UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Caleg Kristiani harus rangkul komunitas lain bila ingin meraih banyak suara

26/11/2013

Caleg Kristiani harus rangkul komunitas lain bila ingin meraih banyak suara thumbnail

Romo Antonius Benny Susetyo (kiri) dan Jeirry Sumampouw (kanan)

 

Pemilu legislatif masih lima bulan lagi, namun para calon legislatif (caleg) Kristiani (Katolik dan Protestan) sedang berjuang dengan berbagai cara untuk merangkul para pemilih non-Kristiani.

Stefanus Asat Gusma, seorang aktivis anti-korupsi yang akan bersaing untuk meraih salah satu dari 560 kursi di DPR RI, mengatakan strategi kampanyenya tentang anti-korupsi merupakan isu yang menarik bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya di kalangan Kristiani.

Korupsi menjadi sorotan dimana para politisi, pejabat pemerintah dan hakim sering ditangkap atau mengundurkan diri di tengah penyelidikan terkait kasus korupsi dan suap.

Pada Oktober, ketua Mahkamah Konstitusi ditangkap karena menerima suap untuk menyelesaikan sengketa pilkada.

Gusma, salah satu caleg dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), mengatakan ia telah mendirikan sebuah posko di Dapilnya di Jawa Tengah sebagai basis kampanye dan menampung berbagai aspirasi dari masyarakat.

Ia mengatakan transparansi anggaran dan memerangi korupsi menjadi perjuangannya dengan merangkul kelompok atau komunitas lain.

“Saya tahu para pemilih Kristen jumlahnya sangat kecil. Jadi saya harus keluar dari komunitas saya dan bergabung dengan komunitas lainnya,” kata Gusma kepada ucanews.com.

Umat Kristiani berjumlah sekitar 10 persen dari 250 juta penduduk Indonesia.

Pemilu legislatif di tingkat nasional dan regional dijadwalkan pada 9 April 2014. Para pemimpin Kristiani meminta para caleg Kristiani keluar dari lingkungan Gereja-gereja mereka bila mereka ingin meraih suara yang banyak.

Pastor Antonius Benny Susetyo, mantan sekretaris eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), mengatakan korupsi yang merajalela di Indonesia menjadi peluang bagi para caleg Kristiani untuk memperluas basis mereka.

“Masyarakat sudah pesimis dan muak dengan adegan politik yang ada,” kata Pastor Susetyo.

Dia mendorong caleg Kristiani untuk mengembangkan strategi “yang berorientasi pada kepentingan rakyat”, bukan untuk mencari kekuasaan.

Cara untuk memenangkan pemilu Anda harus melewati jalan yang “berduri, berbahaya, dan Anda harus memiliki keberanian dan integritas”.

Gusma, 29, ketua Obor Nusantara, sebuah organisasi yang didirikan tahun 2012 oleh aktivis politik Kristen dan Muslim untuk mempromosikan pemerintahan yang baik dan bersih.

Dia mengatakan dia telah membangun hubungan dengan organisasi atau kelompok lain termasuk Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, serta kelompok-kelompok pemuda.

Ilona Itet Tridjajati Sumarijanto, 67, terpilih menjadi anggota DPR RI tahun 2009, mewakili Lampung, sebuah provinsi yang mayoritas Muslim.

Dia mengatakan sejak menjadi caleg 2009 ia telah mendirikan sebuah posko untuk memberdayakan ibu-ibu untuk meningkatkan budaya membaca karena kualitas pendidikan juga sangat tergantung pada peran kaum ibu.

Kini ia ingin melanjutkan poskonya untuk advokasi lingkungan dan mempromosikan hak-hak perempuan dengan mencalonkan diri untuk pemilu 2014. Ini merupakan salah satu cara wanita itu merangkul pemilih dari komunitas lain.

“Jika kita ingin memenangkan suara lebih banyak, kita harus merangkul orang-orang di luar lingkungan Gereja dan berjuang untuk kepentingan umum,” katanya.

Sementara itu Sebastian Salang, pengamat parlemen mengatakan pemilu 2014 situasinya tidak ada yang lebih baik dari pemilu sebelumnya.

Menurutnya, dari 6.607 caleg di tingkat nasional semuanya tidak memberikan informasi yang memadai kepada masyarakat sehingga masyarakat belum mengetahui secara detail tentang latar belakang dan track record mereka.

Ia mengatakan, “Kini anggota DPR sedang mengalami kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Karena itu para caleg Kristiani harus memiliki kemampuan yang lebih dan mereka siap masuk dalam kubangan lumpur, siap dicerca masyarakat karena lemahnya kepercayaan publik dan mereka harus berjuang untuk menunjukkan bukti bahwa DPR itu tidak seperti dinilai publik bahwa semuanya buruk, hanya sekedar mencari kekuasaan, mencari uang, mencari proyek.”

