UCAN Indonesia Catholic Church News
LA CIVILTÀ CATTOLICA

Gubernur pro kaum miskin ‘tampil beda’ di Jakarta

25/10/2013

Gubernur pro kaum miskin ‘tampil beda’ di Jakarta thumbnail

 

Selama 35 tahun, Aminudin tinggal di sebuah gubuk kecil di Tanah Tinggi, salah satu kawasan kumuh di Jakarta Pusat. Dari memilah-milah sampah, lalu menjual botol, kardus, kaleng bekas dan besi tua, ia mendapat penghasilan sekitar 15.000 rupiah sehari.

Ia memiliki 4 anak, tiga di antaranya telah lulus SD dan memilih tidak melanjutkan pendidikan. “Sekarang mereka bekerja seperti saya,” katanya.

Anak bungsunya kini masih SD dan kadang ikut bersamanya memungut barang-barang bekas.

Uang yang mereka kumpulkan hanya cukup untuk kebutuhan makanan, tidak untuk memenuhi kebutuhan lain, seperti pendidikan menengah bagi anak-anaknya, juga untuk  perawatan kesehatan.

Kini, jumlah warga miskin di Jakarta sekitar 3,3 juta orang – berdasarkan kategori Bank Dunia, yang termasuk dalam kelompok miskin berpenghasilan di bawah 20 ribu rupiah sehari.

Beban hidup yang mereka hadapi, tampaknya akan menjadi lebih ringan, setelah tahun lalu, Joko Widodo, sosok pemimpin yang peduli dengan kaum miskin telah muncul dan hingga kini, menghasilkan sejumlah terobosan kebijakan yang berpihak pada warga miskin. Ia hadir di tengah keprihatinan terhadap banyaknya politisi yang kerap identik dengan sifat korup dan tidak kompeten.

Sejak terpilih pada Oktober tahun lalu, gubernur yang biasa dipanggil Jokowi ini telah merealisasikan janjinya memberi layanan kesehatan gratis lewat Kartu Jakarta Sehat (KJS). KJS memungkinkan semua warga Jakarta dapat mengkases gratis pelayanan di puskesmas dan rumah sakit yang telah ditunjuk pemerintah.

“Sebelum mendapat  KJS, saya sering membeli obat dari kios-kios. Saya tidak pernah pergi ke rumah sakit. Sekarang, sudah bisa. Semuanya gratis,” kata Aminudin.

Warga Jakarta umumnya merasa dekat dengan Jokowi, hal yang belum pernah terjadi dengan gubernur Jakarta sebelumnya.

Pria berusia 52 tahun itu sering terlihat turun ke jalan, di tengan lalu lintas kota yang carut marut. Ia berdiri sejenak, menyapa dan mendengarkan warganya. Gayanya ini dikenal dengan blusukan.

Mantan Walikota Solo, Jawa Tengah itu, yang adalah salah satu nominator Walikota Dunia Terbaik 2012, mengatakan, blusukan membantunya memahami masalah dan menemukan solusi.

Selain KJS, program andalan lainnya adalah Kartu Jakarta Pintar (KJP). Lebih dari 50.000 siswa dari keluarga miskin sudah memiliki KJP. Dengan kartu ini, mereka mendapat dana 240 ribu rupiah sebulan untuk membeli buku, seragam sekolah, alat tulis, uang transportasi dan bahkan makanan tambahan.

Tapi gubernur mantan pebisnis kayu itu, tidak selalu bebas dari kritik.

Azaz Tigor Nainggolan, Ketua Forum Warga Jakarta  adalah salah satu yang skeptis dengan Jokowi.  Ia mengatakan, yang dilakukan Jokowi biasa-biasa saja. “Blusukan bukan hal baru. Ini juga dilakukan oleh pejabat publik lain. Hanya mungkin intensitasnya, dia (Jokowi) lebih banyak”, katanya.

Selain itu, kata Nainggolan, sejumlah program Jokowi, seperti KJS dan KJP hanya melanjutkan program yang sudah dicanangkan gubernur sebelumnya. “KJS ini kan asal mulanya Gakin, lalu KJP itu Program Pendidikan Gratis.”

Skeptisisme untuk tokoh politik seperti Jokowi mudah dimengerti, mengingat sejarah panjang penyalahgunaan jabatan politik dan kronisme di Indonesia. Dan, merupakan hal langkah bagi politisi dimanapun di dunia yang popularitasnya tinggi, setelah mereka baru menduduki kursi jabatan.

Tentu saja, kinerja Jokowi belum bisa dianggap sukses semua. Hanya waktu yang akan menjawab apakah ia dapat mempertahankan model kepemimpinannya, yang dianggap menunjukan banyak aspek positif.

