UCAN Indonesia Catholic Church News

Tentara dipenjara karena aniaya jurnalis

18/09/2013

Tentara dipenjara karena aniaya jurnalis thumbnail

 

Seorang tentara divonis penjara 3 bulan oleh Pengadilan Tinggi Militer di Provinsi Riau pada Selasa (17/9) karena terbukti menganiaya seorang jurnalis pada tahun lalu.

Ketua Majelis Hakim Kolonel CHK Dr Djodi Suranto mengatakan, Letkol Robert Simanjuntak, “terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penganiayaan” terhadap wartawan foto Riau Pos, Didik Herwanto saat Herwanto sedang meliput jatuhnya pesawat tempur milik TNI AU pada 16 Oktober 2012 di Pasir Putih, Kecamatan Pandau, Kabupaten Kampar, Riau.

Sebelumnya Robert Simanjuntak telah ditahan terlebih dahulu selama 20 hari mulai tanggal 17 Oktober hingga 5 November 2012.

Robert dinyatakan bersalah karena melanggar pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan yang disengaja. Vonis ini sama dengan tuntutan yang disampaikan oleh Oditur Militer.

Adegan kekerasan yang menimpa Herwanto terekam kamera dan kemudian diunggah oleh Riau Pos ke situs Youtube, sehingga tersebar luas tahun lalu. Dalam video berdurasi 3 menit 16 detik itu, Simanjuntak menendang dan menjatuhkan Herwanto. Anggota TNI AU yang lain pun berteriak agar kamera yang dibawa Didik diambil.

“Ambil kameranya… ambil…,” teriak seseorang yang terdengar dalam rekaman tersebut berkali-kali.

Selama persidangan kasus ini, hakim tidak menggunakan UUD Pers karena mengklaim Simanjuntak tidak mengetahui bahwa Didik adalah wartawan.

Menananggpi vonis ini, meski mengapresiasi langkah militer yang bersedia menempuh jalur hukum untuk menindak anggota yang bersalah, namun organisasi media dan aktivis, mengecam diabaikannya UU Pers, sehinga hukuman yang diberikan sangat ringan.

“Seharusnya UU Pers juga dipakai dimana kekerasan itu mestinya dikenai hukuman 2 tahun”, kata Anggota Divisi Hukum dan Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aryo Wisanggeni, kepada ucanews.com.

Menurut Wisanggeni, tindakan Simanjuntak telah menghambat masyarakat memperoleh informasi.

“Menurut pengakuan Didik, saat meliput ia mengenakan kartu pers, namun ternyata hal itu kemudian tidak diakui dalam persidangan. Jadi menurut kami, pelaku tahu bahwa Herwanto adalah jurnalis”, katanya.

Sementara Haris Azhar, Kordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menilai vonis ini tidak menimbulkan efek jera

Menurut Azhar, selain menerapkan UU Pers, seharusnya hakim  juga merapkan pasal perampasan barang yang masuk kategori kejahatan sebagaimana diatur dalam pasal 406 KUHP dan menghilangkan karya cipta sebagaimana diatur dalam  pasal 12 ayat (1) huruf j UU 12 tahun 2002 tentang Hak Cipta, dimana dikatakan bahwa fotografi merupakan karya ciptaan yang dilindungi hak penggunaannya.

“Kami juga menyayangkan ketertutupan proses hukum penyidikan dan proses hukum Mahkamah Militer yang tergesa-gesa. Hal ini sungguh mengurangi kredibilitas Mahkamah Militer”, jelasnya.

Ia menambahkan, ada kesan kuat bahwa sidang ini seolah seperti sandiwara.

“Waktu yang singkat tidak memberikan cukup waktu buat menghadirkan saksi-saksi yang kompeten. Kasus penganiayaan ini bukanlah masuk dalam kategori Tindak Pidana Ringan. Oleh karenanya pembuktiaan harus dilakukan dengan waktu yang cukup, dan bisa memberikan akses kepada masyarakat untuk mengaksesnya”.

Ryan Dagur, Jakarta

Sumber: Air Force officer jailed for assault on journalist

 

Comments are closed.

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Romo Magnis: Pemeluk agama tak sama dengan pendukung bola
  2. Dua Kardinal Hong Kong berbeda pendapat terkait pembicaraan Vatikan-Tiongkok
  3. Renungan Minggu Biasa XXIII bersama Pastor Bill Grimm
  4. Kehadiran minoritas harus memberi arti bagi mayoritas
  5. Tanggapan Gereja Katolik Asia terhadap Laudato si' dalam mengatasi perubahan iklim
  6. Umat Katolik di Tiongkok desak bebaskan uskup lansia yang sakit dan lama dipenjara
  7. TV María akan menampilkan acara untuk anak-anak, orang muda
  8. Kardinal Hong Kong: Ia tidak diundang ke Sinode tentang Keluarga
  9. Para uskup AS belajar isu migran di Malaysia
  10. Cendikiawan Muslim: Pemerintah harus mengambil langkah pemblokiran situs radikal
  1. Renungan Minggu Biasa XXIII bersama Pastor Bill Grimm
  2. Dua Kardinal Hong Kong berbeda pendapat terkait pembicaraan Vatikan-Tiongkok
  3. Umat Katolik menyerukan kanonisasi mantan uskup agung Dhaka
  4. OMK Kamboja dan Laos rayakan Hari Kaum Muda pertama
  5. Pembangunan katedral bersejarah di Singapura masih butuh dana
  6. Umat Katolik Paroki Santa Clara merindukan gereja
  7. Sekolah di Timor Leste masih berjuang dengan kebutuhan dasar
  8. Gereja Katolik dukung aksi mogok nasional pekerja di India
  9. Gereja: UU Ras dan Agama Myanmar bisa menimbulkan perpecahan
  10. Cendikiawan Muslim: Pemerintah harus mengambil langkah pemblokiran situs radikal
  1. Kapan Tiongkok itu jadi negera yang normal - sehat lahir batin?...
    Said on 2015-09-03 08:54:00
  2. Tentu saja kesibukan sebatas Liturgi - Altar, perlu diimbangi dengan ketegasan p...
    Said sani@ on 2015-08-21 11:51:00
  3. Silahkan baca di teks ini selengkapnya...terima kasih.. http://www.mirifica.net...
    Said on 2015-08-19 14:30:00
  4. “Dalam perjalanan ke depan, Gereja Katolik memandang bahwa pemerintah dan para p...
    Said kristiadjirahardjo on 2015-08-17 10:55:00
  5. Undangan kepada Bapa Suci dr Menag unt berkunjung ke Indonesia,tentu sangat meng...
    Said tarcisius fenfat on 2015-08-15 10:51:00
  6. Menuju keteraturan......
    Said on 2015-08-14 16:46:00
  7. Baik sekali kalau Bpk Menteri kunjung ke Vatikan.....
    Said on 2015-08-14 16:45:00
  8. Salut kepada menteri agama t ksi atas upayanya utk mengundang bp paus franciskus...
    Said Eduardus on 2015-08-13 13:29:00
  9. Roma 10:9: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan...
    Said mietiaw69 on 2015-07-29 14:34:00
  10. Pemerintah terus mengundang investor - dan tentu akan memberi izin untuk itu. S...
    Said on 2015-07-29 07:50:00
UCAN India Books Online