UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Directory | A service of UCA News

Kepentingan politik hambat penyelesaian konflik Syiah

30/08/2013

Kepentingan politik hambat penyelesaian konflik Syiah thumbnail

 

Ketika pada Juli lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membentuk tim rekonsiliasi untuk bisa mendamaikan warga Syiah dan Sunni di Sampang, Jawa Timur yang mengalami konflik sejak Agustus tahun lalu, ada harapan, warga Syiah bisa kembali menjalani kehidupan secara normal.

Namun, di tengah proses rekonsiliasi yang kini sedang dilakukan oleh tim dengan ketua Abdul A’la, Rektor IAIN Sunan Ampel, Jawa Timur, ada laporan bahwa pemerintah lokal, termasuk polisi di Sampang menuntut agar warga Syiah harus bertobat dengan memeluk ajaran Sunni, jika mereka ingin menjalani hidup yang aman.

Nur Kholis, 22, seorang Syiah dari desa Karangayam yang hendak kembali ke kampung halamannya pada 6 Agustus lalu untuk merayakan lebaran, setelah merantau di Pulau Bali, dipaksa oleh pemerintah setempat untuk menandatangani surat pernyataan meninggalkan ajaran Syiah.

“Jika menolak menandatangani surat itu, maka nyawa saya akan dihabisi”, katanya.

Ia mengaku dibawa ke rumah seorang kiai dimana di sana ada Bupati Sampang Fannah Hasib, Kepala Kesatuan Kebangsaan dan Politik (Kesbangpol) Sampang Rudi Setiadi, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Omben dan Komando Rayon Militer (Koramil).

Karena Nur menolak ikrar tersebut, ia diusir dari Madura, lalu lari ke Jakarta untuk mencari situasi yang aman.

Laporan dari Hertasning Ichlas, kuasa hukum warga Syiah, sebanyak 35 orang terpaksa sudah menandatangani pernyataan tersebut. “Mereka melakukan itu di bawah tekanan”, jelasnya.

Menteri Agama Suryahdarma Ali, yang menolak dituduh mendukung upaya pemkasaan pertobatan ini mengatakan, pemerintah di Sampang sedang berupaya menyamakan persepsi dengan memberi pencerahan kepada warga Syiah.

Suryadharma menganggap kaum Syiah di Sampang sebenarnya bukan murni menjalani ajaran Syiah, tetapi mengikuti ajaran Tajul Muluk, ulama Syiah yang dijatuhi hukuman penjara pada 2012 karena tuduhan menodai Islam.

Klaim menteri ini dibantah oleh Ahmad Hidayat, Sekjen dari Ahlul Bait Indonesia (ABI), sebuah organisasi Syiah di Indonesia yang mengatakan, warga Syiah Sampang dengan pimpinannya Tajul Muluk adalah benar-benar mengikuti ajaran Syiah. “Jadi mereka bukan aliran sesat. Yang diajarkan Tajul Muluk pun merupakan ajaran Syiah”, kata Ahmad.

Melihat persoalan ini, para pengamat melihat, ketidaktegasan pemerintah menangani masalah Syiah dipicu oleh kepentingan politik.

“Pemerintah akan sulit bersikap netral, mengingat mereka berasal dari partai politik terentu yang memiliki perhitungan-perhitungan politis”, kata Zuhairi Misrawi, pengamat, yang juga anggota dari Nahdatul Ulama (NU), organisasi Muslim teresar di Indonesia.

Pemaksaan untuk bertobat, kata Zuhairi, merupakan bagian dari agenda pemerintah untuk tidak kehilangan dukungan politik.

“Ada ketakutan di tubuh pemerintah, bahwa bila mereka membela kaum Syiah, maka mereka akan kehilangan dukungan dari kaum Sunni yang adalah mayoritas. Jadi, persoalan yang dihadapi kaum Syiah akan begini terus”, katanya.

Zuhairi mengatakan, tahun ini merupakan tahun politik bagi Indonesia, mengingat pada tahun ini berlangsung pemilihan umum kepala daerah (bupati dan gubernur) dan pada tahun depan akan berlangsung pemilihan DPR dan presiden.

“Jadi, bila membela warga Syiah maka partai dari pejabat publik yang ada di sana ditakutkan akan kehilangan pemilih dari kelomppok Muslim Sunni,” ungkapnya.

Hal yang sama, kata dia, akan berlaku dalam Pemilu DPR dan Presiden pada 2014 mendatang. “Pejabat publik yang membela Syiah takut kalah”, jelasnya.

Kepentingan politik di balik kasus Syiah, juga didukung oleh Fatkhul Khoir, dari Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya.

Ia mencontohkan, dalam persiapan pemilihan gubernur Jawa Timur yang akan berlangsung pada 29 Agustus mendatang, seluruh kandidat yang saat ini sedang berkampanye tidak ada yang menyuarakan nasib warga Syiah.

“Saya kira mereka tidak mau ambil resiko. Jadi, cari posisi aman,” kata Fatkhul.

Warga Syiah adalah minoritas di Indonesia, dimana jumlah mereka hanya 2,5 juta jiwa. Sementara penduduk Indonesia, menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) hingga tahun ini jumlahnya mencapai sekitar 250 juta jiwa.

