UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Awas, ayat Kitab Suci mudah disalahgunakan!

10/10/2013

Awas, ayat Kitab Suci mudah disalahgunakan! thumbnail

Romo Indra Sanjaya (kanan).

 

Apabila Kitab Suci dari agama mana saja diperlakukan sebagai “bahan mentah” dan diterima begitu saja, maka kandungan ayat-ayatnya dapat dengan mudah dipakai untuk membenarkan tindakan destruktif.

Karena itu, Kitab Suci seharusnya diperlakukan sebagai “bahan olahan” yang memperhatikan konteks sejarah yang melatari, sehingga dapat ditafsirkan dengan lebih baik.

Hal ini ditegaskan oleh Novriantoni Kahar, Dosen Falsafat dan Agama di Universitas Paramadina, dalam seminar sehari “Kitab Suci dan Cerita Kekerasan” di Lembaga Alkitab Indonesia, Sabtu (05/10), bersama Romo V. Indra Sanjaya, pengajar di Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta.

“Hanya dengan cara itu kita dapat memahami ayat-ayat Qur’an yang berkaitan dengan jihad maupun qital atau perang dengan lebih baik,” ujar Novriantoni, seperti dilansir satuharapan.com.

“Sebab harus diakui, ada banyak ayat Qur’an yang, kalau dicomot begitu saja dari konteksnya, seakan-akan menganjurkan tindak kekerasan,” lanjutnya.

Lulusan universitas Al-Azhar di Kairo itu menunjukkan, misalnya akar kata “teror” (irhab) juga dapat ditemukan dalam Qur’an, yakni turhibun dalam Surah al-Anfal 60, untuk merujuk pada aksi-aksi yang menggentarkan pihak yang dianggap sebagai musuh.

“Sudah pasti, Al-Qur’an tidak hanya berbicara mengenai aksi-aksi kekerasan,” kata Novriantoni. “Namun, orang bisa memakai ayat-ayat ini sebagai justifikasi tindakannya, maupun juga bisa menuduh bahwa Islam mendukung aksi kekerasan.”

Dalam sejarah kekristenan, cerita-cerita kekerasan dalam Kitab Suci juga menimbulkan kegalauan sama. Seperti disebut Romo Indra, teks-teks kekerasan dalam Alkitab, terutama Perjanjian Lama, membuat Marcion dari Sinope pada abad kedua Masehi membuat “kanon” sendiri dengan membuang PL.

“Alkitab yang dibaca Marcion adalah Alkitab yang kita baca juga,” kata Romo Indra. “Teks-teks teror (texts of terror) yang menggambarkan kekerasan juga tetap ada. Yang berbeda adalah pembacanya dan situasi yang melatarinya.”

Karena itu, berangkat dari ajaran Konsili Vatikan II, Romo Indra menegaskan bahwa teks-teks teror harus ditempatkan dalam konteks jenis sastra dan konteks sejarah yang melatarinya.

“Di situ pendekatan historis-kritis terhadap Alkitab sangat penting untuk menemukan jenis sastra dan konteks hisoris yang melatari. Dan untunglah sejak Vatikan II, Gereja Katolik menerima pendekatan itu,” lanjut Romo Indra. “Kalau tidak, kami orang Katolik akan selalu tertinggal dari Protestan.”

Walau berangkat dari pemahaman tentang Kitab Suci yang berbeda, Novriantoni memberi usulan yang hampir sama. Memakai ungkapan pemikir besar Islam asal Pakistan, Fazlur Rahman, Novriantoni mengingatkan jika seseorang yang membaca Kitab Suci seharusnya melakukan “perjalanan ulang-alik”: menelusuri lorong waktu silam guna memahami konteks ayat yang dibaca, lalu kembali pada masa kini guna memberinya makna baru. Lewat penelusuran sejarah, Novriantoni memperlihatkan bagaimana gagasan tentang perang (qital) yang ada dalam Qur’an juga berkembang sesuai konteksnya, mulai dari pemberian izin (udzina) untuk mempertahankan diri sampai perintah perang (qatilu) untuk menegakkan kekuasaan Islam perdana.

