UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

50 tahun Ensiklik Pacem in Terris, masih relevan di era globalisasi

19/06/2013

50 tahun Ensiklik Pacem in Terris, masih relevan di era globalisasi thumbnail

 

Beato Yohanes XXIII mengeluarkan Pacem in Terris (Damai di Bumi), ensiklik pertama kepausannya yang ditujukan tidak hanya kepada umat Katolik, tetapi juga untuk semua orang yang berkehendak baik.

“Dengan menyampaikan sebuah ensiklik tentang perdamaian kepada semua orang yang berkehendak baik, Paus Yohanes XXIII tidak hanya menjadi Paus yang hebat,” kata Mary Ann Glendon, ketua Akademi Kepausan Ilmu Sosial dan Profesor Hukum di Harvard Law School.

“Paus juga menegaskan bahwa tanggung jawab untuk membangun perdamaian tidak hanya milik sebagian besar orang dan kekuatan dunia, tapi juga milik kita masing-masing dan setiap orang.”

 ”Ada sebuah tugas besar bagi semua orang yang berkehendak baik — tugas membawa perdamaian sejati sesuai perintah yang ditetapkan oleh Tuhan. Ini adalah sebuah ‘keharusan dan perintah kasih.”

Beato Yohanes menulis ensikliknya dalam bahasa Latin tahun 1963 dengan judul  de pace omnium Gentium in veritate, iustitia, caritate, libertate constituenda (membangun perdamaian universal dalam kebenaran, keadilan, kasih, dan kebebasan).

Tahun 2003, Beato Yohanes Paulus II menandai 40 tahun Pacem in Terris sedikitnya sembilan kali acara, membuat refleksi paling luas dalam  pesannya pada Hari Perdamaian se-Dunia dan Hari Komunikasi se-Dunia.

Paus Benediktus XVI menjelaskan dalam pesan Doa Angelus tahun 2006 bahwa Pacem in Terris adalah sebuah “ensiklik abadi”.

 Pacem in Terris menekankan peran pemerintah berdasarkan prinsip subsidiaritas. Dengan keprihatinannya terhadap kekuasaan politik global saat ini, ensiklik itu  ditekankan kembali oleh Paus Benediktus XVI dalam Caritas in Veritate,“  ensikliknya yang dikeluarkan tahun 2009.

Demikian juga, Paus Fransiskus menyinggung Pacem in Terris dalam pidatonya menandai 50 tahun ensliklik tersebut.

Pacem in Terris menjadi topik yang menarik selama peringatan 50 tahun.

Dalam beberapa bulan terakhir, University of Notre Dame, sebuah Universitas Katolik di Amerika Serikat, dan Georgetown University telah menyelenggarakan konferensi tentang ensiklik tersebut.

Pada konferensi di Universitas Katolik itu, Peter Kardinal Turkson, ketua  Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, membahas pembangunan perdamaian Katolik, dan Uskup Richard Pates dari Des Moines, ketua  Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Amerika Serikat, berbicara tentang solidaritas dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Paus Yohanes tidak pernah berpikir ensikliknya yang dikeluarkan terkait dengan situasi perang dingin saat itu, akan tetap relevan di era ‘globalisasi, berdampak luas bagi kemanusiaan universal, kata Uskup Pates.

“Ensiklik ini berkontribusi terhadap kebaikan bersama seluruh umat manusia. Kita ditantang untuk membangun hubungan dan keterlibatan dengan negara-negara lain sebagai jalan menuju perdamaian,” kata prelatus itu.

Setiap orang Kristen, secara pribadi dan bersama, berbagi seruan ini untuk mempromosikan perdamaian. Ia percaya bahwa ensiklik itu telah terbukti mempengaruhi Amerika Serikat menarik pasukannya dari Vietnam, Irak, dan Afghanistan.

Karena Pacem in Terris ditujukan kepada “semua orang yang berkehendak baik,” ketua  National Association of Evangelicals ikut terlibat dalam refleksinya tentang ensiklik itu.

“Lima puluh tahun kemudian kita terkesan dengan pandangan yang luar biasa ini, kita ditantang oleh wawasannya, bersyukur atas setengah abad tanpa perang nuklir dan masih mendambakan perdamaian yang lebih besar,” kata Leith Anderson.

“Salam pembukanya kepada ‘semua orang yang berkehendak baik termasuk kami dari evangelis. Itu adalah seruan bagi umat Katolik dan orang lain untuk bergandengan  tangan untuk kebaikan bersama meskipun berbeda.”

“Evangelis di Amerika telah menemukan umat Katolik  menjadi teman dan sekutu dalam menentang aborsi, menegakkan pernikahan tradisional, dan memberikan advokasi bagi masyarakat miskin,” lanjutnya.

