UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Directory | A service of UCA News

Paus Fransiskus: Gereja “terobsesi” gay dan aborsi

20/09/2013

Paus Fransiskus: Gereja “terobsesi” gay dan aborsi thumbnail

 

Paus Fransiskus, dalam sebuah wawancara panjang pertama selama masa kepausannya yang baru enam bulan, mengatakan bahwa Gereja Katolik Roma telah menjadi “terobsesi” untuk mengkhotbahkan masalah aborsi, pernikahan gay, dan kontrasepsi.

Paus menegaskan bahwa dia memilih tidak membahas isu-isu tersebut walau ada sejumlah tudingan dari beberapa kritikus.

Dalam bahasa yang terus terang, Paus Fransiskus berusaha untuk mengatur sebuah nada baru bagi Gereja. Ia mengatakan, Gereja harus menjadi “rumah untuk semua” dan bukan “sebuah kapel kecil” yang berfokus pada doktrin, ortodoksi, dan agenda terbatas tentang ajaran-ajaran moral.

“Tidak perlu membahas tentang masalah-masalah itu sepanjang waktu,” kata Paus kepada Pater Antonio Spadaro, rekannya sesama Yesuit, dan Pemimpin Redaksi La Civilta Cattolica, jurnal Yesuit Italia, yang isinya secara rutin disetujui Vatikan.

“Ajaran-ajaran dogmatis dan moral Gereja tidak semua setara. Pelayanan pastoral Gereja tidak boleh menjadi terobsesi untuk menyalurkan begitu banyak doktrin yang tidak saling berhubungan dan memaksakannya dengan keras. Kita harus menemukan sebuah keseimbangan baru, kalau tidak bahkan bangunan moral Gereja kemungkinan akan roboh seperti rumah kertas, kehilangan kesegaran dan keharuman Injil,” kata Paus.

Wawancara tersebut dilakukan dalam tiga pertemuan pada Agustus di tempat tinggal Paus di Casa Santa Marta, sebuah Wisma Vatikan. Paus Fransiskus memilih tinggal di sana ketimbang di apa yang dia sebut tempat yang lebih terisolasi di Istana Apostolik, tempat tinggal bagi banyak pendahulunya.

Wawancara tersebut dirilis serentak Kamis (19/9/2013) pagi oleh 16 jurnal Yesuit di seluruh dunia, dan mencakup refleksi panjang Paus tentang identitasnya sebagai seorang Yesuit. Paus Fransiskus secara pribadi memeriksa transkrip wawancara itu dalam bahasa Italia, kata Pastor James Martin SJ, editor lepas majalah Yesuit New York, America, sebagaimana diikuti harian New York Times.

Majalah America dan La Civilta Cattolica secara bersama-sama meminta Paus untuk memberikan wawancara, yang America kemudian publikasikan di majalah dan dalam bentuk e-book.

“Beberapa hal di dalam wawancara itu benar-benar mengejutkan saya,” kata Pastor Martin. “Dia tampak, bahkan lebih berpikiran bebas dari yang saya bayangkan.”

Kata-kata Paus baru itu sepertinya punya reperkusi di dalam Gereja yang para uskup dan imamnya di banyak negara sering muncul untuk memerangi aborsi, pernikahan gay, dan kontrasepsi sebagai prioritas kebijakan publik mereka.

Paus mengatakan, ajaran-ajaran itu “telah jelas” baginya sebagai “putra gereja,” tetapi semua itu harus diajarkan dalam konteks yang lebih luas. “Proklamasi kasih penyelamatan Allah datang sebelum imperatif moral dan agama,” kata Paus.

Sejak awal masa kepausannya pada Maret, Paus Fransiskus telah memilih untuk menggunakan sorotan global untuk fokus pada mandat gereja, yaitu melayani masyarakat miskin dan terpinggirkan. Karena itulah, dia menggunakan nama Fransiskus, merujuk pada Santo Fransiskus dari Asisi, untuk menegaskan keberpihakannya pada orang miskin dan terpinggirkan. Paus Fransiskus telah membasuh kaki para napi remaja, mengunjungi pusat pengungsi, dan memeluk peziarah cacat dalam audiensinya.

