LSM HAM dituduh mendukung separatisme di Papua

12/06/2013

LSM HAM dituduh mendukung separatisme di Papua thumbnail

 

Sekitar 30 massa yang menamakan diri Front Pemuda Merah Putih menggelar aksi di depan kantor Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan National Papua Solidarity (Napas), Selasa (11/6), menuduh dua lembaga pembela HAM  tersebut mendukung gerakan separatisme di Papua.

KontraS dan Napas adalah 2 LSM yang selama ini dikenal getol menyuarakan persoalan pelanggaran HAM di Papua, seperti penembakan masyarakat sipil dan kekerasan lain serta mengkritik pemerintah yang dinilai melakukan marjinalisasi terhadap warga Papua.

Dahlan Wattiheluw, koordinator aksi mengatakan, dengan mengatasnamakan HAM, KontraS dan Napas telah menjadi perpanjangan tangan dari upaya kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk mengganggu keutuhan NKRI.

“Kami sadar KontraS dan Napas membela warga Papua, tapi dengan cara itu, Anda juga telah berada bersama kelompok separatis mendukung lepasnya Papua dari NKRI”, katanya saat bertemu dengan wakil dari KontraS dan Napas..

Ia menilai, KontraS dan Napas hanya membela ketika terjadi kekerasan terhadap warga Papua yang menurutnya sebagai bagian dari kelompok separatis, sementara ketika terjadi pelanggaran HAM terhadap TNI dan Polri, KontraS dan Napas tidak bersuara.

“Secara langsung Kontras tidak menjaga keutuhan NKRI dan berpihak membela kelompok separatis OPM yang notabene musuh negara,” ujar Wattileuw.

Ia juga mencurigai keterlibatan pihak asing yang bekerja melalui KontraS untuk mendukung lepasnya Papua. “Ada kepentingan asing yang memanfaatkan LSM untuk melepaskan Papua dari NKRI”, katanya.

Sementara itu, KontraS dan Napas menolak tuduhan tersebut.

Haris Azhar, Koordinator KontraS mengatakan, massa aksi ini telah keliru memahami perjuangan KontraS dalam upaya menegakkan HAM. “Selama ini KontraS berjuang untuk memastikan bahwa semua warga negara Indonesia dihormati haknya”, kata Azhar.

Ia menjelaskan, sebagai lembaga HAM, KontraS memili tugas mengkritisi pemerintah yang mengabaikan persoalan HAM di Papua. “Kami tidak berpretensi membela gerakan separatis. Kami bersuara ketika ada warga NKRI yang menjadi korban kekerasan”, tegasnya.

Senada dengan itu, Zely Ariane, Koordinator Napas menjelaskan, perjuangan Napas adalah membela hak warga Papua yang mengalami penderitaan selama bertahun-tahun, tanpa penyelesaian hingga saat ini.

“Kalau mereka mencurigai, bahwa kami membela separatisme, maka tuduhan  mereka salah. Tugas kami membela kemanusiaan, dalam hal ini warga Papua”, katanya kepada ucanews.com.

Ryan Dagur, Jakarta

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Warga Tamil hadapi kehidupan suram setelah kembali dari pengungsian akibat perang
  2. Gubernur Sulut dukung pembangunan pusat kaum muda Katolik
  3. Mgr Harjosusanto termasuk lima uskup agung Asia yang menerima pallium di Vatikan
  4. Keuskupan Manado terus melakukan persiapan untuk IYD 2016
  5. 15 tahun sahur bareng kaum pinggiran
  6. Paus desak uskup agung baru menjadi saksi yang berani
  7. Menghadapi diskriminasi dalam Gereja, Kristen Dalit mengadu ke PBB
  8. Suara perempuan dalam penyelesaian pelanggaran HAM berat
  9. Agama ramah dimulai dari diri sendiri
  10. Terlepas dari keputusan AS, Filipina tidak setuju pernikahan gay
  1. Lahan parkir gereja dibuka untuk warga Muslim mengunjungi bazaar Ramadan
  2. Umat Katolik desak polisi segera menangkap pelaku pemerkosaan biarawati
  3. Gubernur Sulut dukung pembangunan pusat kaum muda Katolik
  4. Suara perempuan dalam penyelesaian pelanggaran HAM berat
  5. Warga Tamil hadapi kehidupan suram setelah kembali dari pengungsian akibat perang
  6. Paus desak uskup agung baru menjadi saksi yang berani
  7. Menghadapi diskriminasi dalam Gereja, Kristen Dalit mengadu ke PBB
  8. Mgr Harjosusanto termasuk lima uskup agung Asia yang menerima pallium di Vatikan
  9. Forum dialog Jakarta-Papua demi selesaikan polemik Papua
  10. Di Tacloban, korban topan kembalikan keceriaan dengan festival
  1. 1) "Sekolah cinta kasih" untuk orang tua sebelum menikah, agar tahu mengasihi an...
    Said on 2015-06-24 06:48:00
  2. Suster2 di biara butuh penjaga keamanan wanita (satpam wanita) yang terlatih men...
    Said on 2015-06-23 04:35:00
  3. Memprihatinkan... masalah bisa dipecahkan hanya kalau banyak minat menjadi imam ...
    Said on 2015-06-19 06:15:00
  4. Ribut selalu soal puasa dan warung. Mungkin karena jengkel bahwa puasa itu diwa...
    Said on 2015-06-19 05:59:00
  5. Kita dukung Paus Fransiscus - titik. Sebagian penentang besar ada di Amerika.. ...
    Said on 2015-06-18 08:01:00
  6. Katanya, Australia memang mengakui menyuap. Paling tidak, jujur....
    Said on 2015-06-12 08:11:00
  7. Sudahlah, jangan terlalu vokal. Kekhawatiran sebaiknya tidak diucapkan.. Memang...
    Said on 2015-06-12 08:08:00
  8. Bpk Menteri Lukman pikiriannya lurus, tulus dan peduli. Masih ada saja orang bi...
    Said on 2015-06-12 07:45:00
  9. Bangga ada siswi dari Makassar terpilih dan diundang sebagai wakil Indonesia.. k...
    Said on 2015-06-12 07:35:00
  10. Takut para migran membawa penyakit? Memang harus di karantina dulu.. Australia ...
    Said on 2015-06-11 17:18:00
UCAN India Books Online