UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Buruh migran menghadapi pelecehan dan pemerasan polisi

22/10/2013

Buruh migran menghadapi pelecehan dan pemerasan polisi thumbnail

 

Di kota pelabuhan Thailand tengah, Samut Sakhon, para buruh migran Myanmar yang datang mencari nafkah sering menjadi mangsa polisi yang korup, suap dan memaksa para migran tersebut menyerah penghasilan mereka.

Pada Sabtu malam baru-baru ini, polisi Thailand melakukan razia di jalan-jalan utama Samut Sakhon, menghentikan, menggeledah dan menahan puluhan migran. Polisi meminta mereka memperlihatkan paspor dan dokumen lain. Bila mereka tidak memiliki dokumen tersebut para migran dipaksa untuk membayar denda atau menghadapi deportasi.

Beberapa orang yang berbicara kepada ucanews.com mengatakan mereka sering ditangkap meskipun mereka memiliki dokumen.

Marcu, 20, dari Kawthaung, Myanmar, mengatakan dia kembali ke kampung halamannya setelah hanya delapan bulan di Thailand, harapannya untuk kehidupan yang lebih baik gagal akibat sering ditangkap polisi Thailand.

Buruh pabrik itu, yang membawa paspor dan dokumen lain, mengatakan ia tidak bisa menyimpan atau mengirim uang ke rumah karena denda berat ia telah membayar polisi untuk dirinya dan teman-temannya yang ditangkap.

“Kami telah mengadu (ke polisi), ‘kenapa Anda menangkap kami?” Tapi, polisi mengatakan, ‘mari kita bicara di kantor polisi,’” katanya saat penangkapan pertamanya.

Di kantor itu, Marcu mengatakan, polisi menawarkan dia dan dua teman dengan pilihan: membayar 5.000 baht (sekitar US $ 160) per orang, atau ditangkap dan kemudian dideportasi.

Marcu, seperti migran lain berbicara dengan ucanews.com meminta agar hanya nama pertamanya disebutkan, mengatakan dia berpenghasilan sekitar 300 baht per hari untuk pekerjaannya di sebuah pabrik aluminium.

Migran lain berbagi dengan ucanews.com bulan ini di Marist Center for Migrant mencerminkan sejumlah laporan yang dirilis baru-baru ini oleh sebuah LSM internasional, yang merinci pelanggaran HAM terhadap buruh migran di Provinsi Samut Sakhon.

Dalam sebuah laporan yang dirilis bulan lalu oleh Environmental Justice Foundation, berbasis di Inggris, pelanggaran HAM yang didokumentasikan di kalangan buruh migran di industri seafood Samut Sakhon, termasuk perdagangan manusia, pemotongan gaji, dan kerja ijon.

“Polisi Thailand … sering memperlakukan migran – baik berdokumen maupun tidak berdokumen – pelecehan, pemerasan dan penangkapan,” kata laporan itu.

Dalam laporan  Global Slavary Index tahun 2013 menyatakan Thailand memiliki 450.000-500.000 orang yang hidup dalam kondisi perbudakan, dengan korban sebagian besar adalah migran dari negara-negara sekitarnya termasuk Myanmar.

Tingkat pengangguran yang rendah di Thailand telah mengakibatkan kekurangan tenaga kerja diisi oleh 3,1 juta buruh migran. Laporan itu mengatakan sumber daya yang memadai membuat buruh migran rentan terhadap eksploitasi. Industri makanan laut, khususnya, telah terlibat dalam penyalahgunaan pekerjaan, tenaga kerja seperti kerja paksa dan perdagangan, demikian laporan yang dirilis pada 4 Oktober oleh Walk Free Foundation yang berbasis di Australia.

Pastor Albert Pho Kwah, seorang imam asli Myanmar dan pastor pendamping rohani St. Anna Catholic Center for Migration, mengatakan ada ketakutan umum di kalangan para migran bahwa mereka akan ditahan dan didenda oleh polisi setiap saat mereka meninggalkan rumah mereka.

Dia mengatakan sebagian besar dari 500 umat Katolik Myanmar di bawah pelayan pastoral memiliki paspor dan izin kerja, namun mereka masih mengalami razia oleh polisi. Beberapa migran juga telah menjadi korban pemukulan oleh preman.

