UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Directory | A service of UCA News

Heterofobia dan ancaman kebhinekaan

26/08/2013

Heterofobia dan ancaman kebhinekaan thumbnail

 

Ada yang lebih menakutkan di balik penolakan sebagian warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan terhadap Susan Jasmina Zulkifli untuk menjadi lurah. Hal itu bukan saja sebagai bentuk diskriminasi dan intoleransi berlapis seperti dilansir UCAN Indonesia, Kamis, (22/8) lewat berita berjudul “Penolakan Lurah Beragama Kristen Dinilai Diskriminasi”.

Lebih dari itu, hal yang lebih membahayakan adalah heterofobia, sindrom ketakutan akan yang lain.

Budi Hardiman, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara- Jakarta dalam bukunya Memahami Negativitas (2005:19) mengatakan heterofobia berakar dalam gambaran yang salah tentang manusia lain yang lahir dari defisit kontak dan rasa takut untuk bersentuhan. Target kebencian sebetulnya, demikian Hardiman, bukanlah manusia konkret yang dikenal secara personal melainkan manusia yang dikenal hanya sebagai elemen kelompok yang tidak disukai.

Pengalaman Susan memperlihatkan hal itu. Ia, hemat saya, tidak ditolak sebagai manusia konkret yang dikenal secara personal. Ia ditolak sebagai elemen kelompok yang tidak disukai, yaitu Kristen. Di samping itu, ia juga perempuan, kelompok yang dalam kebanyakan lingkungan masyarakat kita tidak disukai untuk menduduki posisi pemimpin.

Pertimbangan di balik penolakan itu, bukanlah ketidakpercayaan pada kompetensi dan kualitas Lurah Susan untuk menjadi pemimpin. Yang tersingkap adalah sebuah ketakutan akan yang lain. Dalam ketakutan itu, Lurah Susan tidak dilihat sebagai yang lain karena keunikan pribadi dan kapasitasnya tetapi kerena  merupakan elemen kelompok yang tidak disukai, Kristen dan perempuan.

Yang lain, dalam situasi normal, sebetulnya menjadi elemen keseharian kita. Kita bertemu dengan saudara-saudari yang beragama Muslim, Buddha, Hindu, Konghucu dan lain-lain, entah di pasar, kampus, jalan ataupun pusat perbelanjaan. Hal  itu tidak menjadi persoalan. Kondisi seperti inilah yang oleh Hardiman disebuh ‘yang lain di antara kita’. Kita hidup bersama dalam suasana perbedaan tanpa ada persoalan.

Akan tetapi, ketika komunikasi dan proses pengenalan mandeg, kondisinya berubah. ‘Yang lain di antara kita’ menjadi ‘yang lain di hadapan kita’. Yang lain itu dihadapi sebagai monster yang menakutkan. Frase “di hadapan”, demikian Hardiman, mengedepankan hubungan konfrontatif yang bervariasi dari pengambilan jarak sosial tanpa kekerasan, seperti rasa tak suka dan mengabaikan, sampai pada konflik dengan kekerasan. Demikianlah Lurah Susan, menjadi yang lain yang tidak disukai di hadapan  warga yang menolak.

Di balik penolakan itu, sebetulnya yang ditunjukkan bukanlah kekuatan elemen mayoritas (sebagian warga) yang menolak. Kita menangkap ekspresi ketakutan dan ketidakberdayaan warga yang menolak di hadapan seorang Lurah Susani. Dalam pandangan mereka, ada anggapan ini: Daripada menegaskan diri di hadapan Lurah Susan, lebih baik tunduk di bawah egoisme sektoral, mengharap dipimpin oleh yang seiman dan laki-laki.

Lantas, apakah hanya karena Lurah Susan Kristen dan perempuan sehingga ia tidak layak menjadi lurah? Bukanlah ia, sebagai warga negara, juga memiliki hak untuk menduduki posisi itu?

Karena berakar dalam gambaran keliru tentang orang lain, kiranya penyelesaian persoalan ini tidak cukup dengan menegakkan konstitusi. Meminta Gubernur Jakarta Joko Widodo untuk bertindak tegas-konstitutif dalam menyikapi persoalan ini tidaklah cukup. Lebih dari itu, kita membutuhkan koreksi cara berpikir dalam memandang manusia. Yang perlu disingkirkan adalah tangkapan keliru tentang Lurah Susan, dan subjek-subjek lain yang  kerap tidak dilihat sebagai pribadi berkompeten tetapi sebagai elemen kelompok. Hal seperti ini sempat juga menimpa Wakil Gubernur DKI Basuki Tjaja Purnama (Ahok) pada awal periode kepemimpinannya.

Heterofobia  perlu disembuhkan. Karena ia terkait erat dengan  koreksi cara berpikir dalam melihat yang lain. Yang perlu ditata adalah kesadaran intersubjektif. Terkait hal ini, Gabriel Marcel (1889-1973), pemikir Yahudi menawarkan dua cara mendekati realitas yakni sebagai problem dan misteri.

