UCAN Indonesia Catholic Church News
Happy Easter to all

Gereja dan Mushola kampanyekan toleransi lewat dongeng

18/10/2013

Gereja dan Mushola kampanyekan toleransi lewat dongeng thumbnail

Pak Raden mendongeng di depan anak-anak

 

Banyak cara  belajar toleransi beragama. Salah satunya lewat medium dongeng. Kegiatan mendengarkan cerita  ini dilaksanakan  warga Kramat Jati Jakarta di gereja dan mushola setempat.

Bagi Anda yang  dibesarkan  era 1980-1990-an mungkin sudah tidak asing dengan Suyadi,  akrab disapa Pak Raden. Suyadi dikenal sebagai pencipta film anak-anak serial boneka “Si Unyil” yang popular  di TVRI pada dekade 80 sampai 90-an.

Kali ini Pak Raden tidak  tampil di televisi.  Ia siap mendongeng di depan  puluhan anak yang sudah berkumpul di Gereja Kristen Pasundan (GKP), Kramat Jati, Jakarta Timur .

Meski tampil di rumah ibadah umat Kristen, puluhan perempuan berjilbab ikut hadir di aula gedung.  Salah satunya  Lili, yang mengajak anaknya berusia 3 tahun.

“Saya baru kali ini saja, tapi di RT kita itu setiap bulan itu ada, Ini kan nasional yah maksudnya tidak membawa agama jadi yah gak papa dan gak keberatan,” katanya,

Warga Muslim lainnya yang ikut hadir adalah Dewi bersama anaknya Najwa. “Bagus yah, jadi kita bisa tahu mendidik anak yang bagus dan menambah pengetahuan juga. Ini kan sekali sebulan ada Sabtu Ceria, ini pula minggu keempat. Saya gak keberatan yah, karena anak-anak bisa belajar,” kata Dewi.

Gereja ini tepatnya berada di RT 01 Kelurahan Kampung Tengah, Kramat Jati di tengah perkampungan padat penduduk.   Kegiatan mendongeng yang sudah berlangsung sejak setahun silam tersebut digelar rutin sebulan sekali.

Warga  setempat menyebutnya kegiatan ini  “Sabtu Ceria”, kata  Pendeta Magyolin,  “Aktivitas utamanya mendongeng, kalau kata warga sekitar anak-anak kita ini perlu makanan buat jiwa mereka. Tidak dengan nasihat melulu yang diberikan ke anak-anak pastinya mereka udah capek dengerin nasihat. Artinya memberikan pelajaran ke mereka lewat dongeng.”

Jika tak hadirkan tamu, Pendeta Magyolin-lah yang biasa mendongeng.  Uniknya dongeng yang ia sampaikan bertempat di mushola.

Antusiasme anak-anak

Letak mushola berada sekitar 10 meter dari Gereja  Pasundan. “Acara ini digelar setiap Sabtu keempat setiap bulan. Memang ada yang menginginkan setiap pekan tapi kan kita keluarga juga ada kegiatan lain. Nah kata Bu RT daripada kegiatannya tiap Sabtu tapi nanti tiba-tiba menghilang, mendingan setiap bulan sekali. Tidak juga dari RT 01, dari RT tetangga pun ada yang ikut yah,” jelasnya.

Kali ini kegiatan mendongeng yang dihadiri tamu spesial Pak Raden bertepatan dengan hari jadi “Komunitas Sabtu Ceria” yang pertama. “Anak-anak yang ikut kegiatan Sabtu Ceria berjumlah 30-36 anak. Tapi untuk kegiatan yang sekarang kan khusus . Jadi yang daftar ada 60-an. Kan banyak jadi kita mengambil tempat di aula gereja. Jadi anggota jemaat juga ada yang ikut.”

Acara juga dihadiri ahli dongeng, Murti Bunanta. Pak Raden yang telah sepuh duduk di kursi. Ia mendongeng sambil membuat gambar di papan tulis. “Si Gundul meskipun ngantuk tapi karena disuruh orangtuanya yah pergi juga, Ibu dari si Gundul sangat baik, ibunya memberikan satu buntelan. Ada apa yah isinya kira-kira buntelan ini? yah maka berjalan lah si Gundul, ini isinya makanan,” cerita Pak Raden.

Puluhan anak menyimak dengan khidmat. Sesekali mereka ikut tertawa mendengarkan cerita.

