UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Para pencari suaka berada dalam ketidakpastian pasca kebijakan baru Australia

02/10/2013

Para pencari suaka berada dalam ketidakpastian pasca kebijakan baru Australia thumbnail

Muhammand Hanif, yang meninggalkan Myanmar dan kini tinggal di Indonesia.

 

Saat Al Falakh melarikan diri dari Irak pada 2011, ia tidak menyangka, dua tahun kemudian ia terjebak di Indonesia dan rencana mencari suaka di Australia tiba-tiba direnggut darinya.

Pria berusia 47 tahun ini bersama isteri dan empat anaknya menjadikan Cisarua di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagai perhentian sementara dalam upaya mereka mencari hidup yang lebih baik.

“Saya berharap kami bisa pergi ke Australia. Tetapi jika tidak bisa, tidak masalah. Kami tidak bisa memaksa Australia untuk menerima kami,” katanya kepada ucanews.com ketika ditemui di wisma, penginapan mereka, Kamis (26/9).

Di bawah pengaruh Tony Abbott, Perdana Menteri baru, Australia menggelontorkan dana miliar dolar untuk Operasi Pengamanan Perbatasan, yang bertujuan menghentikan gelombang perahu para pencari suaka ke Australia dari wilayah perairan Indonesia.

Hal ini membuat puluhan ribu pencari suaka di Indonesia terpaksa memikirkan kembali masa depan mereka.

Militer yang bertugas memimpin rencana perlindungan perbatasan ini – sebagai respon terhadap peningkatan jumlah pendatang ilegal dengan perahu – termasuk upaya untuk menangkap kapal – bermaksud mengembalikan pencari suaka ke Indonesia.

Australia berharap untuk mengirim pasukan tambahan ke Indonesia demi mencari kelompok penyelundupan manusia, sebuah rencana yang membuat Indonesia marah.

Abbott datang ke Jakarta pada Senin (30/9) dan melakukan pembicaraan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono demi mengembangkan kebijakan bersama mengatasi apa yang ia anggap sebagai ancaman keamanan utama bagi Australia.

Banyak orang telah meninggal dalam perjalanan berbahaya dengan perahu ke Pulau Christmas, Australia. Kecelakaan terbaru terjadi pada Jumat (27/9) pekan lalu, ketika sebuah kapal yang membawa sekitar 120 pencari suaka dari Libanon, Yordania dan Yaman tenggelam di Laut Jawa. Dua puluh delapan orang ditemukan masih hidup. Setidaknya 36 orang tewas dan lainnya diyakini masih hilang.

Al Falakh, seperti halnya pencari suaka lain asal Irak, melarikan diri karena konflik di negara tersebut yang makin memburuk setelah AS mulai menarik pasukan keamanan tahun 2011.

Kini ia hidup dari sumbangan bulanan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), dan menatap kosong ketika ditanya berapa lama mereka akan tetap di Indonesia

“Saya ingin pergi ke Australia secara legal,” katanya. “Saya menginginkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak saya. Saya ingin mereka mendapat pendidikan.”

Dengan bantuan IOM, keluarganya dan beberapa teman lainnya akan meninggalkan wisma di Cisarua dan berangkat menuju Medan, Sumatera Utara. Mereka masih terus menanti informasi dari Lembaga Penanganan Pengungsi PBB (UNHCR) perihal negara mana yang akan menjadi tujuan mereka.

Medan, juga merupakan titik masuk pertama ke Indonesia untuk Muhammad Hanif, seorang Muslim Rohingya yang meninggalkan Myanmar barat pada usia tiga tahun dan menghabiskan 35 tahun tinggal di sebuah rumah kecil di Malaysia.

Pada Januari tahun ini, ia dan 17 anggota keluarga. termasuk ibunya yang berusia 63 tahun, naik perahu ke Indonesia.

“Kami berencana pergi ke Australia secara ilegal,” katanya. Mereka pun membayar seorang agen sebesar 42 ribu ringgit Malaysia (US $ 13.000) agar bisa ke Australia. “Kami hanya berharap bisa memiliki masa depan yang lebih baik.”

Namun, agen tersebut menipu mereka. Dari Medan mereka dibawa ke Bogor dan disiksa. Kemudian, seorang tukang sapu yang iba dengan kondisi mereka membawa mereka ke Jakarta, dan sekarang tinggal di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

“Kami mendengar informasi tentang  kebijakan [Abbott] itu dari staf di sini. Jika kami tidak bisa pergi ke Australia, kami bersedia untuk pergi ke negara lain selama kami bisa hidup damai,” kata Hanif .