Kehadiran pastoral dan sikap sederhananya telah membuatnya sangat populer. Demikian menurut sejumlah survei terakhir. Namun, ada juga suara ketidakpuasan dari beberapa kelompok advokasi Katolik, dan bahkan dari beberapa uskup, yang telah memperhatikan sikap diamnya terkait aborsi dan pernikahan gay.

New York Times melaporkan, awal bulan ini, Uskup Thomas Tobin dari Providence, Rhode Island, AS, mengatakan kepada surat kabar keuskupannya bahwa dirinya “sedikit kecewa terhadap Paus Fransiskus” karena dia tidak berbicara tentang aborsi. “Banyak orang telah memperhatikan itu,” kata uskup itu sebagaimana dikutip.

Wawancara tersebut merupakan kali pertama Paus menjelaskan alasan di balik tindakan dan apa yang oleh sejumlah pihak dilihat sebagai pengabaiannya. Dia juga menjelaskan tentang komentar yang dibuatnya terkait homoseksualitas pada Juli lalu, saat berada di pesawat terbang ketika kembali ke Roma dari Rio de Janeiro, setelah merayakan Hari Pemuda Sedunia.

Dalam pernyataan yang kemudian menjadi berita utama di seluruh dunia, Paus baru itu berkata, “Siapakah saya (sehingga) harus menghakimi?” Ketika itu, beberapa orang mempertanyakan apakah Paus hanya merujuk pada gay dalam kaitannya dengan imamat di Gereja? Namun, dalam wawancara kali ini dia menegaskan bahwa dirinya berbicara tentang gay dan lesbian pada umumnya.

“Seseorang pernah bertanya kepada saya, dengan cara yang provokatif, apakah saya menyetujui homoseksualitas,” katanya kepada Pastor Spadaro. “Saya menjawab dengan pertanyaan lain, “Katakan padaku, ketika Tuhan melihat seorang gay, apakah Dia mendukung keberadaan orang itu dengan cinta, atau menolak dan mengutuk orang itu?” Kita harus selalu menghargai orang tersebut.”

Wawancara itu juga menampilkan sisi Paus sebagai manusia, yang mencintai Mozart dan Dostoevsky serta neneknya, dan film favorit Fellini La Strada.

Wawancara 12.000 kata itu berkembang sangat luas dan mengonfirmasi apa yang selama ini dicurigai orang-orang Katolik bahwa Paus Fransiskus sangat tidak mirip dengan para teolog Gereja maupun para politisi sayap kanan.

Dia mengatakan, sejumlah orang mengira dia? merupakan seorang “ultrakonservatif” karena reputasinya ketika dia menjabat superior (pemimpin) Provinsi Yesuit di Argentina. Ia mengatakan, dia menjadi superior ketika berusia masih sangat muda, yaitu 36 tahun, dan bahwa gaya kepemimpinannya ketika itu terlalu otoriter. “Namun, saya tidak pernah menjadi orang yang berhaluan kanan (konservatif),” katanya.

Kini, kata Paus, dirinya lebih suka gaya kepemimpinan yang lebih konsultatif. Dia telah menunjuk sebuah kelompok penasihat beranggota delapan kardinal, sebuah langkah yang katanya direkomendasikan para kardinal di konsistori yang memilihnya. Mereka menuntut reformasi birokrasi Vatikan, kata dia, seraya menambahkan bahwa dari kedelapan orang itu, “Saya ingin melihat bahwa konsultasi ini nyata, bukan konsultasi seremonial.”

Paus mengatakan bahwa “menakjubkan” melihat keluhan tentang “kurangnya ortodoksi” mengalir ke kantor Vatikan di Roma dari kalangan Katolik konservatif di seluruh dunia. Mereka meminta Vatikan untuk menyelidiki atau mendisiplinkan para imam, uskup atau biarawati mereka. Keluhan seperti itu, kata Paus, “lebih baik ditangani secara lokal,” atau kantor Vatikan berisiko menjadi “lembaga sensor”.

