UCAN Indonesia Catholic Church News
Happy Easter to all

Gerakan radikal menguat di lembaga pendidikan

05/07/2013

Gerakan radikal menguat di lembaga pendidikan thumbnail

Ansyaad Mbai

 

Kepala Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai mengutarakan, dunia pendidikan menjadi sarana penting untuk menghalau radikalisasi kaum muda. Di tengah kenyataan bahwa radikalisme yang berada satu tahap di bawah teroris semakin menguat di kalangan generasi muda.

“Karena pendidikan itu kunci. Seperti halnya di Turki, yang berhasil menjadikan pendidikan sebagai cara untuk membendung radikalisme,” kata Ansyaad Mbai dalam Diskusi Publik dan Peluncuran Jurnal Maarif bertajuk “Menghalau Radikalisasi Kaum Muda: Gagasan dan Aksi” di Kantor Maarif Institute, di Jakarta, Rabu (3/7), seperti dilansir shnews.com.

Menurut Ansyaad Mbai, sikap radikal juga bermula dari pembenaran dimasukkannya pemahaman bahwa merekalah yang paling memahami ayat-ayat suci atau hadis Alquran, sehingga dengan begitu mudah melakukan pembenaran membasmi orang-orang yang dianggap sebagai musuh-musuh Islam.

“Sayang, politikus terkemuka atau pemimpin ormas mengambil alih isu seperti ini. Ini kasihan, tokoh kita seperti ini, mungkin karena ingin dijadikan calon apa atau capres,” imbuhnya.

Dalam diskusi tersebut Ansyaad memberikan contoh keterkaitan pelaku bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon, M. Syarif, dengan pengebom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh, Solo, Ahmat Yosepa. Keduanya, kata dia, diketahui sangat aktif dalam aksi fisik melakukan tindakan kekerasan dan berbau intoleransi.

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia, Retno Listyarti mengatakan, peran guru dalam proses pembelajaran memang sangat vital untuk membendung radikalisme di kalangan generasi muda. “Sejak awal, para guru perlu menyadari peran pentingnya dalam menanamkan pendidikan kewarganegaraan yang multikultural dan antikekerasan,” ujarnya.

Direktur Riset Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq mengutarakan, saat ini sekolah telah menjadi ruang terbuka bagi dimensi paham apa saja, termasuk keagamaan yang radikal. Hal ini akibat pihak sekolah terlalu terbuka, kelompok radikalisme keagamaan memanfaatkan ruang terbuka ini untuk memperluas jaringannya.

“Sebagai konsekuensi dari menguatnya paham-paham keagamaan radikal di lingkungan sekolah, banyak siswa yang pemahaman keislamannya menjadi monolitik dan gemar menyalahkan pihak lain. Karena paham keagamaan yang tidak terbuka ini, paham kebangsaan menjadi tereduksi dan menipis,” ujarnya.

Direktur Your Studies Center Universitas Gadjah Mada (UGM), M Najib Azca menyampaikan, setidaknya ada tiga faktor yang bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena radikalisme di kalangan muda. Pertama, dinamika sosial politik di fase awal transisi menuju demokrasi yang membuka struktur kesempatan politik baru di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian.

“Selanjutnya transformasi gerakan radikal Islam yang sebagian memiliki geneologi pada awal kemerdekaan. Ketiga, tingginya angka pengangguran di kalangan muda Indonesia. Ketiga faktor inilah yang berjalin berkelidan menyebabkan radikalisme mendapat tempat subur di kalangan generasi muda,” terangnya.

Foto: acehklik.com

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Imam yang dibunuh di Suriah dipuji sebagai martir
  2. Kamis Putih, Paus membasuh kaki seorang Muslim Libya dan wanita Etiopia
  3. Tahun 2030, Cina jadi negara dengan umat Kristen terbanyak di dunia
  4. Buku Tanpa Diskriminasi diharapkan jadi referensi capres
  5. Pesan 'Urbi et Orbi' Paus Fransiskus pada Hari Raya Paskah 2014
  6. KPK: Perempuan rentan godaan birokrasi bobrok
  7. Ribuan umat Islam hadiri deklarasi anti-Syiah di Bandung
  8. Tim delapan kardinal mulai membahas lagi reformasi
  9. Polisi siap amankan gereja selama Tri Hari Suci
  10. Presiden ucapkan selamat Paskah
  1. Umat Katolik Papua Nugini menghormati misionaris pertama
  2. Hari Bumi, pemuka agama jadi kunci pelestarian lingkungan
  3. Imam anti-nuklir berjuang jadi anggota parlemen
  4. Buku Tanpa Diskriminasi diharapkan jadi referensi capres
  5. KPK: Perempuan rentan godaan birokrasi bobrok
  6. Tahun 2030, Cina jadi negara dengan umat Kristen terbanyak di dunia
  7. “Keselamatan akan segera datang kepada saya,” tulis Asia Bibi dari balik jeruji besi
  8. Pesan ‘Urbi et Orbi’ Paus Fransiskus pada Hari Raya Paskah 2014
  9. Mendikbud tutup TK JIS
  10. Umat Katolik Papua menghayati makna Paskah dengan berakar pada adat lokal
  1. hmmm..semoga saja isa di tata dengan baik oleh pengurus dengan di bantu pemerint...
    Said kornelius,.. on 2014-04-19 09:49:00
  2. Setuju Romo....rakyat butuh media untuk bisa benar-benar mengenal calon presiden...
    Said Fransisca Ninin Nilamsari on 2014-04-17 19:59:00
  3. Ternyata anak2 ke sekolah tetap harus dijaga orang tua atau utusannya. Sekolah,...
    Said on 2014-04-17 08:02:00
  4. Niat baik dan bersahabat patut disambut baik dan dihargai. Mengapa tidak disebu...
    Said on 2014-04-17 07:45:00
  5. Setuju Romo, kita membutuhkan Pemimpin yang sungguh-sungguh memiliki komitmen un...
    Said Wahyu Handoko Yulianto on 2014-04-17 06:50:00
  6. Terima kasih Mgr. Koo. Kisah hidup yang menjadi inspirasi bagi kami utk memperta...
    Said corry on 2014-04-10 12:42:00
  7. Ria: sy jg geram dengan tindakan mantan pastor ini, yg akhirnya membuat nama Ger...
    Said corry on 2014-04-10 12:27:00
  8. Dimana2 orang Kristen dianiaya, dikambinghitamkan dgn alasan ini itu yg tdk terb...
    Said Corry on 2014-04-10 11:48:00
  9. Aneh negeri ini jg presiden odong2. Ini bukan negara muslim, shg seenaknya mener...
    Said Corry on 2014-04-10 11:41:00
  10. Metode blusukan memang telah dilakukan oleh Yesus dan juga para nabi, sehingga p...
    Said Hadrianus Wardjito on 2014-04-07 20:47:00
UCAN India Books Online