UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Paus Fransiskus dan Jokowi

11/10/2013

Paus Fransiskus dan Jokowi thumbnail

 

“Ada dua pemimpin hebat saat ini: Paus Fransiskus dan Joko Widodo”, demikian status yang saya tulis di laman Facebook, Kamis (10/10) kemarin. Semula saya hanya sekedar iseng dengan status itu. Tapi, ternyata mendapat respon positif dari sejumlah sahabat. Mereka setuju. Ada yang memberi komentar: “Ok banget, mereka jadi pemimpin di abad 21”. Yang lain menimpali: “Setuju! Persis lahir dari rahim yang sama mereka berdua.”

Menyandingkan dua nama itu, bila membayangkan latar belakang mereka yang jauh berbeda mungkin agak aneh. Namun, menurut saya, Paus, pemimpin Gereja Katolik yang kini ada di Vatikan itu dan Joko Widodo (Jokowi), gubernur untuk sekitar 10 juta warga Jakarta memiliki kesamaan: menerapkan cara memimpin yang pro orang kecil dengan spirit dasar keserderhanaan.

Sejumlah pemberitaan tentang Paus sejak ia dipilih, mengindikasikan pilihan tegasnya pada model hidup bersahaja, sesuai dengan spirit tokoh yang ingin ia teladani, St Fransiskus dari Assisi, orang kudus yang hidup pada abad 12-13 di Italia dan terkenal dengan julukan “Si Miskin dari Assisi”.

Di sisi lain, Jokowi, yang namanya tak hanya menggema di Indonesia hingga ke daerah pelosok, juga kini mulai dilirik sejumlah media internasional, tampil sebagai sosok yang populis di mata publik, dengan keberpihakan yang tegas terhadap masyarakat kecil.  New York Times, media internasional ternama di Amerika Serikat ketika mengulas Jokowi beberapa waktu lalu mengambil judul menarik: In Indonesia, a Governor at Home on the Streets. Jokowi lebih merasa nyaman berada di tengah warga Jakarta, ketimbang menikmati kenyamanan di ruangan kantor.

Gaya kepemimpinan dua tokoh ini hadir pada saat yang tepat. Paus Fransiskus muncul di tengah sejumlah krisis kehidupan menggereja, yang sudah mulai menjauh dari cita-cita membawa keselamatan  bagi semua orang, yang dalam konteks praksis, dapat diterjemahkan, merawat kepedulian terhadap mereka yang menjadi korban dari ketidakadilan, juga di tengah pola hidup sejumlah pimpinan Gereja yang tak terlalu memikirkan lagi tugas dasar sebagai gembala.

Sementara Jokowi, tampil sebagai kritik untuk model pemimpin yang lebih memikirkan kekayaan pribadi, korup, ketimbang kemaslahatan hidup berbangsa. Jokowi tampak kontras dengan tokoh-tokoh seperti Akil Mochtar, Ahmad Fathanah, dkk.

Sejarah perjalanan Gereja mencatat, model hidup sederhana menjadi penyanggah bagi krisis yang dialami akibat ketidaktaatan para pemimpin pada perintah Injil: membawa kebaikan bagi semua. St Fransiskus Assisi, yang adalah anak pedagang kaya di Assisi Italia menjadi penopang bagi Gereja yang hampir roboh pada zamannya, akibat krisis yang menimpa hidup para pemimpin gereja, yang glamour, mementingkan kekayaan pribadi dan tak peduli lagi apa seharusnya tugas mereka.

Ia hadir membawa pembaruan, menyadarkan Gereja akan jati dirinya. Cara hidupnya menjadi teguran keras bagi Gereja. Ia muncul sebagai tokoh revolusioner.

Keserhanaan yang kini ditunjukan Paus Fransiskus dan kedekatan dengan rakyat kecil yang ditampilkan Jokowi, kiranya menjadi model ideal pemimpin masa kini.

Hal ini terjawab, misalnya dari bagaimana umat Katolik saat ini begitu takjub dengan khotbah-khotbah dan tindakan sederhana Paus Fransikus: menelepon seorang wanita di Italia yang ingin aborsi, menulis di surat kabar menanggapi artikel seorang ateis dan baru-baru ini ia menasehati para suster pertapa di Assisi agar jangan menampilkan wajah muram, seolah tidak bahagia dengan cara hidup yang mereka pilih.

Paus sebagai model pemimpin Gereja yang tidak tampil hanya sebagai penjaga dogma, tetapi membuat wajah Gereja ‘ramah’ terhadap semua orang, di samping menggagas reformasi dari dalam tubuh hierarki.

