UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Kaum Syiah minta bantuan DPR untuk membatalkan rencana relokasi

15/05/2013

Kaum Syiah minta bantuan DPR untuk membatalkan rencana relokasi thumbnail

Para ulama Syiah berdemo di depan gedung DPR/MPR RI

 

Sekitar 200 warga Syiah dan 40 ulama  mengadakan aksi unjuk rasa ke Gedung DPR RI, Selasa (14/5) meminta bantuan untuk mendesak Pemerintah Kabupaten Sampang, Jawa Timur membatalkan rencana relokasi  ratusan warga Syiah yang saat ini sedang berada di tempat pengungsian setelah diserang oleh kelompok intoleran 9 bulan lalu.

Mereka menggelar orasi di depan Gedung DPR, dan setelahnya bertemu dengan Ketua DPR Marzuki Alie serta wakil dari Komisi 3 yang membidangi masalah hukum dan Komisi 8 yang membidangi urusan agama.

Aksi ini dilakukan menyusul pernyataan Bupati Sampang KH Fannan Hasib dan Ketua DPRD Sampang Imam Ubaidilah pada 7 Mei lalu yang berjanji akan merelokasi 632 warga Syiah yang kini masih berada di Gelanggang Olahraga Sampang, setelah mereka diserang pada 16 Agustus 2012 dan rumah mereka dibakar oleh kelompok intoleran.

Habib Umar Shihap, Ketua Dewan Syuro Syah Indonesia mengatakan, rencana Pemerintah Kabupaten Sampang ini adalah perbuatan yang mengancam eksistensi Syiah di Indonesia.

“Kami ini warga negara Indonesia. Mengapa warga kami direlokasi, hanya karena memiliki kepercayaan yang berbeda? Apapuan alasannya, kami menolak rencana relokasi itu”, katanya saat berorasi di depan Gedung DPR.

Shihab menilai, ada indikasi Pemerintah Kabupaten Sampang bekerja sama dengan kelompok anti-Syiah untuk mengusir warga Syiah. Padahal, kata dia, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk merelokasi, karena warga Syiah sama sekali menolak rencana tersebut.

“Itu perbuatan inkonstitusional. Merelokasi sama dengan mengucilkan kaum Syiah. Ini tidak sesuai dengan asas negara kita Pancasila, yang seharusnya menghargai keberagaman”, katanya.

Ia mendesak agar DPR membantu mereka. “Sudah sembilan bulan warga Syiah tinggal di pengungsian tanpa ada solusi yang jelas. Mereka harus dikembalikan ke kampung halaman mereka,” lanjutnya.

Ahmad Hidayat, Sekertaris Jenderal Kelompok Syiah Indonesia mengatakan, sebelum kasus penyerangan terjadi pada tahun lalu, situasi kehidupan kaum Syiah dengan non-Syiah aman-aman saja.

“Namun, setelah diserang pertama pada 29 Desember 2011 dan kedua pada 26 Agustus 2012, kehidupan kaum Syiah sangat sulit”, katanya saat beraudiensi dengan DPR.

Ia menjelaskan hingga sekarang, tidak ada upaya pemerintah untuk mengadakan rekonsiliasi antara kaum Syiah dengan warga yang menyerang mereka dan janji pemerintah untuk membangun rumah dan mengembalikan properti penganut Syiah tidak pernah dilakukan.

“Bahkan, selama di pengungsian beberapa kali bantuan makanan dan air minum sengaja dihentikan oleh pemerintah setempat. Sejak 1 Mei lalu, warga sudah tidak mendapat logistik dari pemerntah, sekarang hanya mengandalkan sumbangan para relawan”, ungkapnya.

Menanggapi permintaan ini, Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan, ia berjanji akan memanggil Bupati Sampang, Gubernur Jawa Timur dan Kapolda Jawa Timur untuk membicarakan persoalan ini.

“Kami akan menanyakan, apa dasar pertimbangan untuk relokasi”, katanya.

Ia menjelaskan, bila rencana relokasi yang ditawarkan pemerintah diterima, maka hal ini akan menjadi preseden buruk untuk kasus serupa pada waktu yang akan datang.

“Saya kuatir, hal ini akan dilakukan di daerah lain di Indonesia. Bila ada minoritas dan mayoritas  yang berseberangan, maka minoritas dipaksa untuk relokasi. Akan jadi kacau, bila di seluruh Indonesia, terjadi seperti ini”, katanya.

Ryan Dagur, Jakarta

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Romo Budi gelar konser amal untuk pembangunan pusat pastoral
  2. Umat Kristiani India mengungkapkan keterkejutan terkait serangan gereja
  3. Paus desak dunia bertindak menyusul tragedi Mediterania
  4. Keadilan sulit dipahami terkait pembunuhan para aktivis lingkungan
  5. Sikap PMKRI tak hadiri undangan Watimpres dapat sanjungan
  6. Politisi Hong Kong berkomentar 'rasis' terhadap PRT
  7. Penganiayaan orang Kristen di Zhejiang lebih parah dari data sebelumnya: China Aid
  8. Otoritas Malaysia desak pemimpin Gereja memasang kembali salib
  9. Para uskup Filipina minta KWI membantu Mary Jane
  10. Ribuan umat Katolik Medan doakan kelancaran KAA
  1. Keluarga dan diplomat ajukan PK terakhir untuk menyelamatkan terpidana mati kasus narkoba
  2. NIIS dan Janji Surga
  3. Gereja Armenia memberikan gelar orang kudus korban genosida
  4. Renungan Hari Minggu Paskah IV bersama Pastor Bill Grimm
  5. RUU kontroversial Myanmar akan berdampak buruk bagi perempuan dan minoritas
  6. Presiden Jokowi tutup KAA, kecam terorisme atas nama agama
  7. Sikap PMKRI tak hadiri undangan Watimpres dapat sanjungan
  8. Asia-Afrika nyatakan perang terhadap narkoba
  9. Jaksa agung diminta sidik pelanggaran HAM berat
  10. Menag masih persoalkan batasan agama RUU PUB
  1. Terlalu banyak TKI yang nasibnya dihukum mati. Apa gerangan yang mereka lakukan...
    Said on 2015-04-16 20:46:00
  2. Sepertinya orang "Rimba" Jambi tidak mempunyai nama lain? Tidak masuk sensus? T...
    Said on 2015-04-14 09:11:00
  3. Nasib mereka bergantung di benang sutra.. karena getolnya para jaksa penuntut......
    Said on 2015-04-11 09:21:00
  4. Menteri dalam kasus ini harus gebrak meja! Beliau terlalu manis.....
    Said on 2015-04-11 09:13:00
  5. Semoga bagi para pengungsi merasa terhibur dan perhatian dari Paus Fransiskus me...
    Said on 2015-04-09 06:01:00
  6. Kalau sampai pada vonis hukuman mati, diam saja ya, tidak perlu menentangnya....
    Said on 2015-04-03 08:59:00
  7. Apakah waktunya setiap perempuan membawa rotweiler kalau bepergian??...
    Said on 2015-04-03 08:55:00
  8. Terima kasih untuk bantuannya... semoga aman saja....
    Said on 2015-04-03 08:50:00
  9. Domba tidak bisa mengerti apa maunya serigala... Siapa menulis buku sejahat itu ...
    Said on 2015-04-03 08:43:00
  10. Yang tidak tertarik juga tidak akan membacanya.....
    Said on 2015-04-02 15:28:00
UCAN India Books Online