Lain lagi pendapat Ade, “ Wah asik kak. Ade suka denger dongeng dari ibu Pendeta ? iyah suka ikut biasanya Sabtu. Denger dongeng apa? dongeng soal ular gitu kak.”

Setelah  dongeng selesai, Pak Raden dikerubuti anak-anak dan orangtua yang  ingin foto bersama. Dari gereja, kegiatan  berlanjut ke musholla.  Sementara orang tua mereka diberikan materi seputar mendongeng  dari  ahli dongeng Murti Bunanta.

Ajarkan toleransi

Setelah selesai mendengarkan dongeng dari Pak Raden, anak-anak langsung berbaris menuju mushola untuk bermain bersama.

Ruang mushola  dipadati bocah-bocah yang masih balita hingga berusia 7 tahun.   “Apa kabar anak-anak ? Tetap Ceria…. Wah kali ini kegiatannya ada yang beda yah anak-anak, kenapa hayo tebak coba. Ada Pak Raden,” kata Pendeta Magyolin membuka acara.

Ia menuturkan kegiatan mendongeng  yang dilaksanakan  Komunitas Sabtu Ceria  merupakan program dari RT 01, Kramat Jati, Jakarta Timur.

“Awalnya, saya kan pendeta jemaat saya mutasi ke sini otomatis keluarga juga ikut. Dan rupanya sambutan di sini luar biasa yah keakraban dengan lingkungan sudah dari dulu. Ibu RT dan Pak RW setempat menanyakan program ibu dan keluarga untuk masyarakat apa? saya hanya perpustakaan kecil dan film saya sampaikan ke mereka. Mereka pun menyambut baik, awalnya kegiatan di Pastori rumah dinas saya. Namun Pak Ustadz setempat melihat anak-anak hanya duduk di lantai, jadi disarankan oleh Pak ustadz untuk pindah ke mushola,” jelasnya.

Warga setempat menyambut antusias.  Meski  segelintir warga ada yang curiga dengan maksud baik Pendeta Magyolin terang Ketua RT 01 Neng Harti. “Waktu awal pertama akan buka memang ada, ah gak mau. Tapi dengan niat yang baik awal yang baik. Akhirnya mau juga. Bahkan Pak Lurah Tengah dan Pak ustadz pun ikut pembukaan. Dengan diadakannya Sabtu Ceria ini ada yang menolak, tapi dengan inisiatif kami dan pak ustadz, di mushola saja. Oh siap. Di sini tidak ada unsur apapun dan terbuka untuk siapapun.”

“Kami ingin sekali anak-anak di warga ini pinter dan nambah ilmu. Jadi kami dengan Ibu Pendeta berkoordinasi, bu apa saja kegiatan untuk warga. Kami di sini belum ada taman bacaan dan belajar,” tambah Neng Harti.

Ketua RW 08 Jumani Sutrisno ikut berkomentar, “Tujuan kita itu supaya mendukung anak lebih ceria, daya pikirnya meningkat, supaya bergaul dengan rekan-rekannya untuk menambah wawasan. Jadi nanti sebelum masuk sekolah, mereka sudah ada gambaran nanti di sekolah seperti apa.”

Jumani bangga kerukunan dan toleransi antar umat beragama di wilayahnya terjalin harmonis. “Di sini ada gereja ada dua, mereka rukun dan damai. Sampai sekarang ada kegiatan masjid pun mereka membantu, berupa tenaga dan pikiran. Sebaliknya juga sama. Toleransi agama di sini cukup tinggi. Daerah aman, tidak ada masalah. Kita latihan di gereja pun tidak masalah,” akunya.

Kegiatan mendongeng di rumah ibadah yang digagas “Komunitas Sabtu Ceria” ikut menyatukan anak-anak dengan latar belakang agama berbeda terang warga setempat.

“Alhamdulillah bagus juga, jadi ada kegiatanlah. Gak papa kalau Musholla di pake ajah. Namanya Musholla kan punya warga jadi dari warga mana pun bisa pakai. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahunnya. Justru warga mendukung, ini sangat positif,” kata Khairullah.

Swasna Ria menimpali, “Kami ingin hubungan masyarakat dan lingkungan sama-sama membangun, jadi gak ada objek dan subjek, karena di lingkungan sekarang masing-masing waktu awal dibentuk, dari gereja ah gak mau masuk ke musholla. Yang dari musholla ah gak mau masuk ke gereja. Jadi gak ada kaya gitu. Anak-anak juga jadi mengenal tempat ibadah muslim dan Kristen.”