“Inilah salib yang harus dipikul oleh caleg Kristiani kalau tidak siap pikul salib yang berat itu lebih baik mundur,” kata koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Independen (Formapi) tersebut.

Gereja secara institusi, katanya, memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong dan membekali caleg Kristiani untuk memiliki komitmen, integritas dan kepribadian.

Jeirry Sumampouw dari Forum Umat Kristen Indonesia (FUKRI), sebuah forum yang memberikan pencerahan dan pembekalan kepada para caleg Kristiani mengatakan pihaknya telah mengadakan sejumlah kegiatan untuk memberikan pencerahan kepada para caleg Kristiani.

Ia mengatakan FUKRI akan mengundang para caleg Kristiani untuk melakukan konsolidasi tentang komitmen mereka.

Selama ini sejak dibentuk tahun 2012 FUKRI telah turun ke sejumlah daerah untuk memberikan pencerahan dan pembekalan kepada para politisi Kristiani, kata Jeirry, yang juga staf Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Ia mengatakan KWI dan PGI bekerjasama memberikan pembekalan kepada para caleg Kristiani.

Konradus Epa, Jakarta

Berita terkait: Indonesia’s minority politicans seek to broaden base

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Gubernur Ahok: Banyak politikus bersaing menjual agama
  2. Alkitab dengan kata 'Allah' akan dilarang di Semenanjung Malaysia
  3. Paus Fransiskus desak masyarakat internasional bantu ribuan migran Asia
  4. Partai Komunis Tiongkok keluarkan peringatan kepada anggotanya yang menganut agama
  5. Biarawati Katolik luncurkan kampanye untuk membantu pengungsi Rohingya
  6. Gereja menentang otoritas Zhejiang terkait kampanye pembongkaran salib
  7. Ratusan biksu radikal Myanmar memprotes 'tekanan' internasioal terkait Rohingya
  8. Kardinal Myanmar menyerukan pemerintah untuk bersikap belarasa dan peduli dengan Rohingya
  9. Gereja Katolik terus membantu para korban gempa di Nepal
  10. Sektarianisme telah mengerus kebhinnekaan Indonesia
  1. Myanmar melemparkan tanggung jawab terkait krisis manusia perahu
  2. Polisi tahan peserta aksi damai di Papua
  3. Renungan Hari Raya Tritunggal Mahakudus bersama Pastor Bill Grimm
  4. PBB ingatkan Myanmar terkait empat RUU tentang ‘ras dan agama’
  5. Gubernur Ahok: Banyak politikus bersaing menjual agama
  6. Karitas kecam pembubaran ‘tidak manusiawi’ terhadap protes damai petani
  7. Jesuit Asia Selatan menekankan pentingnya rasa kepedulian terhadap Rohingya
  8. Sektarianisme telah mengerus kebhinnekaan Indonesia
  9. Para pemimpin Katolik ditahan di Tiongkok
  10. Ratusan biksu radikal Myanmar memprotes ‘tekanan’ internasioal terkait Rohingya
  1. Kalaupun bantuan itu merupakan "first aid", sudah menolong juga. Ada yang menye...
    Said on 2015-05-28 07:14:00
  2. Beberapa daerah gelombang panas. Apakah daerah lain dapat membantu dengan member...
    Said on 2015-05-28 06:51:00
  3. Apa sebabnya Cina soal agama bersikap sangat terbelakang? Tidak cocok dengan ke...
    Said on 2015-05-26 10:35:00
  4. Ya... mengapa tidak? Waktunya "rise and shine"......
    Said on 2015-05-19 08:35:00
  5. Malaysia, Indonesia berlomba membuang migran, ya? Saya bayangkan dipantai laut a...
    Said on 2015-05-19 08:31:00
  6. Sudahlah, jangan (dikirim) bekerja luar negeri, mereka biar di Indonesia, bekerj...
    Said on 2015-05-19 08:16:00
  7. Selamat bekerja. Bersyukur terpilih karena kesempatan untuk menempah diri menjad...
    Said Martin Teiseran on 2015-05-19 04:48:00
  8. Iya, bagaimana ini, televisi begitu "leko"nya memberitakan dan meng-interview ur...
    Said on 2015-05-13 20:53:00
  9. Merupakan masalah bagi migran maupun negara penampung. Bagaimana menerima orang...
    Said on 2015-05-13 07:04:00
  10. Jika membangun rumah, sisihkan tanah untuk taman dan resapan air, tanami satu, ...
    Said on 2015-05-12 19:15:00
UCAN India Books Online