UCAN Indonesia Catholic Church News
Tomorrows church today

Pakar liturgi prihatin dengan lagu-lagu liturgi pernikahan bergaya pop

03/06/2013

Pakar liturgi prihatin dengan lagu-lagu liturgi pernikahan bergaya pop thumbnail

Pastor Gerardus Majella Bosco da Cunha O.Carm

 

Romo Gerardus Majella Bosco da Cunha O.Carm, sekretaris eksekutif Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia mengatakan ia merasa prihatin dengan lagu-lagu jenis pop  digunakan dalam liturgi pernikahan.

“Saya merasa prihatin dengan lagu-lagu  pop yang digunakan dalam liturgi pernikahan. Hal itu merusak suasana sakral dari liturgi itu sendiri,” kata Romo Bosco, yang juga pakar liturgi, dalam talkshow tentang Ekaristi, yang diadakan di aula katedral Jakarta, pada 1 Juni, yang dihadiri sekitar 150 peserta dari sejumlah paroki di keuskupan agung Jakarta.

Menurutnya, ”Banyak yang memakai lagu pop. Lagu-lagu seperti ini tentu tidak mencerminkan hubungan horizontal antara manusia dan Tuhan.”

Ia mengatakan, lagu yang ideal adalah lagu yang liriknya berasal dari Kitab Suci dan cerminan dari hubungan horizontal antara pasangan pengantin dan Tuhan yang menyatukan mereka.

Romo Bosco menambahkan, ”Kami sedang mengumpulkan lagu-lagu pernikahan dan menyatukannya dalam sebuah buku. Dari seluruh Indonesia, kami coba cari dan seleksi lagu-lagu yang bagus dan cocok secara liturgis. Sekarang, sedang dalam proses penggodokan.”

Mengenai keberadaan event organizer perkawinan yang kerap mengatur jalannya upacara perkawinan, ia berkomentar, ”Sebetulnya, mereka harus tahu kewenangan mengatur. Hanya pastor yang berhak mengatur jalannya upacara ketika pasangan pengantin berada di dalam gereja.”

Ia juga mengkritik tentang cara mengatur pengantin pria masuk dahulu ke dalam gereja dan tunggu di depan altar sementara mempelai wanita masuk kemudian. Menurutnya, cara ini kuno dan merendahkan martabat perempuan. Seharusnya kedua mengantin bersama-sama masuk gereja.

Tentang dekorasi gereja, katanya, juga perlu diperhatikan. ”Boleh meriah, tetapi jangan sampai mengubah gereja jadi semacam pusat hiburan atau mal,” kata Romo Bosco.

Bagi Romo Bosco, keindahan liturgi pernikahan tidak selalu terletak pada meriah dan bagusnya dekorasi. ”Justru dekorasi yang sederhana bisa menampakkan keanggunan sebuah pernikahan.”

Romo Bosco juga menjelaskan liturgi pernikahan yang dilakukan di rumah. Hal itu boleh-boleh saja dilakukan di rumah, asal ada persetujuan dari pastor paroki setempat. “Saya menganjurkan, sebaiknya upacara dilakukan di gereja atau kapel. Ini adalah perayaan liturgis. Jadi, harus terjadi di tempat yang liturgis juga,” ungkapnya.

Sementara seorang peserta seminar yang tidak menyebutkan namanya mendukung pernyataan Romo Bosco. “Menurut saya, liturgi pernikahan diadakan secara sederhana. Yang penting keduanya membangun perkawinan yang langgeng, setia dan saling membahagiakan,” kata wanita yang telah menikah 32 tahun lalu, kepada UCAN Indonesia.

Talkshow ini merupakan salah satu rangkai acara dalam rangka Tahun Iman. Selain acara tersebut pada 2 Juni diadakan pameran peralatan liturgi museum katedral Jakarta, adorasi Ekaristi, dan Misa, yang dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo.

Konradus Epa, Jakarta

 

9 Comments on "Pakar liturgi prihatin dengan lagu-lagu liturgi pernikahan bergaya pop"

  1. Yulius Siantar Man on Tue, 4th Jun 2013 11:45 pm 

    Sebagai seorang yang pernah belajar liturgi di bangku kuliah, saya sangat setuju dengan pendapat Romo. Saya pertama sekali ikut perayaan Ekaristi pernikahan di Jakarta dan di sana saya mendengar lagu-lagu bergaya pop. Kalau Anda berasal dari Protestant dan menjadi Katolik tolong jangan membawa selera Anda tentang music Liturgi sekalipun anda seorang dermawan yang punya pengaruh besar di paroki dan Keuskupan. Tolong juga para romo mendalami itu dan tegas di saat Anda diminta mempersiapkan teks liturgi pernikahan kerabat anda. Sikap permissif akan semakin mengacaukan musik liturgi jikalau romo sendiri tak mau tahu tentang musik liturgi. Music Liturgi Katolik itu punya kekhasan dan punya tradisi benilai cita rasa tinggi yang tak dimiliki oleh musik agama manapun di dunia ini. Biarlah musik itu menjadi abadi di dunia yang tak abadi ini, supaya keabadian yang dicita-citakan manusia di surga itu terasa nyata lewat musik liturgi. Menurut saya pencinta lagu pop yang menggeser lagu liturgi adalah orang-orang yang bercita rasa rendah.

