UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Komnas Perempuan minta PBB bantu atasi masalah kekerasan seksual

17/10/2013

Komnas Perempuan minta PBB bantu atasi masalah kekerasan seksual thumbnail

 

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) meminta agar Pelapor Khusus PBB untuk Kekerasan Terhadap Perempuan datang ke Indonesia, menyusul meningkatnya kekerasan seksual yang menurut mereka setidaknya 20 perempuan lintas usia menjadi korban setiap hari.

“Korbannya dari bayi hingga lansia, tapi kecenderungan berdasarkan catatan kami pada 2013, sasaran usia 13-18 tahun meningkat”, kata Yuniyanti Chuzaifah, ketua Komnas Perempuan kepada ucanews.com, Rabu (16/10).

Ia menjelaskan, kehadiran PBB bertujuan memantau lebih dekat dan mencari solusi untuk mencegah dan menangani kasus kekerasan yang sistemik dan sistematis.

“Upaya yang akan dilakukan PBB antara lain memastikan ada hukum yang responsif atas pola-pola kekerasan terhadap perempuan.”

Kasus kekerasan terakhir menimpa seorang bayi 9 bulan yang diduga mengalami kekerasan seksual pada Jumat (11/10) dan saat ini kasusnya sedang ditangani polisi.

Menururt Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak), hasil visum terhadap jenazah AA, inisial bayi itu, menunjukkan adanya luka di kemaluan dan duburnya.

“Ia diduga menjadi korban pencabulan. Hanya pelakunya belum pasti, siapa”, ungkapnya.

Selain itu sebelumnya, Nur Halimah (21), aktivis perempuan yang dikenal sebagai pegiat sekolah Perempuan Mahardhika di Makasar, juga tak luput jadi korban kekerasan seksual. Ia ditemukan tewas bersimbah darah, Rabu (9/10) lalu dan berdasarkan informasi Tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Bhayangkara Makassar ditemukan belasan luka tikam di sekujur tubuh korban.

Asrul, pelaku, mengatakan, pembunuhan tersebut dilakukan lantaran ia merasa cemburu dengan pacar Nur Halimah ketika kerap kali melihat mereka berduaan. Ia juga menyampaikan pengakuan mengejutkan, yaitu memperkosa Nur Halimah, saat korban tidak bernyawa lagi.

“Saat itu dia sudah tidak bergerak pak. Setelah melakukan, saya menguncinya di kamar mandi lantai dua, lalu meninggalkannya,” katanya di hadapan penyidik kepolisian, Kamis (10/10), sebagaimana dilansir sindonews.com.

Merespon fakta-fakta ini, selain meminta keterlibatan PBB, Komnas Perempuan juga menyerukan agar masyarakat mendorong DPR memprioritaskan pembuatan UU Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan, khususnya kekerasan seksual.

Temuan Komnas Perempuan, dari 15 pola-pola kekerasan seksual, baru 3 yang dikenali dalam UU, yaitu perkosaan, pencabulan dan perdagangan manusia untuk tujuan eksploitasi seksual. Padahal, masih ada jenis kekerasan lain yang seharusnya masuk dalam UU, seperti prostitusi paksa, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan perkawinan dan pemaksaan kontrasepsi.

“Pasca dibuatnya UU dipastikan ada kebijakan dan support system bagi korban untuk akses pengaduan yang ramah terhadap korban, pemulihan korban dengan dukungan integratif dari keluarga, komunitas dan negara”.

Secara umum, tingkat kekerasan terhadap perempuan di Indonesia meningkat drastis terutama dari tahun 2011 yang hanya berjumlah 119.107 kasus, meningkat menjadi 216.156 kasus pada 2012. Kenaikannya menjadi hampir 2 kali lipat (181%).

