UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Tanggapan Resmi Keuskupan Ruteng Terkait Berita tentang Mgr Hubertus Leteng

Oktober 5, 2014

Tanggapan Resmi Keuskupan Ruteng Terkait Berita tentang Mgr Hubertus Leteng

Mgr Hubertus Leteng

 

Berbagai informasi negatif, yang ramai beredar di media sosial pekan lalu, terkait Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng, pihak Keuskupan Ruteng, melalui Vikjennya Romo Alfons Segar telah mengeluarkan tanggapan pada 4 Oktober 2014, yang di-posting di situs Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Tanggapan tersebut juga dibacakan di gereja-gereja dan kapel-kapel di seluruh Keuskupan Ruteng.

Berikut ini isi tanggapan selengkapnya, yang di-posting oleh  Romo Kamilus Pantus, sekretaris eksekutif Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI), yang juga imam diosesan untuk Keuskupan Ruteng:

 

TANGGAPAN RESMI KEUSKUPAN RUTENG TERKAIT BERITA TENTANG BAPA USKUP RUTENG DI MEDIA SOSIAL

Dalam rangka menjawabi pertanyaan-pertanyaan umat tentang Bapa Uskup Ruteng, Mgr Hubertus Leteng, yang akhir-akhir ini ramai tersebar di media sosial, kami ingin menyampaikan hal-hal berikut:

1. Bapa Uskup Ruteng telah mengetahui dan mencermati informasi-informasi negatif tentang dirinya yang beredar di media sosial.

2. Menghadapi hal-hal itu, beliau tetap merasa tenang dan tegar karena menurut beliau hal-hal itu tidak benar. Beban penderitaan dan penghinaan akibat pemberitaan negatif itu diterimanya sebagai salib yang harus dipikul baik sebagai Uskup maupun sebagai orang beriman Kristiani.

3. Sebagai pemimpin Gereja Partikular Keuskupan Ruteng, Mgr Hubert selalu berjuang menjadi gembala umat yang sejati dan menjalankan pelayanan imamat sebagai Uskup dengan rendah hati dan penuh tanggung jawab.

4. Mgr Hubert selalu berusaha melayani sakramen-sakramen Gereja seperti Ekaristi dan pernikahan sesuai cita rasa liturgi Gereja Katolik dan prinsip hukum kanonik.

5. Dalam kaitan dengan penggunaan dana Keuskupan Ruteng, Mgr Hubert selalu melaksanakannya sesuai prinsip hukum Gereja dan manajemen keuangan yang akutanbel, transparan dan bertanggungjawab. Keuangan Keuskupan Ruteng dikelola oleh Ekonom Keuskupan dan diawasi oleh Dewan Keuangan Keuskupan Ruteng.

6. Mgr Hubert memperlakukan imam-imam dan biarawan/wati di Keuskupan Ruteng sebagai rekan-rekan yang semartabat dan berusaha menghimpun mereka bersama seluruh umat Keuskupan Ruteng dalam semangat kolegialitas sesuai dengan moto imamatnya: “Kamu semua adalah saudara” (Mt 23:8).

7. Dalam menghadapi imam-imam yang mengundurkan diri dari imamat, Mgr Hubert selalu memperlakukan mereka secara manusiawi dan dalam semangat Kristiani, mengikuti prosedur hukum Gereja dan selalu melibatkan Kuria Keuskupan dan Dewan Konsultores Keuskupan dalam pengambilan keputusan.

8. Keluarga besar Mgr Hubert telah menerima seorang anak angkat dalam upacara adat di Taga, Ruteng dan hal ini telah diberitahukan oleh Mgr Hubert kepada Duta Besar Vatikan (Nuntius) di Jakarta.

9. Kami menghimbau seluruh umat untuk tetap menjaga suasana tenang dan damai. Hendaknya kita selalu memelihara dan memperjuangkan semangat persatuan, pengampunan dan persaudaraan dalam Gereja Katolik.

10. Kami mengajak umat dan semua pihak untuk kritis dan selektif dalam menyaring informasi-informasi yang beredar di media sosial serta menggunakan media masa secara bertanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan bersama yang saling menghargai martabat satu sama lain, toleran dan menjunjung tinggi prinsip kebenaran dan kejujuran.

Marilah kita mendoakan dan mendukung Bapa Uskup, Mgr. Hubert dalam pelayanan kegembalaannya dan menyerahkan Keuskupan Ruteng ke dalam kekuatan rahmat Allah melalui dekapan kasih Bunda Maria.

Ruteng, 4 Oktober 2014

 

Vikjen Keuskupan Ruteng
Romo Alfons Segar

Sumber: mirifica.net

 

2 responses to “Tanggapan Resmi Keuskupan Ruteng Terkait Berita tentang Mgr Hubertus Leteng”

  1. Brian Susanto says:

    Sangat disayangkan, tidak dimuat apa masalah pokoknya, apa saja yang
    dituduhkan kepada Mgr Hubert. Saya tidak tahu sama sekali duduk
    persoalannya. Membaca pernyataan resmi ini, kesan yang muncul adalah
    semacam pembenaran diri. Tidak dijelaskan sejauh mana Mgr Hubert
    membuktikan dirinya benar sebagaimana dikatakan dalam pernyataan itu.

    Bukan
    berarti saya menuduh Mgr. Hubert. Sama sekali tidak. Saya hanya
    prihatin karena ketika petinggi (baik Gereja maupun Negara) mendapat
    tudingan miring, mereka hanya bisa “berasionalisasi”, tanpa pernah
    memberikan bukti. Dari rasionalisasi itu, muncul kesan lain bahwa
    penuding yang salah.

    Perlu disadari bahwa kebenaran dan kejujuran tidak hanya pada level kata-kata tapi harus menjelma dalam kenyataan.

  2. Matheus Krivo says:

    Pembuktian kebenaran jika ada proses pengadilan/tribunal. Sebagai pemimpin Gereja sudah tepat jawaban tersebut karena lebih mengarahkan umat untuk teduh. Apakah tuduhan umat benar? Apakah tepat umat harus menuduh?Sejauhmana sensitifitas semua pihak menghadapi masalah tuduhan ini? Kalau menurut saya sebaiknya semua DIAM bila tak ada sesuatu yang harus dikatakan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi