UCAN Indonesia Catholic Church News
Happy Easter to all

‘Statesman Award’ untuk Presiden SBY: Bulan di atas kuburan

22/05/2013

‘Statesman Award’ untuk Presiden SBY: Bulan di atas kuburan thumbnail

 

Kita memiliki semboyan hidup bernegara yang sangat bagus, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Keanekaragaman kita diterima sebagai anugerah. Keragaman membentuk kesatuan (Ika). Dan salah satu keberagaman yang kita miliki adalah agama. Betapapun masih dipersoalkan, sejauh ini negara mengakui adanya enam agama resmi.

Akan tetapi, keanekaragaman agama akhir-akhir ini justru  menjadi petaka. Hal itu nyata dialami jemaat Ahmadiyah, Syiah, GKI Yasmin di Bogor, HKBP Filadelfia di Bekasi, dan sejumlah Gereja lain yang saat ini tengah menghadapi masalah. Hak mereka sebagai warga negara tergerus oleh kepicikan kelompok yang alergi dengan keragaman. Undang-undang yang menjamin hak warga negara untuk beragama dan menjalankan ibadah tidak diindahkan.

Kita tidak bisa menutup mata terhadap prilaku antikeberagaman kelompok tertentu, yang tidak mau dipandu hukum dan kewarasan nalar. Bagi mereka, yang tidak masuk kelompok kami, adalah musuh. Baik dan buruk tidak masuk kategori berpikir mereka. Satu-satunya yang dipikirkan adalah ‘kami harus menang’, ‘kamilah satu-satunya pemilik kebenaran’. Moralitas dilecehkan, hukum dianggap sepi, HAM dilangkahi dan etika diinjak-injak. Kalaupun mereka kalah, tetap ada satu senjata terakhir yang dimiliki, kekerasan.

Menguatnya prilaku intoleran, ditopang oleh tumpulnya kesadaran toleransi, menjauhkan kita dari semboyan di atas. Kebhinekaan lantas menjadi petaka. Keberbedaan di pihak tertentu dipersepsi sebagai ancaman. Di pusaran arus persoalan ini, negara tidak  menyelesaikan masalah. Minoritas  kehilangan rasa aman. Lebih dari itu, hak mereka dirampas.  Kepemimpinan SBY terbukti lemah dalam mengatasi persoalan ini.

Akan tetapi, terasa aneh bin ajaib, Presiden SBY akan mendapat penghargaan karena prestasinya dalam  mengembangkan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Penghargaan yang diberikan Appeal of Concsience Foundation (ACF), sebuah yayasan yang berbasis di New York, Amerika Serikat itu segera menuai gelombang kritikan.

Profesor Emeritus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Franz Magnis Suseno SJ, adalah salah satu di antara yang serius menyatakan keberatan. Ia mengirim surat ke ACF yang menyatakan keberatannya atas penghargaan itu.

“Selama 8,5 tahun kepemimpinannya, kaum minoritas Indonesia  justru berada dalam situasi tertekan”, begitu petikan surat Romo Magnis. Ia pun mempertanyakan motivasi di balik penghargaan ini. Betapa tidak, SBY sebetulnya defisit keberanian menjalankan tugasnya melindungi minoritas. Apa jasa SBY mengembangkan toleransi di negeri ini sehingga perlu diapresiasi?

Meski penolakan terus dilancarkan, namun penghargaan itu rupanya akan tetap diterima presiden. Juru bicaranya,  Julian Aldrin Pasha mengatakan, “Itu bentuk apresiasi dan penghargaan yang didasarkan penilaian organisasi independen”.

Bagi rasio kita, penghargaan itu bermasalah. Ada kesenjangan antara prestasi dan apresiasi. Tetapi harus diakui, protes kita tak menggagalkan pemberian penghargaan itu. Lantas apakah dengan itu, SBY yang sebentar lagi turun tahta, akan dikenang bangsa ini sebagai pejuang toleransi. Yah, katakanlah Bapak toleransi?

Tidak bisa diingkari, penghargaan itu akan diterima di tengah kondisi bangsa yang sarat intoleransi. Rasanya kita kembali menemukan tuah sajak terpendek Sitor Situmorang berjudul “Malam Lebaran”.  “Bulan di atas kuburan”, demikian petikan syair sajaknya.

Kubur dan bulan bisa saja sama-sama indah. Kuburan bisa dibangun sedemikian rupa sehingga sedap dipandang. Keduanya berbeda dalam hal ini: di balik keindahan bulan, kita menemukan bebeningan dan terang. Ada matahari kebenaran, yang memberi terang itu. Akan tetapi, di balik keindahan kuburan, ada amis kematian dan onggokan tulang belulang.  Seram dan menakutkan!

Di balik “Statesman Award’ untuk SBY, ada tulang-belulang minoritas yang meninggal akibat kekejaman prilaku intoleran. Kita berkabung untuk penghargaan itu. Tidak mengurang rasa hormat pada sang penyair, kita menggubah sajaknya. ‘Statesman Award’ untuk SBY: Bulan di atas kuburan.

