
  4. Magsaysay Award menghormati orang Asia yang menjadi pelopor dan inovator
  5. Romo Benny: Terkait masalah intoleransi, Indonesia butuh figur presiden teladan
  6. Gereja Katolik Myanmar merayakan 500 tahun
  7. Paus Fransiskus akan merayakan Misa pernikahan untuk 20 pasangan
  8. Tiga uskup auksilier Hong Kong ditahbiskan kemarin
  9. Forum UNAOC Bali tegaskan persatuan dalam keberagaman
  10. Menag berharap wartawan nasrani ikut sosialisasi moderasi agama
  1. Tiada orang dari golongan apapun yang dilupakannya...Motto untuk Asian Youth Day...
    Said on 2014-07-27 11:04:00
  2. Sebelum pengikut muhammad menyebut "allah", kristen arab sudah menggunakan kata ...
    Said umat on 2014-07-26 06:05:00
  3. sembuhkan!...
    Said tuhan on 2014-07-25 02:51:00
  4. Semestinya bisa dihindarkan. Mengapa suster membiarkan anak itu tinggal sendiri...
    Said on 2014-07-22 07:06:00
  5. Penderitaan mereka mengapa tak kunjung berakhir.. Sudah sampai urgensi, sebaikny...
    Said on 2014-07-22 07:01:00
  6. Jelas kalau Jokowi mempunyai pandangan dan niat yang sama (dengan bapak Uskup). ...
    Said on 2014-07-22 06:54:00
  7. Semakin banyak larangan... mau mempersempit hidup orang yang hanya mau berdoa. ...
    Said on 2014-07-20 08:25:00
  8. Selamat menjalankan tugas baru Mgr...
    Said Adonia Sihotang on 2014-07-19 23:27:00
  9. Sudah terlalu sering terdengar protes atas pernyataan yang menyudutkan islam seb...
    Said pluralis on 2014-07-18 04:28:00
  10. Paus Emeritus Benediktus baru tahun lalu diganti oleh Paus Fransiskus. Beliau t...
    Said on 2014-07-16 08:11:00
UCAN India Books Online