UCAN Indonesia Catholic Church News

Urbanisasi di Cina bermasalah bagi Gereja

08/10/2013

Urbanisasi di Cina bermasalah bagi Gereja thumbnail

 

Saat Bosco Wang bekerja di sebuah pabrik garmen di kota Cixi tahun 2000, ia melihat bahwa selama Misa hari Minggu banyak umat paroki mendaraskan Rosario bukannya mengikuti perayaan Ekaristi dan mendengarkan homili.

Dia kemudian tahu bahwa umat paroki itu adalah pekerja migran seperti dirinya,  yang tidak bisa memahami dialek imam Ningbo itu.

Wang sendiri memiliki pengalaman serupa tahun 1990-an ketika ia bekerja di Provinsi Guangdong dan memilih beribadah di sebuah gereja Protestan karena pendeta berbicara bahasa Mandarin, daripada di gereja Katolik lokal dimana imam berbicara bahasa Kanton.

Para buruh migran harus beradaptasi dengan sejumlah tantangan ketika mereka pindah dari kampung halaman mereka. Misalnya, makanan, iklim, adat istiadat setempat dan bahasa memperkuat perasaan mereka sebagai orang luar.

“Itu adalah pengalaman pahit bergabung kembali Gereja Induk saya hanya pada perayaan penting,” kata Wang.

Bahasa adalah salah satu dari sekian banyak hambatan yang dihadapi sekitar 260 juta pekerja migran yang pindah dari provinsi pedesaan untuk mencari pekerjaan di daerah perkotaan di seluruh Cina.

Mandarin adalah bahasa resmi, tetapi ada lebih dari 80 dialek.

Dengan bertumbuh urbanisasi yang didominasi penduduk pedesaan di Cina telah menjadi masalah yang mendesak bagi negara itu.

Tahun 2011, penduduk perkotaan meningkat dari pedesaan untuk pertama kalinya dalam sejarah negara itu, dengan 51,3 persen penduduk Cina kini tinggal di daerah perkotaan yang padat.

Pergeseran ini telah menimbulkan sejumlah masalah sosial, termasuk perumahan yang aman, pekerjaan dan izin tinggal, yang pejabat pemerintah telah berusaha untuk mengatasi.

Pada 30 Agustus tahun ini, Perdana Menteri Li Keqiang bertemu dengan tim spesialis dari Akademi Ilmu Pengetahuan dan Akademi Teknik Cina mengevaluasi penyelidikan yang dilakukan oleh lebih dari 100 peneliti selama setahun.

Menurut laporan kantor berita Xinhua, Li mengatakan kepada para spesialis itu bahwa akibat peningkatan urbanisasi, perhatian utama adalah penegakan hukum, pembangunan kota-kota kecil dan kota-kota besar yang setara, dan meningkatkan kualitas hidup.

Tapi, urbanisasi dan migrasi massal juga mengorbankan kehidupan keagamaan, seperti para imam berjuang memberi pelayanan pastoral yang memadai untuk umat mereka.

Dalam kasus Bosco Wang, salah satu masalah kritis adalah bahasa. Dia mendesak pastor paroki merayakan Misa sore dalam bahasa Mandarin untuk mengakomodasi umat migran yang bertumbuh di dalam Gereja.

Hal itu membutuhkan waktu beberapa tahun, kedatangan imam paroki baru, yang bisa mengatasi penolakan orang tua yang lebih suka liturgi dalam dialek setempat.

Saat ini, ada 500 buruh migran Katolik di Cixi, dengan sekitar 100 dari mereka menghadiri Misa Minggu secara rutin. Mereka juga memiliki pertemuan mingguan, memberikan pelayanan karitatif serta mengadakan ziarah dan perayaan festival.

“Pengalaman ini memberitahu kepada saya bahwa sangat penting bagi para imam untuk menerima migran dan menunjukkan kepedulian terhadap tantangan yang mereka hadapi,” kata Bosco Wang.

Gereja di Cixi merangkul para pekerja migran, tetapi di banyak bagian lain di Cina baik perkotaan maupun pedesaan, komunitas Gereja telah menunjukkan kesediaan untuk berubah sedikit.

Selain itu, urbanisasi telah meninggalkan paroki-paroki pedesaan. Cina memiliki lebih dari 31 juta orang Kristen, tetapi sebagian besar berada di kota-kota.

Di daerah pedesaan, kebanyakan pria mencari pekerjaan di kota-kota provinsi lainnya. Ketidakhadiran mereka menimbulkan beban pada keluarga mereka, dengan memelihara anak dan lansia.

Kota Erquanjin di Provinsi Hebei yang mayoritas beragama Katolik memiliki sekitar 2.200 penduduk, tetapi kini hanya sekitar 100 umat Katolik.