Penghargaan itu barangkali mengharumkan nama SBY di luar sana. Akan tetapi, di negeri sendiri, kita membesut ketidakberesan. Ada yang keliru dengan penghargaan itu. Kita tidak berbesar hati karenanya. Hemat saya kita bahkan perlu berkabung. Sebab di balik keharuman dan kemewahan penghargaan itu ada amis kematian dan onggokan tulang belulang yang meneriakkan keadilan. Mereka mati karena prilaku intoleran! Dan, negara terus saja diam di hadapan fakta ini.

Darah mereka mengalir di jalanan, menguap di terik matahari, mengganggu mimpi malam kita. Tetapi yang pandir akan tetap nyenyak tidurnya. Baginya, itu adalah bunga tidur. Yah, barangkali menjadi bagian dari pencitraan. Bukankah kita pernah memiliki orang yang kurang lebih seperti itu? Soeharto, sebagaimana dikutip Bangkok Post pada 26 Oktober 1994 pernah berkata, “(Di Indonesia) pelanggaran hak-hak asasi manusia merupakan bagian dari proses-proses pembangunan” (lih. F. Budi Hardiman, 2011). Kita tidak mengharapkan orang pandir yang akan mengatakan, di Indonesia tindakan intoleransi adalah bagian dari pembangunan atau mungkin, politik pencitraan.

Johnny Dohut, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Bisa dihubungi via johnnysevi@yahoo.co.id

 

  • Cinnamon

    berani bertindak, berani bertanggung jawab.

  • Cinnamon

    berani bertindak, berani bertanggung jawab.

  • Cinnamon

    berani bertindak, berani bertanggung jawab.

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Para uskup ingatkan terkait ritual penyaliban
  2. Paus Fransiskus ajak umat untuk refleksi selama Pekan Suci
  3. Paus Yohanes Paulus II turut menjatuhkan komunisme
  4. Imam yang dibunuh di Suriah dipuji sebagai martir
  5. 245 kasus intoleransi di Indonesia dalam setahun
  6. Vatikan angkat seorang profesor wanita jadi penasehat
  7. Komisi Ahli Hukum Internasional kritik penerapan Syariah di Brunei
  8. Renungan Minggu Paskah bersama Pastor Bill Grimm
  9. Pastor pembela hak Tamil masuk dalam daftar "teroris" oleh pemerintah
  10. Gereja Katolik masuki pekan suci
  1. Jesus, Jokowi, dan Keselamatan Rakyat
  2. Renungan Minggu Paskah bersama Pastor Bill Grimm
  3. 7 tewas akibat kapal tenggalam saat prosesi Semana Santa
  4. Mengapa sejumlah umat Katolik tidak suka Paus Fransiskus membasuh kaki?
  5. Polisi siap amankan gereja selama Tri Hari Suci
  6. Imam yang dibunuh di Suriah dipuji sebagai martir
  7. Rakyat yang Disalibkan
  8. Komnas HAM: Pemilu 2014 dikotori kejahatan demografi
  9. Para uskup ingatkan terkait ritual penyaliban
  10. Apakah Paus Fransiskus membuka pintu bagi pria menikah menjadi imam?
  1. Ternyata anak2 ke sekolah tetap harus dijaga orang tua atau utusannya. Sekolah,...
    Said on 2014-04-17 08:02:00
  2. Niat baik dan bersahabat patut disambut baik dan dihargai. Mengapa tidak disebu...
    Said on 2014-04-17 07:45:00
  3. Setuju Romo, kita membutuhkan Pemimpin yang sungguh-sungguh memiliki komitmen un...
    Said Wahyu Handoko Yulianto on 2014-04-17 06:50:00
  4. Terima kasih Mgr. Koo. Kisah hidup yang menjadi inspirasi bagi kami utk memperta...
    Said corry on 2014-04-10 12:42:00
  5. Ria: sy jg geram dengan tindakan mantan pastor ini, yg akhirnya membuat nama Ger...
    Said corry on 2014-04-10 12:27:00
  6. Dimana2 orang Kristen dianiaya, dikambinghitamkan dgn alasan ini itu yg tdk terb...
    Said Corry on 2014-04-10 11:48:00
  7. Aneh negeri ini jg presiden odong2. Ini bukan negara muslim, shg seenaknya mener...
    Said Corry on 2014-04-10 11:41:00
  8. Metode blusukan memang telah dilakukan oleh Yesus dan juga para nabi, sehingga p...
    Said Hadrianus Wardjito on 2014-04-07 20:47:00
  9. Sepertinya penulisan oleh Tempo mungkin tidak sesuai dengan yang dikatakan, bahw...
    Said on 2014-04-07 17:15:00
  10. Disebut FUI, ataukah FPI? Sepertinya pengacauan mereka menjadi kebanggaan pemer...
    Said on 2014-03-31 17:23:00
UCAN India Books Online