“Penguatan kerjasama kami mungkin belum diwujudkan oleh umat Katolik atau Evangelis tahun 1963, tetapi ensiklik ini jelas membantu membuka jalan.”

“Kabar baiknya adalah bahwa seruan Paus untuk mengakhiri uji coba nuklir dan mencari negosiasi sebagai sarana untuk menyelesaikan konflik secara signifikan telah maju,” tambah Anderson.

Ia mengatakan, “Ensiklik 50 tahun lalu itu telah menjadi standar internasional saat ini, diikuti oleh seluruh kekuatan nuklir kecuali negara-negara nakal sedikit. Saat ini, prinsip-prinsip perdamaian harus diterapkan untuk ancaman baru dan perbedaan, tetapi prinsipnya sama … baik umat Katolik maupun Protestan tahun 2013 adalah bagian dari generasi baru dan berbeda, tetapi Pacem in Terris masih berita penting.”

“Saya berpikir Pacem in Terris terus menantang dan menginspirasi kita,” kata Glendon.

“Paus Yohanes mendorong kita untuk percaya bahwa kita manusia tidak hanya tak berdaya yang terbawa oleh arus gelombang sejarah, kita dibantu untuk mendukung perdamaian, dan kita memiliki tanggung jawab untuk melakukannya.”

Sumber: Remembering Pacem in Terris, 50 years

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Kardinal Tagle: Jadwal Paus akan padat selama kunjungan ke Filipina
  2. Lomba lukisan tentang iman Katolik untuk menemukan seniman muda
  3. Adrianus Meliala: Tidak murah menegakkan hukum di daerah konflik
  4. Menteri perempuan pertama dari Papua berjanji akan angkat martabat perempuan
  5. Menteri perempuan pertama dari Papua berjanji akan angkat martabat perempuan
  6. Pembunuh biarawati: Pengampunan keluarga memberikan 'kehidupan baru' bagi dia
  7. Umat Katolik protes terkait perampasan lahan Gereja oleh pemerintah
  8. Diskriminasi Ras vs Sumpah Pemuda
  9. Kemenag siapkan RUU Perlindungan Umat Beragama
  10. Kekerasan terus terjadi, Gereja Papua minta negara serius lindungi warga
  1. Paus Fransiskus: Jangan menjadi orang Kristen kalau berperilaku buruk
  2. Anarkisme umat Islam akibat salah menafsirkan Alquran
  3. Adrianus Meliala: Tidak murah menegakkan hukum di daerah konflik
  4. Kardinal Tagle: Jadwal Paus akan padat selama kunjungan ke Filipina
  5. Tuntaskan Konflik Papua
  6. Kapel Sistina dipasang dengan sistem pencahayaan baru untuk melestarikan lukisan
  7. Sejumlah agamawan Indonesia ikuti dialog lintas agama di Polandia dan Slowakia
  8. Paus desak para aktivis berjuang melawan ‘penyebab kemiskinan struktural’
  9. Kemenag siapkan RUU Perlindungan Umat Beragama
  10. Ketulusan Jokowi menjadi obat pengungsi Sinabung
  1. Jangan terlalu berharap kebaikan dari DPR yang baru.. Teringat "kucing yang seda...
    Said on 2014-10-10 05:27:00
  2. Korupsi dana pendidikan jangan mengabaikan modus pelaku pada tingkat sekolah: ke...
    Said Lakestra on 2014-10-09 09:15:00
  3. Umat tak butuh statement, tapi kebijakan. Apa yang dapat Gereja bantu terhadap m...
    Said Brian Susanto on 2014-10-09 04:48:00
  4. Bukan saja tidak mendiskriminasi keberadaan agama (yang ada sekarang) tetapi jug...
    Said on 2014-10-07 08:28:00
  5. Yang berbelaskasih menghadapi ahli hukum gereja.. mengingatkan pada Yesus yang m...
    Said on 2014-10-07 08:08:00
  6. Masuk penjara seperti Santo Paulus, demi keadilan dan kerajaan Allah.. syukur bu...
    Said on 2014-10-07 07:52:00
  7. Sangat disayangkan, tidak dimuat apa masalah pokoknya, apa saja yang dituduhkan...
    Said Brian Susanto on 2014-10-07 07:13:00
  8. Konflik sepihak itu (kan tidak ada yang membalas kalau dari kalangan Kristen), s...
    Said on 2014-10-01 14:52:00
  9. Kita semua tertipu. Yang dikira dapat dipercayai pemerintahan yang baik ternyat...
    Said on 2014-09-30 10:19:00
  10. @donotchangemyname: baca dokumen2 Gereja yg terkait dgn hal tsb. Prinsip dan huk...
    Said Antonio on 2014-09-27 01:06:00
UCAN India Books Online