  2. yanto saputrayo on Wed, 5th Jun 2013 5:15 am 

    Memang “umat” terbawa arus “hidup dalam kedagingan” perlu usaha yang lebih keras bagi para Imam dan para awam yang telah mencapai kedewasaan iman untuk membawa “umat” lebih “hidup dalam roh”..

  3. Bambang Kuss on Fri, 14th Jun 2013 3:26 pm 

    Sekarang kita sedang dalam gelombang Evangelisasi Baru. Akan sangat bagus jika dalam Evangelisasi Baru gereja belajar lagi dari gereja perdana. Pada waktu itu yang dipunyai Gereja Perdana hanya “perjanjian baru” yang adalah Ekaristi (1Kor 11:23-25)… selebihnya masih ndompleng tata upacara Yahudi, bahkan ketika Gereja bergerak ke barat, melalui Yunani, juga ndompleng tata upacara kafir dan bahasa lokal (Yunani dan Latin), melakukan “enkulturasi”. Tentu saja lagu-lagu juga mengikuti lagu rakyat setempat, namun dengan dijiwai “perjanjian baru” (sekali lagi lihat 1Kor 11:23-25, bukan buku Perjanjian Baru). Dari situlah Gereja menjadi semakin luas berkembang hingga ke ujung-ujung dunia.
    Ketika Gereja memantapkan diri dan membekukan diri maka dinamika budaya yang mengantar Gereja kepada dunia seluas-luasnya menjadi mandeg. Tentu bukan situasi semacam ini yang kita kehendaki dalam “njembaraken Kraton Dalem” (mendatangkan Kerajaan Allah di tempat-tempat baru, di hati yang baru)…. hehehe…. selalu perlu enkulturasi, inkulturisasi…

  4. Bambang Kuss on Fri, 14th Jun 2013 3:28 pm 

    Pernikahan
    dilakukan sekali seumur-hidup. Seyogyanya menjadi kenangan yang
    unforgettable, tentu karena dikaitkan dengan perayaan “kenangan akan
    Tuhan” (ekaristi kudus). Namun lagu-lagu pun hendaknya yang mempunyai
    makna bagi kedua pribadi yang menikah dan
    para saksi (Gereja) yang hadir. Maksudnya supaya jadi ikatan ketika ada
    masalah. Jangan sampai ketika ada masalah, bahkan perayaan
    pernikahanpun sama sekali bukan kenangan yang mengikat hati karena biasa-biasa saja.
    Siapa
    bisa menjadi hakim “sakramen”? Sebab sakramen adalah keikut-sertaan
    dalam tubuh-dan-darah Tuhan yang menjadi ikatan perjanjian baru? Apakah
    lagu-lagu yang “liturgis” memberi jaminan? Ataukah pengucapan janji
    sehidup semati yang dihayati dengan penuh karena hati gembira? Bukan
    pengucapan janji yang letoi karena suasana yang diciptakan serba letoi?
    Saya
    malah sangat prihatin dengan upacara yang khusyuk tetapi semua
    mengantuk! Itu artinya “tidak ada hati” di situ. Apa artinya sakamen
    “tanpa hati”? Cuma formalitas?

  5. ester on Tue, 25th Jun 2013 9:11 pm 

    Mungkin mereka merasa lagu liturgi pernikahan yang ada kurang mengena dan terlalu sering didengar sehingga tidak merasa ada sesuatu yang berbeda lagi.

    Tuhan kita kan kreatif, mungkin bisa para musisi gereja menciptakan lagi lagu-lagu liturgi pernikahan yang baru yang bernuansa rohani sehingga kesakralan masih terasa.

  6. Indonesian Papist on Wed, 24th Jul 2013 8:37 am 

    humanisme yang seperti apa? menurut anda atau menurut Gereja? karena banyak umat sekarang pingin banget Gereja menyesuaikan diri dengan dirinya tapi si umatnya gak mau menyesuaikan diri dengan Gerejanya.

    tentang musik dalam Liturgi, ada banyak dokumen yang mengatur contohnya Tra Le Solecitudini oleh St. Pius X, ada Musicam Sacram, ada juga Chirograph oleh Beato Yohanes Paulus II dan lain-lain. Monggo dipelajari, sayangnya hierarki kita belum nerjemahinnya ke bahasa Indonesia. Padahal ini semua dokumen bagus untuk memperbaharui citarasa liturgis kita sehingga menjadi otentik bukan sekadar ungkapan pribadi.

