UCAN Indonesia Catholic Church News

Protes dan pelayanan pencegahan HIV/AIDS di Papua tak mempan

11/10/2013

Protes dan pelayanan pencegahan HIV/AIDS di Papua tak mempan thumbnail

 

Angka penderita HIV/AIDS di Kabupaten Mappi, Papua makin “menaikkan” peringkat Papua dalam angka HIV/AIDS di Indonesia. Protes dan pelayanan pencegahan penyebaran HIV/AIDS sejauh ini belum mempan menekan laju angka penderita.

Menurut data Kementerian Kesehatan, kasus kumulatif HIV/AIDS pada periode 1 April 1987 hingga 31 Maret 2013, di Papua — angka HIV mencapai 10.776 dan AIDS 7.796 total 18.676.

Angka AIDS di Papua adalah tertinggi di Indonesia, menyusul Jawa Timur 6.900 dan DKI Jakarta 6299. Sedangkan angka HIV berada di urutan ketiga, setelah DKI Jakarta 23.792 dan Jawa Timur 13.599.

Upaya menekan angka HIV/AIDS ini di Papua sudah dilakukan oleh berbagai pihak.

Tahun 2003, Romo Carolus Loyak memimpin aksi demo ke DPR Papua bersama tokoh-tokoh adat, tokoh-tokoh masyarakat, untuk menuntut penutupan lokalisasi yang menjamur di wilayah itu.

Protes itu didasarkan pada kekhawatiran suatu saat HIV/AIDS akan meledak di wilayah selatan Papua, karena saat dilakukan test darah di sana saat itu memang ditemukan kasus HIV yang tidak kecil.

Dokter yang bertugas di Mappi, Giovanny Tanudjaja kepada SP, pekan lalu di Mappi mengatakan, tiga puskesmas dipersiapkan sebagai puskesmas untuk menangani masalah HIV, yaitu Puskesmas Senggo, Puskesmas Bade, dan Puskesmas Eci, namun karena petugas tidak ada, maka semua pemeriksaan HIV dipusatkan di Klinik Terpadu Penyakit Infeksi di RUSD Kepi.

“Kendala terbesar tidak dilakukannya pencarian penderita secara aktif karena keterbatasan tenaga dan dana. Jadi, yang ada hanya  pemeriksaan secara sukarela. Padahal, tak banyak warga yang mau datang untuk melakukan pemeriksaan dengan kesadaran sendiri. Itu kendala yang kita alami di Mappi, padahal penyebaran HIV ini cukup mengkhawatirkan,” kata dokter, yang sebelumnya melayani di Klinik Terpadu Penyakit Infeksi.

Dikatakan, tahun 2006-2010, pernah dilakukan zero survey untuk mengetahui data pasti penderita HIV/AIDS. Demikian juga Program Save Papua digelar untuk sosialisasi bahaya HIV/AIDS.

Sebelumnya, Gubernur Papua Lukas Enembe dalam satu kesempatan mengatakan, perlu gerakan massal untuk menghadapi HIV/AIDS di Papua.

“Masalah HIV/AIDS harus ditangani secara khusus. Saya ingin menegaskan, kita harus melalukan gerakan massal untuk menghentikan penyakit ini, kalau tidak kemusnahan akan terjadi,” katanya seperti dilansir suarapembaruan.com.

Generasi Papua, menurut dia, akan habis, bukan karena dibunuh, tetapi karena penyakit. “Kami meminta kepada semua pihak agar terus menyuarakan bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat. Ini untuk menyelamatkan orang Papua sehingga tidak ada kesan meninggalkan warisan leluhur negeri ini kepada yang bukan pemiliknya,” katanya.

Provinsi Papua termasuk daerah yang tertinggi dalam jumlah HIV/AIDS sehingga telah menjadi wilayah dengan status epidemic. “Kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan. Kenyataan ini menjadi beban yang harus kita pikirkan bersama, agar kita dapat menyelamatkan masyarakat Papua agar tidak menuju kepunahan,” katanya prihatin.

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Pembangunan katedral bersejarah di Singapura masih butuh dana
  2. Romo Magnis: Pemeluk agama tak sama dengan pendukung bola
  3. Umat Katolik Paroki Santa Clara merindukan gereja
  4. Kehadiran minoritas harus memberi arti bagi mayoritas
  5. Tanggapan Gereja Katolik Asia terhadap Laudato si' dalam mengatasi perubahan iklim
  6. Umat Katolik di Tiongkok desak bebaskan uskup lansia yang sakit dan lama dipenjara
  7. TV María akan menampilkan acara untuk anak-anak, orang muda
  8. Kardinal Hong Kong: Ia tidak diundang ke Sinode tentang Keluarga
  9. Para uskup AS belajar isu migran di Malaysia
  10. Cendikiawan Muslim: Pemerintah harus mengambil langkah pemblokiran situs radikal
  1. Umat Katolik menyerukan kanonisasi mantan uskup agung Dhaka
  2. OMK Kamboja dan Laos rayakan Hari Kaum Muda pertama
  3. Pembangunan katedral bersejarah di Singapura masih butuh dana
  4. Umat Katolik Paroki Santa Clara merindukan gereja
  5. Sekolah di Timor Leste masih berjuang dengan kebutuhan dasar
  6. Gereja Katolik dukung aksi mogok nasional pekerja di India
  7. Gereja: UU Ras dan Agama Myanmar bisa menimbulkan perpecahan
  8. Cendikiawan Muslim: Pemerintah harus mengambil langkah pemblokiran situs radikal
  9. Tanggapan Gereja Katolik Asia terhadap Laudato si’ dalam mengatasi perubahan iklim
  10. Umat Katolik di Tiongkok desak bebaskan uskup lansia yang sakit dan lama dipenjara
  1. Kapan Tiongkok itu jadi negera yang normal - sehat lahir batin?...
    Said on 2015-09-03 08:54:00
  2. Tentu saja kesibukan sebatas Liturgi - Altar, perlu diimbangi dengan ketegasan p...
    Said sani@ on 2015-08-21 11:51:00
  3. Silahkan baca di teks ini selengkapnya...terima kasih.. http://www.mirifica.net...
    Said on 2015-08-19 14:30:00
  4. “Dalam perjalanan ke depan, Gereja Katolik memandang bahwa pemerintah dan para p...
    Said kristiadjirahardjo on 2015-08-17 10:55:00
  5. Undangan kepada Bapa Suci dr Menag unt berkunjung ke Indonesia,tentu sangat meng...
    Said tarcisius fenfat on 2015-08-15 10:51:00
  6. Menuju keteraturan......
    Said on 2015-08-14 16:46:00
  7. Baik sekali kalau Bpk Menteri kunjung ke Vatikan.....
    Said on 2015-08-14 16:45:00
  8. Salut kepada menteri agama t ksi atas upayanya utk mengundang bp paus franciskus...
    Said Eduardus on 2015-08-13 13:29:00
  9. Roma 10:9: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan...
    Said mietiaw69 on 2015-07-29 14:34:00
  10. Pemerintah terus mengundang investor - dan tentu akan memberi izin untuk itu. S...
    Said on 2015-07-29 07:50:00
UCAN India Books Online