Menyusul pembicaraan dengan SBY pada Senin, Abbott mengatakan: “Kami akan bersatu untuk mengatasi masalah ini.” Sementara Presiden Yudhoyono, dalam sebuah pernyataan juga menekankan perlunya kerjasama bilateral atas isu ini. Tapi, kesan bahwa Indonesia marah pada Australia yang memaksakan kebijakan baru tetap ada.

“Masalah internal di Australia tidak harus menjadi alasan untuk memaksa negara lain mengakomodasi para pencari suaka yang ingin pergi ke Australia,” kata Dinna Wisnu, seorang analis politik internasional Universitas Paramadina Jakarta.

“Tujuan mereka adalah Australia, bukan Indonesia”, tambahnya.

Meski demikian, ia juga melihat rencana Abbott sebagai kritik terselubung terhadap ketidakmampuan Indonesia mengamankan wilayah perbatasan.

Pada akhirnya, bagaimanapun, negara yang akan memberikan mereka suaka bukanlah masalah yang paling mendesak bagi ribuan orang yang terjebak dalam ketidakpastian di Indonesia. Banyak dari antara mereka melarikan diri dari perang dan penganiayaan di tanah air mereka, dan karena itu tidak ada keinginan untuk kembali.

“Yang paling penting adalah bahwa kami tidak akan dikirim kembali ke Myanmar,” kata Hanif.

Ryan Dagur, Cisarua

Sumber: Asylum seekers left to rue Australia’s closing door

 

  • http://fuh.my/rukun-nikah-dan-penjelasannya/ Rukun Nikah Dan Penjelasannya | Fuh.My

    [...] perempuan mestilah seorang Islam, tidak berada dalam ihram haji atau umrah, bukan isteri kepada seseorang, tidak berada dalam iddah dan perempuan yang [...]

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Mahasiswa Papua demo di Jakarta tuntut merdeka
  2. Keuskupan Manado terus melakukan persiapan untuk IYD 2016
  3. Mgr Harjosusanto termasuk lima uskup agung Asia yang menerima pallium di Vatikan
  4. 15 tahun sahur bareng kaum pinggiran
  5. Menghadapi diskriminasi dalam Gereja, Kristen Dalit mengadu ke PBB
  6. Paus desak uskup agung baru menjadi saksi yang berani
  7. Dubes Vatikan ajak umat berdoa bagi Paus Fransiskus
  8. Agama ramah dimulai dari diri sendiri
  9. Terlepas dari keputusan AS, Filipina tidak setuju pernikahan gay
  10. Bagi penduduk daerah perbatasan, era tanpa kewarganegaraan berakhir
  1. Paus desak uskup agung baru menjadi saksi yang berani
  2. Menghadapi diskriminasi dalam Gereja, Kristen Dalit mengadu ke PBB
  3. Mgr Harjosusanto termasuk lima uskup agung Asia yang menerima pallium di Vatikan
  4. Forum dialog Jakarta-Papua demi selesaikan polemik Papua
  5. Di Tacloban, korban topan kembalikan keceriaan dengan festival
  6. Radikalisme akan tetap ada selama adanya ketidakadilan
  7. Agama ramah dimulai dari diri sendiri
  8. Integrasi politik di Papua stagnan akibat pelanggaran HAM
  9. Di Bangladesh, pernikahan anak menghadapi kenyataan suram
  10. Jesuit akan fokus pada pendidikan di Asia
  1. 1) "Sekolah cinta kasih" untuk orang tua sebelum menikah, agar tahu mengasihi an...
    Said on 2015-06-24 06:48:00
  2. Suster2 di biara butuh penjaga keamanan wanita (satpam wanita) yang terlatih men...
    Said on 2015-06-23 04:35:00
  3. Memprihatinkan... masalah bisa dipecahkan hanya kalau banyak minat menjadi imam ...
    Said on 2015-06-19 06:15:00
  4. Ribut selalu soal puasa dan warung. Mungkin karena jengkel bahwa puasa itu diwa...
    Said on 2015-06-19 05:59:00
  5. Kita dukung Paus Fransiscus - titik. Sebagian penentang besar ada di Amerika.. ...
    Said on 2015-06-18 08:01:00
  6. Katanya, Australia memang mengakui menyuap. Paling tidak, jujur....
    Said on 2015-06-12 08:11:00
  7. Sudahlah, jangan terlalu vokal. Kekhawatiran sebaiknya tidak diucapkan.. Memang...
    Said on 2015-06-12 08:08:00
  8. Bpk Menteri Lukman pikiriannya lurus, tulus dan peduli. Masih ada saja orang bi...
    Said on 2015-06-12 07:45:00
  9. Bangga ada siswi dari Makassar terpilih dan diundang sebagai wakil Indonesia.. k...
    Said on 2015-06-12 07:35:00
  10. Takut para migran membawa penyakit? Memang harus di karantina dulu.. Australia ...
    Said on 2015-06-11 17:18:00
UCAN India Books Online