Ahli dongeng, Murti Bunanta sangat mendukung  kegiatan yang dibuat warga RT 01 Kramat Jati Kegiatan ini kata dia secara tidak langsung mengajarkan anak belajar toleransi dan kerukunan antar umat beragama. “Saya rasa metode seperti ini kumpul seperti ini, itu perlu digalakkan melalui mendongeng, membaca buku. Ini sangat bagus untuk keakraban masyarakat Indonesia. Tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah,” jelasnya.

Dia menambahkan orang tua sebaiknya menyelipkan pesan atau nilai-nilai toleransi beragama kepada anak-anak saat mendongeng atau dalam kehidupan sehari-hari.  Komunitas Sabtu Ceria telah memberi teladan soal ini.

Sumber: portalkbr.com

 

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Imam yang dibunuh di Suriah dipuji sebagai martir
  2. NGO desak hukuman lebih berat untuk pelaku kejahatan seksual terhadap anak
  3. Kamis Putih, Paus membasuh kaki seorang Muslim Libya dan wanita Etiopia
  4. Buku Tanpa Diskriminasi diharapkan jadi referensi capres
  5. Tahun 2030, Cina jadi negara dengan umat Kristen terbanyak di dunia
  6. KPK: Perempuan rentan godaan birokrasi bobrok
  7. Pesan 'Urbi et Orbi' Paus Fransiskus pada Hari Raya Paskah 2014
  8. Ribuan umat Islam hadiri deklarasi anti-Syiah di Bandung
  9. Tim delapan kardinal mulai membahas lagi reformasi
  10. Presiden ucapkan selamat Paskah
  1. NGO desak hukuman lebih berat untuk pelaku kejahatan seksual terhadap anak
  2. Umat Katolik Papua Nugini menghormati misionaris pertama
  3. Hari Bumi, pemuka agama jadi kunci pelestarian lingkungan
  4. Imam anti-nuklir berjuang jadi anggota parlemen
  5. Buku Tanpa Diskriminasi diharapkan jadi referensi capres
  6. KPK: Perempuan rentan godaan birokrasi bobrok
  7. Tahun 2030, Cina jadi negara dengan umat Kristen terbanyak di dunia
  8. “Keselamatan akan segera datang kepada saya,” tulis Asia Bibi dari balik jeruji besi
  9. Pesan ‘Urbi et Orbi’ Paus Fransiskus pada Hari Raya Paskah 2014
  10. Mendikbud tutup TK JIS
  1. hmmm..semoga saja isa di tata dengan baik oleh pengurus dengan di bantu pemerint...
    Said kornelius,.. on 2014-04-19 09:49:00
  2. Setuju Romo....rakyat butuh media untuk bisa benar-benar mengenal calon presiden...
    Said Fransisca Ninin Nilamsari on 2014-04-17 19:59:00
  3. Ternyata anak2 ke sekolah tetap harus dijaga orang tua atau utusannya. Sekolah,...
    Said on 2014-04-17 08:02:00
  4. Niat baik dan bersahabat patut disambut baik dan dihargai. Mengapa tidak disebu...
    Said on 2014-04-17 07:45:00
  5. Setuju Romo, kita membutuhkan Pemimpin yang sungguh-sungguh memiliki komitmen un...
    Said Wahyu Handoko Yulianto on 2014-04-17 06:50:00
  6. Terima kasih Mgr. Koo. Kisah hidup yang menjadi inspirasi bagi kami utk memperta...
    Said corry on 2014-04-10 12:42:00
  7. Ria: sy jg geram dengan tindakan mantan pastor ini, yg akhirnya membuat nama Ger...
    Said corry on 2014-04-10 12:27:00
  8. Dimana2 orang Kristen dianiaya, dikambinghitamkan dgn alasan ini itu yg tdk terb...
    Said Corry on 2014-04-10 11:48:00
  9. Aneh negeri ini jg presiden odong2. Ini bukan negara muslim, shg seenaknya mener...
    Said Corry on 2014-04-10 11:41:00
  10. Metode blusukan memang telah dilakukan oleh Yesus dan juga para nabi, sehingga p...
    Said Hadrianus Wardjito on 2014-04-07 20:47:00
UCAN India Books Online