    Nah, tentang “ungkapan umat” apakah ungkapan umat itu selaras dengan kehendak Gereja atau gak sih? Harus diperhaitkan juga, agar ungkapan umat bukan sekadar ungkapan tapi juga memiliki jiwa liturgis dan pemikiran Gereja di dalamnya.

    Saya sebagai orang muda jujur tidak suka dengan pendekatan liturgis di Kotabaru karena orang mudanya gak diajarkan berliturgi yang benar, umatnya juga gak diajarkan hal demikian. Di sisi lain, kreativitas pun tidak selamanya bagus dan Kotabaru sudah memberikan contohnya di mana lagu-lagu non-liturgis kerap masuk ke dalam Liturgi Suci.

    By the way, jangan mensimplifikasi Gereja seperti itu. Gereja itu dari Allah untuk umat, bukan dari umat untuk umat. Jangan membuat definisi “Gereja” berdasarkan pemikiran sendiri, sesuaikan dengna pemikiran Gereja.

  7. Mea Culpa on Thu, 25th Jul 2013 8:13 am 

    Gereja Katolik harus lebih HUMANIS atau HEDONIS?

    Semua yg diajarkan Tuhan adalah supaya manusia menjadi manusia yg sejati, humanis.

    Jadi lebih tepat jika permintaan anda adalah Gereja harus lebih hedonis yaitu mengikuti apa yg disukai dunia.

  8. AGP on Tue, 7th Jun 2016 2:20 pm 

    Lha kan jamannya sekarang katanya harus kreatif harus ada nilai seninya(estetika). Harus sesuai hati, meskipun hatinya gak terdidik hehe….Spt kata Uskup Arinze, Dokter yg benar itu ya yg mengobati sesuai dgn ilmu kedokteran yg dia pelajari dan alami, bukan yg sesuai hati si pasien, bahwa luka yg mestinya dijahit, pasien minta diperban saja yg bagus dan Dokternya menuruti kemauan hati si pasien, begitukah Dokter yg benar ? haha….Aturan baku sdh ada tapi diubah spy tampil beda dan sesuai seleranya, ini sama dgn orang Buang Air Besar tdk harus tepat di lobang WC, biar nylepret2 itu ada nilai seninya, estetikanya tampak….Begitukah liturgi yg semestinya dilakukan? Siapa sih yg diundang dan siapa yg mengundang ? hohoho

  9. senja wijaya on Thu, 9th Jun 2016 1:28 pm 

    setuju, romo.
    dan kami natikan buku lagunya segera terbit.




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Aktivis Filipina mengutuk pembunuhan pemimpin kelompok petani
  2. Umat Kristen peringati serangan bom bunuh diri di Gereja Peshawar
  3. Nasihat Pastor Fransiskan ini mengubah pandangan Jakob Oetama
  4. Anak muda perlu refleksi dan dekat dengan keluarga
  5. Gereja sambut baik pertemuan pemerintah Filipina dan pemberontak Komunis
  6. Pembongkaran masjid tanpa IMB melanggar kebebasan beragama
  7. India takut kaum muda terpengaruh ISIS
  8. Penari Sufi dilibatkan untuk mencari dana buat AYD
  9. Tangkal radikalisme, pastor dan pendeta dilibatkan
  10. Diskriminasi terhadap LGBT terus menguat di Indonesia
  1. Nampaknya penduduk di Kalimantan lebih toleran......
    Said Jenny Marisa on 2016-09-23 09:07:47
  2. Kekejaman semakin banyak terjadi, apa sebabnya? Mengerikan membaca berita sekar...
    Said Jenny Marisa on 2016-09-16 16:28:43
  3. Untuk mencegah umat di keuskupan mati karenanya, harus dipasang poster yang jela...
    Said Jenny Marisa on 2016-09-13 13:45:12
  4. Semua aparat pemerintah daerah dan TNI POLRI di negri ini kehilangan tenaga..?...
    Said Agus giyai on 2016-09-13 11:14:00
  5. Semua aparat pemerintah daerah,TNI POLRI yang bertugas di negri ini, kehilangan ...
    Said Agus giyai on 2016-09-13 11:08:57
  6. Mengapa perempuan dibenci dan diperlakukan dengan kejam... Apakah laki laki itu ...
    Said Jenny Marisa on 2016-09-12 12:16:03
  7. hebatttt sr Nia saudariku.....
    Said holiq on 2016-09-10 23:47:46
  8. Soal menghukum orang bukan urusan saya, tetapi toh tidak dapat diam saja. Menir...
    Said Jenny Marisa on 2016-09-09 20:01:47
  9. Profisiat Mgr.... Semoga Tuhan sentiasa menaungi dan melindungi Bapa Uskup dalam...
    Said Permata on 2016-09-04 17:51:22
  10. Bagaimana doa melepaskan kuasa iblis...
    Said pkoing on 2016-09-04 01:06:09
UCAN India Books Online