Manusia, menurut Marcel perlu didekati sebagai misteri yang tak tuntas ditimba dengan kerangka sistematik. Dalam konteks kasus yang dialami Lurah Susan, ia telah didekati sebagai problem untuk sebagian warga. Ia dijerat oleh kerangka berpikir sempit Muslim vs non-Muslim dan perempuan vs laki-laki. Bahwa yang berhak merealisasikan diri sebagai pemimpin bagi mayoritas Muslim adalah orang Muslim dan laki-laki, bukan non-Muslim, buka juga perempuan.

Mendekati manusia sebagai misteri berarti menjadikan cinta sebagai instrumen dalam berelasi. Relasi yang dibangun dalam cinta memberi ruang bagi realisasi diri.

Terkait hal ini, Marcel menawarkan lima ciri ideal pola relasi “Aku-Anda” manusia: disponibility, ketersediaan seorang kepada yang lain; receptive,secara aktif menerima dan memberi perhatian; engagement, keterlibatan dan bukan acuh tak acuh; fidelity, kesetiaan, ikut bertanggung jawab atas rencana dan proyek yang lain; dan creativity, memberi ruang bagi terwujudnya kebebasan. Lima hal ini merupakan wadah bagi pertumbuhan manusia untuk menjadi lebih baik.

Akan tetapi, kelimanya terlampau mahal untuk seorang heterofobis!

Betapapun demikian, negara ini tidak memberi tempat bagi para heterofobis. Fundasi hidup bersama kita sangat kokoh, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Kita menggalang kesatuan (unity) dengan sikap hormat terhadap perbedaan (diversity). Mimpi bersama kita adalah: unity in diversity. Sekali saja kita membiarkan heterofobis meraja lela, mimpi itu menyisakan bakal terus resah.

Johnny Dohut adalah Mahasiswa  Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Bisa dikontak via johnnysevi@yahoo.co.id

After reading this article, people also read

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Seorang pastor klaim terima SMS dari setan
  2. Konferensi Gereja Katolik Thailand fokus pada evangelisasi
  3. Konferensi Gereja Katolik Thailand fokus pada evangelisasi
  4. Komnas HAM kirim tim ke lokasi penembakan terhadap polisi
  5. Lebaran, para biarawati bersilaturahim dengan Jokowi
  6. Presiden harus dorong Freeport bangun Smelter di Papua
  7. Puluhan orang cedera dalam upaya menghentikan pembongkaran gereja
  8. Paus Fransiskus: Gosip, marah, gusar akibat selibat tidak berbuah
  9. Kebebasan beragama harus menjadi prioritas presiden terpilih Jokowi
  10. Pasca Pilpres: Umat Kristiani Terbelah
  1. Sejarah singkat Kekristenan di Timur Tengah
  2. Renungan Hari Minggu bersama Pastor Bill Grimm
  3. Pendukung ISIS terancam hukuman
  4. Menteri Agama minta umat Muslim di Indonesia tak terpengaruh ISIS
  5. Sejumlah fasilitas paroki di Gaza terkena serangan bom
  6. Presiden harus dorong Freeport bangun Smelter di Papua
  7. Konferensi Gereja Katolik Thailand fokus pada evangelisasi
  8. Menag tak resmikan Baha’i sebagai agama
  9. Pasca Pilpres: Umat Kristiani Terbelah
  10. Dari Paus Fransiskus: 10 tips untuk perdamaian dan kebahagiaan
  1. Tiada orang dari golongan apapun yang dilupakannya...Motto untuk Asian Youth Day...
    Said on 2014-07-27 11:04:00
  2. Sebelum pengikut muhammad menyebut "allah", kristen arab sudah menggunakan kata ...
    Said umat on 2014-07-26 06:05:00
  3. sembuhkan!...
    Said tuhan on 2014-07-25 02:51:00
  4. Semestinya bisa dihindarkan. Mengapa suster membiarkan anak itu tinggal sendiri...
    Said on 2014-07-22 07:06:00
  5. Penderitaan mereka mengapa tak kunjung berakhir.. Sudah sampai urgensi, sebaikny...
    Said on 2014-07-22 07:01:00
  6. Jelas kalau Jokowi mempunyai pandangan dan niat yang sama (dengan bapak Uskup). ...
    Said on 2014-07-22 06:54:00
  7. Semakin banyak larangan... mau mempersempit hidup orang yang hanya mau berdoa. ...
    Said on 2014-07-20 08:25:00
  8. Selamat menjalankan tugas baru Mgr...
    Said Adonia Sihotang on 2014-07-19 23:27:00
  9. Sudah terlalu sering terdengar protes atas pernyataan yang menyudutkan islam seb...
    Said pluralis on 2014-07-18 04:28:00
  10. Paus Emeritus Benediktus baru tahun lalu diganti oleh Paus Fransiskus. Beliau t...
    Said on 2014-07-16 08:11:00
UCAN India Books Online