Sementara itu, Dwi Rubiyanti Khalifah, Country Representative The Asian Muslim Action Network (AMAN) mengatakan, sejak awal sudah sangat pesimis tentang keberhasilan proses rekonsiliasi.

Ia menjelaskan, pemerintah seharusnya menjadi mediator yang netral dan berusaha untuk mendorong terjadinya rekonsiliasi.

“Jika saat ini sebagian pemerintah atau kelompok Sunni masih menganggap Shia itu sesat, maka mustahil terjadi rekonsiliasi. Yang ada adalah pemaksaan satu pihak untuk mengakui kebenaran tunggal Sunni. Tentu saja ini melanggar UUD 1945 pasal 28 yang menjamin kebebasan beragama”, katanya.

Ia mengatakan, syarat dari rekonsiliasi adalah memaafkan dan menerima perbedaan.  “Artinya bahwa rekosiliasi mensyarakat sebuah kesadaran diri kelompok Shyiah dan Sunni. Keduanya harus bersepakat untuk saling memaafkan dan menerima apa adanya cara-cara beragama yang dipilih oleh kedua kelompok tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, pemerintah seharusnya menyadari sejak awal bahwa proses rekonsiliasi ini tentu tidak semudah yang dipikirkan karena ada political interest yang bermain di mana satu kelompok dominan ingin memberangus kelompok minoritas.

“Maka, komposisi yang setara dalam upaya rekonsiliasi dimana pemerintah, perwakilan Civil Society Organization (CSO) dan kelompok yang berselisih seharusnya bisa terlibat di dalamnya,” katanya.

Ia menjelaskan, jika harapan agar hidup damai harusnya dibayar dengan tebusan mahal, yaitu pertobatan kaum Shia, maka tidak akan pernah ada cerita damai.

Persoalan Syiah kata dia, akan membawa dampak buruk yang paling kelihatan, yaitu tafsir tunggal sebuah agama akan berkembang.

“Menteri Agama gagal menjaga pluralitas keagamaan di Indonesia dan juga komponen pemerintah lainnya tidak memiliki pendekatan yang cukup inovatif dalam upaya resolusi konflik”, ungkap Ruby.

Ryan Dagur, Jakarta 

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Dipaksa pindah agama dan bayar pajak, warga Kristen tinggalkan Mosul
  2. Wanita Sudan yang nyaris dieksekusi karena pindah agama bertemu Paus Fransiskus
  3. Anak Indonesia butuh keteladanan
  4. Ribuan orang turun ke jalan menentang serangan terhadap para biarawati Katolik
  5. Capres Jokowi berkunjung ke KWI
  6. Paus menyerukan doa bagi orang Kristen yang eksodus dari Mosul
  7. Para suster Misionaris Cinta Kasih terus bekerja di Gaza
  8. Pengadilan Tinggi bela orang Kristen terkait CD yang menggunakan kata "Allah"
  9. Mengenal agama Baha'i yang sedang dikaji pemerintah Indonesia
  10. Presiden SBY: Ketegangan hanya di elit politik, bukan masyarakat
  1. Renungan hari Minggu bersama Pastor Bill Grimm
  2. Wanita Sudan yang nyaris dieksekusi karena pindah agama bertemu Paus Fransiskus
  3. Paus Fransiskus akan makan siang bersama dengan 20 orang muda Katolik Asia
  4. ISIS mengejar orang Kristen yang melarikan diri dari Mosul
  5. Jokowi-JK diingatkan soal kelompok a-nasional
  6. Mengenal agama Baha’i yang sedang dikaji pemerintah Indonesia
  7. Presiden Baru dan Krisis Lingkungan
  8. Presiden terpilih didesak agar tetap pegang janji terkait HAM
  9. Kelompok masyarakat sipil dukung penetapan Pilpres oleh KPU
  10. Para suster Misionaris Cinta Kasih terus bekerja di Gaza
  1. How can the state prohibits the use of Allah word, whereas the word is universal...
    Said y3 on 2014-07-14 14:51:00
  2. Good news. I have been in South Korea and several time attended Misa in Myongdon...
    Said y3 on 2014-07-14 14:40:00
  3. Tks Romo Uskup tercinta...
    Said Y3 on 2014-07-10 07:31:00
  4. very cool monsinyur...
    Said Y3 on 2014-07-10 07:23:00
  5. Aku ingin komentar namun diluar topik yang seenarnya. Namun ini menggangu pikira...
    Said Yohannes on 2014-07-08 17:53:00
  6. Kira2 FPI dan Kader PDIP garang yang mana ya.....kalo FPI yg diswiping tempat2 m...
    Said Wanto on 2014-07-05 18:19:00
  7. Amin...
    Said Cahya Nugroho on 2014-07-03 16:35:00
  8. Ini versi yang lebih lengkap dari pada yang sudah-sudah saya baca di media OL la...
    Said Dwi Prass on 2014-07-02 19:46:00
  9. sistem pemimpin dunia ini sudah akan berakhir. maka semua yg terjadi memang har...
    Said jojo on 2014-06-30 15:08:00
  10. Good article...
    Said yebambang on 2014-06-27 05:05:00
UCAN India Books Online