Lalu bagaimana ayat-ayat itu sebaiknya dimaknai sekarang? Bukankah konteks sejarahnya sudah sangat berbeda? Di sini, menurut Novriantoni, gagasan pemikir Muslim dari Iran, Abdulkarim Soroush, patut ditengok. Soroush membedakan tiga lapisan perintah keagamaan: pada lapisan inti, ada pembentukan keyakainan (ithar `aqa’idi). Aspek ini dibungkus oleh aspek etis (ithar akhlaqi) seperti soal keadilan, kemanusiaan, dan lain-lain. Lalu barulah lapisan terluarnya (qusyur) yang dibungkus berbagai aturan dan ketentuan legal-formal (ithar huquqi), termasuk hukum-hukum perang tadi.

“Nah, menurut Soroush, agama sudah bisa dianggap sempurna dengan dua lapisan pertama tadi,” kata Novriantoni.

“Karena itu, bagi saya ada atau tidaknya ayat-ayat perang, tidaklah menambah atau mengurangi nilai Islam atau agama apapun. Sebab yang paling penting adalah lapisan kedua Soroush, yakni aspek pesan-pesan etisnya,” tambahnya.

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Kompetisi Ahmad Wahib Award 2014 untuk toleransi
  2. Presiden SBY: ISIS 'memalukan' umat Muslim
  3. Orang Asia masih mengenang dampak kunjungan Paus Fransiskus
  4. Imam Maryknoll yang berani mengadakan berbagai misi ke Korea Utara
  5. Serikat Guru: Kurikulum 2013 itu celaka 13
  6. Datangi Jokowi, aktivis HAM sodorkan dokumen pelanggaran HAM di Indonesia
  7. Presiden SBY meresmikan Situs Pekabaran Injil di Papua Barat
  8. Setelah SBY dinilai gagal pelihara kebebasan beragama, kini harapan ada pada Jokowi
  9. Keluarga Katolik Thailand berkumpul untuk persiapan sinode keluarga di Roma
  10. Paus merefleksikan perjalanannya ke Korea Selatan dalam Audiensi Umum
  1. Pemuda dunia bahas persatuan dalam keberagaman di Bali
  2. Tiga usulan SETARA untuk Jokowi-JK dalam penyelesaian HAM
  3. Pembongkaran gereja di Cina terus berlanjut
  4. Dalam 6 bulan, 2.677 istri di Malang gugat cerai suami
  5. Kompetisi Ahmad Wahib Award 2014 untuk toleransi
  6. 16 RS ditunjuk sebagai pusat rehabilitasi narkoba
  7. Fransiskan menandai 75 tahun misi di Pakistan
  8. Setelah SBY dinilai gagal pelihara kebebasan beragama, kini harapan ada pada Jokowi
  9. Serikat Guru: Kurikulum 2013 itu celaka 13
  10. Protes menandai ulang tahun kekerasan anti-Kristen di India
  1. Tiada orang dari golongan apapun yang dilupakannya...Motto untuk Asian Youth Day...
    Said on 2014-07-27 11:04:00
  2. Sebelum pengikut muhammad menyebut "allah", kristen arab sudah menggunakan kata ...
    Said umat on 2014-07-26 06:05:00
  3. sembuhkan!...
    Said tuhan on 2014-07-25 02:51:00
  4. Semestinya bisa dihindarkan. Mengapa suster membiarkan anak itu tinggal sendiri...
    Said on 2014-07-22 07:06:00
  5. Penderitaan mereka mengapa tak kunjung berakhir.. Sudah sampai urgensi, sebaikny...
    Said on 2014-07-22 07:01:00
  6. Jelas kalau Jokowi mempunyai pandangan dan niat yang sama (dengan bapak Uskup). ...
    Said on 2014-07-22 06:54:00
  7. Semakin banyak larangan... mau mempersempit hidup orang yang hanya mau berdoa. ...
    Said on 2014-07-20 08:25:00
  8. Selamat menjalankan tugas baru Mgr...
    Said Adonia Sihotang on 2014-07-19 23:27:00
  9. Sudah terlalu sering terdengar protes atas pernyataan yang menyudutkan islam seb...
    Said pluralis on 2014-07-18 04:28:00
  10. Paus Emeritus Benediktus baru tahun lalu diganti oleh Paus Fransiskus. Beliau t...
    Said on 2014-07-16 08:11:00
UCAN India Books Online