UCAN Indonesia Catholic Church News
SEASON

Komnas HAM: Empat warga tewas akibat ditembak polisi

06/05/2013

Komnas HAM: Empat warga tewas akibat ditembak polisi thumbnail

Bangkai mobil dan bangunan kantor Mapolsek Rupit, Sumatra Selatan, yang dibakar pasca penembakan menjadi tempat bermain anak-anak dan tontonan warga.

 

Penyelidikan sementara dari tim investigasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan pelaku penembakan yang menewaskan empat warga Musi Rawas, pekan lalu, adalah polisi. Tim investigasi belum mendapatkan satu pun temuan penggunaan senjata berapi oleh masyarakat dalam aksi pemblokiran jalan lintas Sumatera (Jalinsum) yang berakhir dengan insiden berdarah itu.

“Siapa namanya dan dari satuan mana, akan diungkap dalam uji balistik oleh Pusat Laboratorium Forensik Markas Besar Kepolisian RI,” kata Ketua Subkom Pemantauan dan Penyelidikan Pelanggaran Komnas HAM, Natalius Pigai, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (5/5/2013).

Dia mengatakan temuan ini merupakan hasil investigasi lapangan yang digelar komisi ini, Jumat-Sabtu (3-4/5/2/2013).

Pigai yang langsung memimpin tim investigasi ini mengatakan telah menemui pendamping dan keluarga korban di Musi Rawas, juga Bupati, anggota DPRD, dan Kapolres Musi Rawas untuk mendalami informasi dan proses pemeriksaan insiden ini. Aparat lain yang ditemui pula oleh tim Komnas HAM adalah Komandan Brimob Polda Sumatera Selatan, Propam Polda Sumatera Selatan, Komandan Kodim Musi Rawas, dan Tim komnas HAM pun telah mendatangi lokasi kejadian dan bertemu masyarakat setempat, serta mendatangi Rumah Sakit Sobirin di Lubuk Linggau.

Di lokasi kejadian, tim investigasi Komnas HAM mendapatkan tiga selongsong peluru. Hasil penyelidikan, imbuh Pigai, sejauh ini belum ada temuan yang mengindikasikan penggunaan senjata api oleh masyarakat.

“Polisi tidak mampu memberikan informasi dan data secara visual dalam bentuk video bahwa ada masyarakat yang membawa senjata api saat demonstrasi pemekaran wilayah itu,” tegas Pigai.

Sedangkan penyerangan dan pembakaran Polsek Rupit, ujar Pigai, merupakan aksi balas dendam setelah 16 warga tertembak dan akhirnya empat di antaranya tewas. Atas permintaan komnas HAM kepada polisi dan keluarga, jenazah korban tewas dalam insiden itu pun diotopsi. Sampai saat ini polisi masih merahasiakan identitas para polisi yang disebut juga menjadi korban dalam insiden ini.

Berawal dari demonstrasi

Aksi pemblokiran jalan lintas Sumatera (jalinsum) di Kecamatan Rupit, Musi Rawas, Sumatera Selatan, terkait tuntutan pemekaran Musi Rawas Utara, berakhir ricuh, Senin (29/4/2013) malam. Petugas kepolisian membubarkan demonstran secara paksa sehingga terjadi bentrok. Sedikitnya empat orang tewas kena tembak, sementara korban luka terus bertambah.

Warga meninggal adalah Fadilah (40) dengan luka tembak di rusuk, Son (35) luka tembak di rusuk, Suharto (20) mengalami luka tembak di kepala, dan Rinto (18) juga kena tembak. Data terakhir menyebutkan 12 warga lain juga mengalami luka tembak.

Pembubaran paksa atas aksi massa yang melakukan pemblokiran Jalinsum terjadi sekitar pukul 21.30 WIB, diawali dengan tembakan peringatan ke udara. Namun, massa tetap keras bertahan dan melempari petugas dengan batu. Tak pelak bentrokan pecah.

Massa semakin beringas melakukan perlawanan. Bahkan, massa langsung membakar dua  mobil patroli yang terparkir di sekitar Jalinsum, tak jauh dari lokasi pemblokiran. Ketika itu sejumlah warga sudah terluka.

Situasi ini menambah panas karena para demonstran mengetahui rekan-rekannya banyak yang terluka. Massa kemudian melakukan aksi pembakaran Mapolsek Rupit sehingga suasana semakin mencekam.

Pemblokiran yang berakhir rusuh tersebut merupakan kelanjutan demonstrasi besar pada siang harinya di kantor DPRD Musi Rawas. Warga mendesak pemekaran Musi Rawas Utara direalisasikan.

Foto: tribunnews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Kelompok karitatif Gereja Katolik bantu lansia miskin
  2. Kala seorang Kardinal menjadi fotografer
  3. Siswa Timor Leste merayakan Hari Kemerdekaan di penjara
  4. Imam dibebaskan menjelang kunjungan Presiden Obama
  5. Batu dari Lourdes dijadikan pondasi Patung Keluarga Kudus Nazareth di Toraja
  6. Salib IYD 2016 singgahi gereja-gereja Protestan
  7. Keuskupan Korea Selatan sepakat membina para imam untuk Korea Utara
  8. Pertanian organik menyelamatkan warga desa
  9. Peristiwa bersejarah Gua Maria Kaliori, Banyumas
  10. Pelantikan presiden Taiwan dihadiri Gereja
  1. Semoga rencana untuk dijadikan seumur hidup bersyarat adalah awal perbaikan seta...
    Said Jenny Marisa on 2016-05-20 12:03:38
  2. Adakalanya seorang pasien yang sudah dirawat sebaik mungkin karena cirrosis, yan...
    Said Jenny Marisa on 2016-05-18 19:23:07
  3. Banyak negara melarang hukuman mati. Sebaliknya, negeri Belanda membenarkan euth...
    Said Jenny Marisa on 2016-05-18 19:11:14
  4. Saya pilih Ahok karena dia bisa dipercaya, kebetulan saja dia Kristen.....
    Said Jenny Marisa on 2016-05-10 15:51:40
  5. Masalah perdagangan dan penyaluran narkoba sudah amat sangat menyulitkan pemerin...
    Said Jenny Marisa on 2016-05-06 17:37:26
  6. Berani jujur memang hebat. Itu yang kita tunggu....
    Said Jusuf Suroso on 2016-04-29 20:18:58
  7. Semoga bs cepat jelas...
    Said Tarcisius on 2016-04-28 13:17:08
  8. Mengapa orang mudah jadi pengikut orang yang aneh2? Sepertinya penyakit "latah"...
    Said Jenny Marisa on 2016-04-25 19:07:23
  9. Meskipun bantuan tidak akan mengembalikan segalanya, tetapi perhatian dan belara...
    Said Jenny Marisa on 2016-04-23 08:57:47
  10. Semua orang harus waspada... Siapa yang dapat dipercaya...tetapi ini mungkin p...
    Said Jenny Marisa on 2016-04-21 12:03:46
UCAN India Books Online