Namun,yang jelas, upayanya untuk semakin dekat dengan rakyat telah membuatnya tampil beda, dibandingkan dengan figur lain yang menjadi gubernur sebelumnya.

Keunggulan lain Jokowi adalah membangun kepercayaan dengan warga Jakarta.

Hal ini tampak misalnya, bagaimana hampir seribu Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di sepanjang jalan sekitar pasar tekstil Tanah Abang, Jakarta Pusat bersedia, ketika ditawarkan untuk pindah ke gedung pasar terdekat, Blog G. Ini merupakan bagian dari langkah Jokowi mengatasi masalah kemacetan yang parah di wilayah itu.

Di masa lalu, penggusuran dilakukan demi pembangunan pusat perbelanjaan, seperti mal, dan kerap terjadi bentrok antara PKL dengan petugas keamananan. Tapi, kali ini PKL tampaknya memahami masalah yang ingin diatasi Jokowi.

“Meskipun jumlah pembeli di sini (Blog G) tidak begitu banyak, tapi kami merasa nyaman,” kata Rahmawati, yang telah selama 10 tahun menjual pakaian batik di jalan.

Sekarang, ia mendapat penghasilan satu juta rupiah per bulan, kurang dari penghasilan sebelumnya yang mencapai hingga dua juta. Tapi, katanya, selama berjualan di jalan, setiap hari mereka harus membayar jasa keamanan kepada para preman dan menyewa tempat jualan dua juta rupiah setahun.

Sejumlah terobosan kebijakan Jokowi juga membuat warga di luar Jakarta yang tidak mendapatkan manfaat dari kebijakannya, memilih mendukungnya.

Sebuah survei yang dilakukan pada April lalu oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan, 28,6 persen dari 1.635 responden di 31 dari 34 provinsi di Indonesia menganggap Jokowi sebagai calon yang paling layak untuk menjadi presiden pada pemilu tahun depan.

Boni Hargens, pengamat politik dari Universitas Indonesia menilai, yang membuat Jokowi mendapat simpati publik, karena ia mengembalikan politik kepada rakyat sebagai tuannya.

“[Karena itu], ia tampaknya menjadi alternatif tunggal pemimpin masa depan,” katanya.

Ryan Dagur, Jakarta

Sumber:  Pro-poor governor makes a difference in Jakarta




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Kebencian berakar pada dosa kemalasan
  2. Pengadilan Filipina lamban memutuskan nasib Mary Jane
  3. Aborsi bayi perempuan terus menghantui Nepal
  4. Wartawan Vatikan protes mahalnya tiket untuk terbang bersama Paus
  5. Seorang imam di Cina diadili tanpa ada putusan
  6. Umat Katolik ikut protes menentang rudal Korea Selatan
  7. Imam ini menuduh pemerintah mengincar aktivis Filipina
  8. Kecurigaan atas terpilihnya Carrie Lam jadi pemimpin Hong Kong
  9. Suster yang dibunuh di India ini akan segera dibeatifikasi
  10. Paus minta calon penerima Krisma agar tidak lakukan ‘bully’
  1. Hem, SALAM... Saya sependapat jika setiap pribadi sadar bahwa dirinya adalah ge...
    Said Egas on 2017-03-29 13:25:19
  2. Saya setuju dengan pendapat Pak Boni di atas. Keselamatan itu bukan nanti akhir ...
    Said Edelbertus Jara on 2017-03-29 11:58:49
  3. Halo.... para pakar. Jangan lupa siapa itu Gereja? kita di jaman Pasca Konsili V...
    Said Jose Baptiste on 2017-03-29 07:03:27
  4. bagaimana cara pengajuan bantuan pembangunan gereja?...
    Said TABEBALAZI on 2017-03-28 19:16:51
  5. tidak nyaman untuk Hongkong......
    Said Jenny Marisa on 2017-03-28 16:18:04
  6. Salut utk postingan ini, rupanya kerajaan Allah sangat dekat dihati jika org org...
    Said Oklan liunokas on 2017-03-28 12:52:25
  7. Bagaimana mau memperhatikan kesejahteraan umatnya, di bebera desa, umatnya dimin...
    Said Boni on 2017-03-28 06:58:45
  8. Sangat bagus untuk kami renung...
    Said Paulus Parmos on 2017-03-27 20:24:30
  9. Ini menjadi tganggung jawab semua pihak. Para tokoh di mana saja ikut bertanggun...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-03-27 15:26:32
  10. kesejahteraan fisik, material, harus diperhatikan oleh permerintah. Upaya gereja...
    Said Jenny Marisa on 2017-03-27 10:50:35
UCAN India Books Online