UCAN Indonesia Catholic Church News

Marak, agama sebagai pembenaran tindakan radikal

26/07/2013

Marak, agama sebagai pembenaran tindakan radikal thumbnail

Syafi'i Maarif

 

Sejak dulu marak terjadi sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan agama sebagai pembenaran untuk melakukan tindak kekerasan. Para pelakunya merasa menjadi orang paling benar sehingga tidak ada lagi ruang untuk diskusi soal agama.

“Munculnya gerakan-gerakan radikal yang mengatasnamakan agama dalam melakukan kekerasan ini tidak hanya terjadi di lingkup nasional, namun juga tingkat global. Sebut saja gerakan Islam Syariat yang melakukan kekerasan karena merasa paling benar pemahamannya akan agama,” ujar Syafi’i Maarif di Universitas Muhammadiyah Yogyakarata, Kamis (25/7/2023), seperti dilansir sindonews.com.

Dalam acara bedah buku syariah Reproduksi Ideologi Salafiyah di Indonesia karya Ketua PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir, Syafi’i menuturkan, contoh lain ialah organisasi masyarakat Front Pembela Islam (FPI) yang saat ini tengah marak diperbincangkan.

Terbukti, kasus bentrok di Kendal yang terjadi beberapa waktu lalu dikarenakan pemahaman agama secara sepihak.

“Ruang diskusi keagamanan seakan tertutup dan tidak dikenal lagi karena pelaku gerakan radikal tersebut menganggap Islam yang mereka anut dianggap paling benar. Di sisi lain, aparat penegak hukum sepertinya tidak berfungsi dengan baik karena tidak dapat menangani kekerasan yang dilakukan,” imbuhnya.

Menurut Syafi’i, Islam yang sangat kaku akan menjadi anti ilmu pengetahuan. Padahal Islam seharusnya berkemajuan dan mengikuti perkembangan jaman.

Sementara organisasi Islam lain, menurutnya, sibuk dengan diri sendiri. Mereka seperti tidak peduli dengan persoalan sosial yang kian marak terjadi itu.

“Jika kondisi ini diteruskan, Islam akan menggali kuburnya sendiri di masa depan,” tegasnya.

Sementara itu, Haidar mengatakan, dalam sepuluh tahun terakhir, Indonesia diguncang berbagai aliran ke-Islaman yang diidentifikasikan sebagai gerakan Islam radikal.

Dalam gerakan itu muncul berbagai aliran seperti wahabisme, revivalisme, salafisme dan puritanisme.

“Semuanya seakan berlomba-lomba menawarkan aktivitasnya pada masyarakat Indonesia dengan berbagai metode gerakan yang tidak jarang bertabrakan dengan ormas Islam yang telah mapan dan berlangsung sangat lama di Indonesia,” jelasnya.

Haidar mencontohkan, gerakan yang gencar di Indonesia antara lain salafisme yang cenderung politis seperti Hizbut Tahrir Indonesia, Komite Penegakan Syariah Islam, Majlis Mujahiddin dan Forum Ukhuwah Umat Islam.

Gerakan tersebut sudah berkembang di sejumlah kota seperti Jawa Barat, Makassar dan Yogyakarta. Lainnya, gerakan HTI, FUI, MMI dan KPPSI bahkan menawarkan sistem hukum Islam dan bahkan bentuk negara Islam, bukan negara dengan dasar Pancasila dan hukum positif.

“Gerakan dan metodenya bermula dari akar rumput dengan mengerahkan massa di bawah dan membawanya ke level yang lebih tinggi, yakni ke struktur kekuasaan. Mereka bahkan bergerak dari daerah di Indonesia menuju Jakarta sebagai pusat kekuasaan Indonesia. Gerakan yang seperti itu tentu akan merusak hubungan Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang selama ini berlangsung sangat baik,” tuturnya.




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Mgr Adrianus Sunarko Ditahbiskan Uskup Pangkalpinang Akhir Pekan Ini
  2. Paus Ingatkan Uskup Jepang agar Tidak Melupakan Martir
  3. Tidak Diperhatikan, Milisi Ancam Tutup Perbatasan RI-Timor Leste
  4. Uskup Hong Kong Beberkan Cara Menghadapi China
  5. Pastor Salesian Ini Mengisahkan Penangkapan dan Pembebasannya
  6. Caritas Melatih Guru untuk Mencegah Pelecehan Terhadap Anak-anak
  7. Pastor Soganub Akhirnya Bebas dari Tangan Pemberontak Marawi
  8. Pemerintah Jakarta, NU Berjuang Bersama Melawan Ekstremisme
  9. Sekitar 50.000 Warga Rohingya Terancam Kelaparan
  10. PBB Khawatir 1 Juta Rohingya Bakal Melarikan Diri ke Banglades
  1. Terima kasih atas masukannya Romo. Salam hangat...
    Said cnindonewsletter on 2017-09-18 16:37:16
  2. Koreksi: Sejak Oktober 2016, Superior Generale CDD bukan lagi R.P. Jhon Cia, ...
    Said Yustinus CDD on 2017-09-18 11:19:22
  3. Suster, perkenalkan saya Dame. Saya berumur 25 tahun dan saya sudah baptis katol...
    Said Parningotanna Dameria Siahaan on 2017-09-15 14:17:52
  4. kalau ada pohon yang tumbang sebab angin kencang, maka jangan salahkan angin yan...
    Said mursyid hasan on 2017-09-13 00:02:54
  5. Salam Kenal Sahabat seiman, Nama sy Antonius, tinggal di Jakarta Indonesia. Sy...
    Said Antonius on 2017-09-10 21:25:14
  6. Selamat siang Romo Indra Sanjaya. Di Wahyu 13:1 kitab deuterokanonik ada salah t...
    Said agus eko on 2017-09-10 14:04:11
  7. Infonya sangat bermanfaat. Semoga umat Katolik makin mencintai kitab suci.......
    Said Deo Reiki on 2017-09-07 08:31:09
  8. Selamat siang, Jika boleh saya meminta nomer telp ibu Angelic Dolly Pudjowati...
    Said Cornellia on 2017-09-04 15:26:00
  9. sejarah masa lalu, yang masih belum jelas keputusan dari Pemerintah, dan belum j...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:16:52
  10. religius sendiri sangat erat kaitannya kepada seluruh kegiatan umat termasuk lin...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:04:35
UCAN India Books Online