“Salah satu umat Katolik yang datang ke sini setelah bekerja di sekitar sekelompok gang motor. Para pria itu menyerangnya dan mengambil uangnya,” kata Pastor Kwah.

“Dia tidak tahu siapa orang-orang ini atau mengapa mereka menyerangnya,” tambah imam itu.

Di bulan-bulan sebelumnya, Pastor Kwah mengatakan mereka sedang menunggu angkot untuk pergi ke gereja dan mereka dipaksa oleh polisi untuk membayar 500 baht, yang mengakibatkan mereka tidak hadir Misa.

Dia mengatakan situasi membaik baru-baru ini setelah sebagian besar umat Katolik yang membawa semua dokumen yang diperlukan.

Sumber: Myanmar migrants face never ending police harassment

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Relikwi St. Yohanes XXIII dan Relikwi St. Yohanes Paulus II berkunjung ke Thailand
  2. Ratusan mahasiswa tolak transmigrasi di Kalimantan
  3. Kelompok HAM Filipina desak PBB menyelidiki 110 kasus penyiksaan
  4. Dalam Misa di Vatikan, Paus Fransiskus prihatin dengan nasib warga Rohingya
  5. Gereja: Pemerintah Modi mulai memperhatikan terkait serangan terhadap minoritas
  6. Ribuan anak Kamboja terlantar akibat ibu mereka dipenjara
  7. Para uskup puji Filipina menyambut pengungsi Rohingya
  8. Paus menyerukan umat Katolik Tiongkok untuk tetap menjaga kesetiaan mereka
  9. Presiden Xi desak agama-agama di Tiongkok menghindari pengaruh asing
  10. Pengadilan Pakistan mendakwa 106 pembunuh pasangan Kristen
  1. Ribuan anak Kamboja terlantar akibat ibu mereka dipenjara
  2. Gereja: Pemerintah Modi mulai memperhatikan terkait serangan terhadap minoritas
  3. Kelompok HAM Filipina desak PBB menyelidiki 110 kasus penyiksaan
  4. Gereja Katolik terus membantu para korban gempa di Nepal
  5. PM Malaysia ‘sangat prihatin’ dengan kuburan massal diduga imigran gelap
  6. Relikwi St. Yohanes XXIII dan Relikwi St. Yohanes Paulus II berkunjung ke Thailand
  7. Daniel Mananta dan Sandra Dewi ikut peresmian kapel yang mereka bangun di Flores
  8. Gereja menentang otoritas Zhejiang terkait kampanye pembongkaran salib
  9. Biarawati Katolik luncurkan kampanye untuk membantu pengungsi Rohingya
  10. Orangtua Rohingya di kamp pengungsian cemas terkait berita anak-anak mereka yang hilang
  1. Ya... mengapa tidak? Waktunya "rise and shine"......
    Said on 2015-05-19 08:35:00
  2. Malaysia, Indonesia berlomba membuang migran, ya? Saya bayangkan dipantai laut a...
    Said on 2015-05-19 08:31:00
  3. Sudahlah, jangan (dikirim) bekerja luar negeri, mereka biar di Indonesia, bekerj...
    Said on 2015-05-19 08:16:00
  4. Selamat bekerja. Bersyukur terpilih karena kesempatan untuk menempah diri menjad...
    Said Martin Teiseran on 2015-05-19 04:48:00
  5. Iya, bagaimana ini, televisi begitu "leko"nya memberitakan dan meng-interview ur...
    Said on 2015-05-13 20:53:00
  6. Merupakan masalah bagi migran maupun negara penampung. Bagaimana menerima orang...
    Said on 2015-05-13 07:04:00
  7. Jika membangun rumah, sisihkan tanah untuk taman dan resapan air, tanami satu, ...
    Said on 2015-05-12 19:15:00
  8. Raul harus cepat saja kembali... beliau sudah lansia......
    Said on 2015-05-12 07:07:00
  9. Datang dari Jakarta tentu harus bawa kado.. Lain kali ke Papua saya harap mereka...
    Said on 2015-05-12 06:58:00
  10. Ada baiknya dalam bulan Mei kita berdoa melalui Ratu Segala Bangsa, untuk perlin...
    Said on 2015-05-12 06:49:00
UCAN India Books Online