Komnas Perempuan juga merekomendasikan pihak penegak hukum, agar bekerja maksimal. “Kepolisian harus sigap usut tuntas, jaksa bantu penuntutan maksimal, hakim putuskan perkara dengan cepat dan cermat, serta mengupayakan pemulihan korban disamping pemidanaan pelaku”.

Sementara itu, beberapa waktu lalu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar meminta aparat penegak hukum, terutama polisi harus memiliki pemahaman soal gender guna mempermudah penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Jika polisi memiliki pemahaman gender maka penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak juga makin mudah ditangani,” kata Linda Amalia Sari Gumelar di Jakarta, usai memberikan pembekalan kepada polisi muda di Jakarta, Senin (3/6).

Menurut dia, salah satu upaya yang dilakukan pihaknya dalam meningkatkan pemahaman gender di kalangan aparat kepolisian adalah dengan memberikan pembekalan materi kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) – Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Ryan Dagur, Jakarta

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Romo Budi gelar konser amal untuk pembangunan pusat pastoral
  2. Umat Kristiani India mengungkapkan keterkejutan terkait serangan gereja
  3. Paus desak dunia bertindak menyusul tragedi Mediterania
  4. Keadilan sulit dipahami terkait pembunuhan para aktivis lingkungan
  5. Politisi Hong Kong berkomentar 'rasis' terhadap PRT
  6. Sikap PMKRI tak hadiri undangan Watimpres dapat sanjungan
  7. Penganiayaan orang Kristen di Zhejiang lebih parah dari data sebelumnya: China Aid
  8. Otoritas Malaysia desak pemimpin Gereja memasang kembali salib
  9. Para uskup Filipina minta KWI membantu Mary Jane
  10. Ribuan umat Katolik Medan doakan kelancaran KAA
  1. Keluarga dan diplomat ajukan PK terakhir untuk menyelamatkan terpidana mati kasus narkoba
  2. NIIS dan Janji Surga
  3. Gereja Armenia memberikan gelar orang kudus korban genosida
  4. Renungan Hari Minggu Paskah IV bersama Pastor Bill Grimm
  5. RUU kontroversial Myanmar akan berdampak buruk bagi perempuan dan minoritas
  6. Presiden Jokowi tutup KAA, kecam terorisme atas nama agama
  7. Sikap PMKRI tak hadiri undangan Watimpres dapat sanjungan
  8. Asia-Afrika nyatakan perang terhadap narkoba
  9. Jaksa agung diminta sidik pelanggaran HAM berat
  10. Menag masih persoalkan batasan agama RUU PUB
  1. Terlalu banyak TKI yang nasibnya dihukum mati. Apa gerangan yang mereka lakukan...
    Said on 2015-04-16 20:46:00
  2. Sepertinya orang "Rimba" Jambi tidak mempunyai nama lain? Tidak masuk sensus? T...
    Said on 2015-04-14 09:11:00
  3. Nasib mereka bergantung di benang sutra.. karena getolnya para jaksa penuntut......
    Said on 2015-04-11 09:21:00
  4. Menteri dalam kasus ini harus gebrak meja! Beliau terlalu manis.....
    Said on 2015-04-11 09:13:00
  5. Semoga bagi para pengungsi merasa terhibur dan perhatian dari Paus Fransiskus me...
    Said on 2015-04-09 06:01:00
  6. Kalau sampai pada vonis hukuman mati, diam saja ya, tidak perlu menentangnya....
    Said on 2015-04-03 08:59:00
  7. Apakah waktunya setiap perempuan membawa rotweiler kalau bepergian??...
    Said on 2015-04-03 08:55:00
  8. Terima kasih untuk bantuannya... semoga aman saja....
    Said on 2015-04-03 08:50:00
  9. Domba tidak bisa mengerti apa maunya serigala... Siapa menulis buku sejahat itu ...
    Said on 2015-04-03 08:43:00
  10. Yang tidak tertarik juga tidak akan membacanya.....
    Said on 2015-04-02 15:28:00
UCAN India Books Online