Hal yang sama, juga terjadi dengan Jokowi. Pilihan cara memimpinnya benar-benar berbeda, dan tampak mustahil dilakukan pemimpin lain. Jokowi, meski tak terlalu pandai beretorika tapi mampu menjelmakan kata-katanya dalam tindakan.

Sejumlah survei yang memperlihatkan dukungan publik agar mantan Walikota Solo ini  menjadi presiden, kiranya menjadi jawaban tak terbantahkan, bahwa saatnya sekarang publik menginginkan pemimpin demikian.

Apa yang dilakukan Paus Fransiskus, menjadi kritik untuk model pemimpin Gereja yang kerap terlalu menjaga image, lalu lupa bahwa umat membutuhkan perhatian lebih dari sekedar pesan moral di mimbar. Umat merindukan pemimpin yang mau merasakan apa yang mereka alami, yang mau menjumpai mereka di rumah-rumah sederhana.

Dan, dari Jokowi, para pemimpin, termasuk pemimpin Gereja diajarkan untuk belajar dari keutamaan ini: merelakan tangan menjadi kotor dan bekerja dengan menghasilkan peluh di antara orang-orang kecil, jauh lebih bernilai. Itu yang diimpikan dari pribadi setiap pemimpin.

Ryan Dagur, jurnalis ucanews.com. Kontak: ryandagur@ucanews.com

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Kardinal mohon Indonesia melakukan sidang secara teliti dan baik terkait kasus Mary Jane
  2. KWI: Presiden Jokowi gagal lindungi WNI
  3. Paus memberkati keluarga wanita Pakistan yang dihukum mati terkait penghujatan
  4. Salam Damai dari Bukit Kasih
  5. Tanggapan Menag terkait meningkatnya intoleransi beragama
  6. Paus Emeritus Benediktus XVI merayakan ulang tahun ke-88
  7. Mantan wartawati Filipina ditembak mati
  8. Kelompok Gereja Malaysia mengatakan hukum hudud Kelantan bertentangan dengan konstitusi
  9. Yesuit Asia-Pasifik menyelesaikan tersiat
  10. Warga Lapas diajak hayati semangat Paskah
  1. Paus Emeritus Benediktus XVI merayakan ulang tahun ke-88
  2. Konferensi Waligereja Australia menentang euthanasia
  3. Gereja perlu berjalan bersama dengan umat beriman lain
  4. Renungan Hari Minggu Paskah Ketiga bersama Pastor Bill Grimm
  5. Menjalin kerukunan beragama di Wonosobo
  6. Paus menantang gagasan tentang ‘teori gender’
  7. Kelompok Katolik Filipina luncurkan program pendidikan pemilih
  8. KWI: Presiden Jokowi gagal lindungi WNI
  9. Paus memberkati keluarga wanita Pakistan yang dihukum mati terkait penghujatan
  10. Tiongkok: Dalai Lama harus menghadapi realitas
  1. Terlalu banyak TKI yang nasibnya dihukum mati. Apa gerangan yang mereka lakukan...
    Said on 2015-04-16 20:46:00
  2. Sepertinya orang "Rimba" Jambi tidak mempunyai nama lain? Tidak masuk sensus? T...
    Said on 2015-04-14 09:11:00
  3. Nasib mereka bergantung di benang sutra.. karena getolnya para jaksa penuntut......
    Said on 2015-04-11 09:21:00
  4. Menteri dalam kasus ini harus gebrak meja! Beliau terlalu manis.....
    Said on 2015-04-11 09:13:00
  5. Semoga bagi para pengungsi merasa terhibur dan perhatian dari Paus Fransiskus me...
    Said on 2015-04-09 06:01:00
  6. Kalau sampai pada vonis hukuman mati, diam saja ya, tidak perlu menentangnya....
    Said on 2015-04-03 08:59:00
  7. Apakah waktunya setiap perempuan membawa rotweiler kalau bepergian??...
    Said on 2015-04-03 08:55:00
  8. Terima kasih untuk bantuannya... semoga aman saja....
    Said on 2015-04-03 08:50:00
  9. Domba tidak bisa mengerti apa maunya serigala... Siapa menulis buku sejahat itu ...
    Said on 2015-04-03 08:43:00
  10. Yang tidak tertarik juga tidak akan membacanya.....
    Said on 2015-04-02 15:28:00
UCAN India Books Online