Sebaliknya, populasi Gereja kota berkembang karena mereka “menerima wajah baru setiap minggu” dari pedesaan, kata Pastor Joseph Wang dari Keuskupan Yuci di Provinsi Shanxi.

“Bahkan pastor paroki tidak bisa memastikan berapa banyak umatnya,” tambahnya.

Gereja Kristen Haidian di Beijing memiliki 850 umat tahun 2003. Umatnya meningkat 11.000 tahun 2011, dengan 90 persen dari anggota lahir tahun 1990-an.

Sebagai umat perkotaan bertumbuh, sedangkan pedesaan berkurang. Bahkan desa-desa dimana mereka berbasis mulai menurun.

Menurut Dr Huang Jianbo, profesor antropologi di Universitas Renmin di Beijing, sekitar 80-100 desa telah menurun setiap hari dalam dekade terakhir karena lebih banyak orang pindah ke perkotaan.

Pekerja Gereja mengatakan Gereja di pedesaan Cina berjuang menyediakan bagi mereka yang tertinggal, sementara umat perkotaan berjuang dengan konflik sosial antara kaya dan pendatang miskin dari pedesaan.

Orang-orang Kristen pedesaan berpendidikan rendah telah menemukan diri mereka terasing “di lingkungan Gereja baru karena berbeda pemahaman, pendekatan dan pengalaman akan Tuhan,” kata Dr Huang.

Sumber: China’s urbanization means problems for the Church

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Romo Magnis: Pemeluk agama tak sama dengan pendukung bola
  2. Jika Gairah Hidup Anda Redup, Nyalakan dengan Ini
  3. Kehadiran minoritas harus memberi arti bagi mayoritas
  4. Umat Katolik di Tiongkok desak bebaskan uskup lansia yang sakit dan lama dipenjara
  5. Tanggapan Gereja Katolik Asia terhadap Laudato si' dalam mengatasi perubahan iklim
  6. Prioritas, pewartaan, sentuhan kasih mencerminkan latar belakang Paus Fransiskus
  7. TV María akan menampilkan acara untuk anak-anak, orang muda
  8. Kardinal Hong Kong: Ia tidak diundang ke Sinode tentang Keluarga
  9. Kelompok Religius luncurkan website menentang perdagangan manusia
  10. Para uskup AS belajar isu migran di Malaysia
  1. Sekolah di Timor Leste masih berjuang dengan kebutuhan dasar
  2. Gereja Katolik dukung aksi mogok nasional pekerja di India
  3. Gereja: UU Ras dan Agama Myanmar bisa menimbulkan perpecahan
  4. Cendikiawan Muslim: Pemerintah harus mengambil langkah pemblokiran situs radikal
  5. Tanggapan Gereja Katolik Asia terhadap Laudato si’ dalam mengatasi perubahan iklim
  6. Umat Katolik di Tiongkok desak bebaskan uskup lansia yang sakit dan lama dipenjara
  7. Hadiri HUT Paroki Salib Suci, Azizah jadi ikon pluralisme
  8. Pemenang Magsaysay Award dinilai sebagai ‘pahlawan modern’ di Asia
  9. Komnas HAM desak pelaku diadili
  10. Para demonstran menuntut akhiri kekerasan terhadap komunitas Kristen di India
  1. Kapan Tiongkok itu jadi negera yang normal - sehat lahir batin?...
    Said on 2015-09-03 08:54:00
  2. Tentu saja kesibukan sebatas Liturgi - Altar, perlu diimbangi dengan ketegasan p...
    Said sani@ on 2015-08-21 11:51:00
  3. Silahkan baca di teks ini selengkapnya...terima kasih.. http://www.mirifica.net...
    Said on 2015-08-19 14:30:00
  4. “Dalam perjalanan ke depan, Gereja Katolik memandang bahwa pemerintah dan para p...
    Said kristiadjirahardjo on 2015-08-17 10:55:00
  5. Undangan kepada Bapa Suci dr Menag unt berkunjung ke Indonesia,tentu sangat meng...
    Said tarcisius fenfat on 2015-08-15 10:51:00
  6. Menuju keteraturan......
    Said on 2015-08-14 16:46:00
  7. Baik sekali kalau Bpk Menteri kunjung ke Vatikan.....
    Said on 2015-08-14 16:45:00
  8. Salut kepada menteri agama t ksi atas upayanya utk mengundang bp paus franciskus...
    Said Eduardus on 2015-08-13 13:29:00
  9. Roma 10:9: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan...
    Said mietiaw69 on 2015-07-29 14:34:00
  10. Pemerintah terus mengundang investor - dan tentu akan memberi izin untuk itu. S...
    Said on 2015-07-29 07:50:00
UCAN India Books Online