Ketika ditanya apa artinya bagi dia “berpikir bersama Gereja”, sebuah frasa yang digunakan pendiri Yesuit, St. Ignatius dari Loyola? Paus Fransiskus mengatakan bahwa hal itu tidak berarti “berpikir bersama hierarki Gereja”.

Dia mengatakan dia memikirkan Gereja “sebagai umat Allah, para pastor dan umatnya. Gereja adalah totalitas umat Allah,” lanjutnya, sebuah gagasan yang dipopulerkan setelah Konsili Vatikan II tahun 1960, yang Paus puji telah membuat Injil jadi relevan dengan kehidupan modern, sebuah pendekatan yang dia sebut “benar-benar tidak dapat diubah”.

Sumber: kompas.com

Comments are closed.

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Paus Fransiskus: "Tolong berhenti, saya minta Anda dengan sepenuh hati"
  2. Paus Fransiskus akan makan siang bersama dengan 20 orang muda Katolik Asia
  3. Jokowi-JK diingatkan soal kelompok a-nasional
  4. Seorang pastor klaim terima SMS dari setan
  5. Lebaran, para biarawati bersilaturahim dengan Jokowi
  6. Puluhan orang cedera dalam upaya menghentikan pembongkaran gereja
  7. Kebebasan beragama harus menjadi prioritas presiden terpilih Jokowi
  8. Komunitas Sant’Egidio refleksikan pelayanan mereka bersama uskup, imam dan suster
  9. Paus Fransiskus: Gosip, marah, gusar akibat selibat tidak berbuah
  10. Renungan hari Minggu bersama Pastor Bill Grimm
  1. Pasca Pilpres: Umat Kristiani Terbelah
  2. Dari Paus Fransiskus: 10 tips untuk perdamaian dan kebahagiaan
  3. Polisi dinilai lalai cegah peredaran video WNI ISIS
  4. Menteri Agama ingin semua agama dilayani negara
  5. Prancis memberikan suaka kepada orang-orang Kristen Irak
  6. Komnas HAM kirim tim ke lokasi penembakan terhadap polisi
  7. Paus Fransiskus ucapkan Selamat Idul Fitri
  8. Pilpres tak boleh mengoyak persaudaraan nasional
  9. Paus Fransiskus: Gosip, marah, gusar akibat selibat tidak berbuah
  10. Seorang pastor klaim terima SMS dari setan
  1. Tiada orang dari golongan apapun yang dilupakannya...Motto untuk Asian Youth Day...
    Said on 2014-07-27 11:04:00
  2. Sebelum pengikut muhammad menyebut "allah", kristen arab sudah menggunakan kata ...
    Said umat on 2014-07-26 06:05:00
  3. sembuhkan!...
    Said tuhan on 2014-07-25 02:51:00
  4. Semestinya bisa dihindarkan. Mengapa suster membiarkan anak itu tinggal sendiri...
    Said on 2014-07-22 07:06:00
  5. Penderitaan mereka mengapa tak kunjung berakhir.. Sudah sampai urgensi, sebaikny...
    Said on 2014-07-22 07:01:00
  6. Jelas kalau Jokowi mempunyai pandangan dan niat yang sama (dengan bapak Uskup). ...
    Said on 2014-07-22 06:54:00
  7. Semakin banyak larangan... mau mempersempit hidup orang yang hanya mau berdoa. ...
    Said on 2014-07-20 08:25:00
  8. Selamat menjalankan tugas baru Mgr...
    Said Adonia Sihotang on 2014-07-19 23:27:00
  9. Sudah terlalu sering terdengar protes atas pernyataan yang menyudutkan islam seb...
    Said pluralis on 2014-07-18 04:28:00
  10. Paus Emeritus Benediktus baru tahun lalu diganti oleh Paus Fransiskus. Beliau t...
    Said on 2014-07-16 08:11:00
UCAN India Books Online